Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Ahli Gizi Blak-blakan: Target Nol Keracunan Program Makan Bergizi Gratis Itu Mustahil, Ini Fakta di Baliknya!

ahli gizi blak blakan target nol keracunan program makan bergizi gratis itu mustahil ini fakta di baliknya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah memang ambisius, bertujuan memastikan jutaan anak bangsa mendapatkan asupan gizi yang layak. Namun, di tengah euforia pelaksanaannya, sebuah pernyataan mengejutkan datang dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). Mereka secara tegas menyebut target nol kasus keracunan atau zero accident dalam program berskala raksasa ini sebagai sesuatu yang mustahil.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar, melainkan hasil dari pengamatan dan analisis mendalam terhadap kompleksitas distribusi pangan massal. Kepala Divisi Ilmiah, Kebijakan, Penelitian dan Inovasi Persagi, Marudut Sitompul, menyampaikan pandangannya di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/11/2025). Ia menekankan bahwa meskipun berbagai upaya pengawasan telah dilakukan, risiko keracunan tidak dapat sepenuhnya dihilangkan.

banner 325x300

Mengapa Target Nol Keracunan Sulit Dicapai?

Menurut Marudut, mencapai nol kasus keracunan adalah target yang tidak realistis, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mana pun di dunia, terutama untuk program dengan skala sebesar MBG. Program ini melibatkan jutaan porsi makanan yang diproduksi dan didistribusikan setiap hari, menjangkau berbagai daerah dengan kondisi logistik dan infrastruktur yang beragam. Kerumitan ini secara inheren meningkatkan potensi risiko.

Skala operasional yang masif berarti ada banyak titik rawan yang harus diawasi, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke tangan penerima. Setiap tahapan memiliki potensi kegagalan, baik karena faktor manusia, lingkungan, maupun teknis. Oleh karena itu, Persagi berharap program ini bisa berjalan dengan aman, meski target "nol" sangat sulit diwujudkan.

Upaya Pemerintah Menekan Risiko Keracunan

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah memberikan arahan khusus kepada seluruh pihak yang terlibat dalam MBG. Beliau meminta agar semua bekerja lebih teliti dan cermat demi menekan angka kejadian keracunan. Arahan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan keamanan pangan dalam program ini, meskipun tantangannya sangat besar.

Menanggapi arahan tersebut, Marudut menjelaskan berbagai langkah mitigasi yang telah dan akan diterapkan. Setiap dapur umum MBG, atau yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), diwajibkan memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat ini memastikan bahwa fasilitas pengolahan makanan memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ketat, menjadi fondasi utama dalam pencegahan kontaminasi.

Selain itu, tenaga pengolah pangan yang terlibat dalam program ini juga mendapatkan pelatihan khusus dan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Pemeriksaan ini mencakup pengecekan status food carrier, yaitu kondisi di mana seseorang tampak sehat namun membawa bibit penyakit yang bisa menular melalui makanan. Langkah ini krusial untuk mencegah penyebaran patogen dari pekerja ke makanan.

Proses penerimaan bahan makanan juga diperketat dengan pengecekan mutu yang cermat sebelum bahan diolah. Ini memastikan bahwa bahan baku yang digunakan berkualitas baik dan bebas dari kontaminasi awal. Seluruh prosedur ini dirancang untuk meminimalkan risiko dari hulu hingga hilir, membentuk sistem pengawasan yang berlapis.

Mengenal HACCP: Sistem Keamanan Pangan Unggulan

Marudut Sitompul lebih lanjut mengungkapkan bahwa seluruh prosedur tersebut pada akhirnya mengarah pada penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). HACCP adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya keamanan pangan. Ini adalah standar internasional yang diakui untuk memastikan keamanan produk makanan.

Penerapan HACCP dimulai dengan pembuatan dokumen plan atau perencanaan yang detail, mengidentifikasi potensi bahaya biologis, kimia, dan fisik pada setiap tahapan produksi. Setelah perencanaan matang, tahap berikutnya adalah implementasi di lapangan. Terakhir, dilakukan audit secara berkala untuk memastikan bahwa semua prosedur HACCP dijalankan dengan konsisten dan efektif.

Meskipun HACCP adalah sistem yang sangat kuat dan dapat memperkuat keamanan pangan secara signifikan, Marudut tetap menegaskan bahwa sistem ini tidak menjamin risiko nol insiden. HACCP bertujuan untuk mengurangi risiko ke tingkat yang dapat diterima, bukan menghilangkannya sepenuhnya. Pendekatan yang paling realistis, menurutnya, adalah terus menjaga agar operasional semakin aman seiring perbaikan sistem pengawasan yang berkelanjutan.

Data Keracunan MBG: Skala Besar, Risiko Nyata

Realitas di lapangan memang menunjukkan bahwa insiden keracunan masih terjadi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melaporkan data yang cukup mengkhawatirkan hingga November 2025. Sebanyak 11.640 penerima manfaat program MBG telah mengalami keracunan. Angka ini berasal dari 211 kejadian spesifik terkait MBG, dari total 441 kasus keracunan pangan nasional.

Dari jumlah korban tersebut, 636 orang harus menjalani rawat inap karena kondisi yang lebih serius, sementara lebih dari 11 ribu lainnya mendapatkan perawatan jalan. Data ini menjadi pengingat penting bahwa meskipun program ini berjalan dalam skala besar, risiko kesehatan tetap menjadi perhatian utama yang tidak bisa diabaikan.

Namun, penting juga untuk melihat konteks keseluruhan. Program MBG telah memproduksi sekitar 1,8 miliar porsi makanan sejak Januari hingga November 2025. Dengan jumlah porsi yang fantastis ini, sebagian besar pelaksanaannya dinilai berjalan baik dan aman. Insiden keracunan, meski signifikan, masih merupakan persentase yang sangat kecil dari total porsi yang didistribusikan. Ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi yang ada memang efektif dalam sebagian besar kasus, namun tetap ada celah yang perlu terus diperbaiki.

Masa Depan Program MBG: Antara Harapan dan Realita

Pernyataan Persagi ini bukanlah kritik yang menjatuhkan, melainkan sebuah realita yang harus dihadapi dengan bijak. Target "nol" mungkin ideal, tetapi fokus yang lebih pragmatis adalah mencapai tingkat keamanan setinggi mungkin dan terus-menerus melakukan perbaikan. Ini berarti investasi lebih lanjut dalam pelatihan, teknologi pengawasan, dan infrastruktur yang lebih baik.

Program Makan Bergizi Gratis adalah inisiatif vital untuk masa depan generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, menjaga keamanannya adalah prioritas mutlak. Dengan transparansi, evaluasi berkelanjutan, dan kolaborasi antara pemerintah, ahli gizi, serta masyarakat, risiko keracunan dapat diminimalisir, menjadikan program ini benar-benar bermanfaat dan aman bagi semua penerima manfaat.

banner 325x300