Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Donald Trump Ngamuk Lihat Fotonya di Majalah TIME: ‘Rambutku Hilang, Ada Mahkota Melayang!’

geger donald trump ngamuk lihat fotonya di majalah time rambutku hilang ada mahkota melayang portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan publik setelah meluapkan kemarahannya di media sosial. Kali ini, kemurkaannya dipicu oleh foto dirinya yang terpampang di sampul majalah TIME edisi mendatang, yang menurutnya sangat buruk dan tidak sesuai harapan. Insiden ini menambah daftar panjang perseteruan Trump dengan media massa.

Kemarahan Donald Trump di Truth Social

banner 325x300

Pada Rabu (14/10) waktu setempat, Trump langsung menyerbu platform media sosialnya, Truth Social, untuk menyuarakan kekesalannya. Ia mengklaim bahwa meskipun majalah TIME menulis cerita yang relatif bagus tentang dirinya, foto sampulnya adalah yang terburuk sepanjang masa. Pernyataan ini sontak menarik perhatian banyak pihak, mengingat reputasi Trump yang dikenal sangat memperhatikan citra dirinya.

Trump secara spesifik menuding majalah tersebut telah "menghilangkan" rambutnya dalam foto. Ia juga menyebut ada sesuatu yang aneh melayang di atas kepalanya, yang ia deskripsikan sebagai "mahkota yang mengambang, tapi sangat kecil." Keluhan ini menunjukkan betapa detailnya Trump dalam mengamati setiap aspek representasi dirinya di media.

"Sungguh aneh! Saya tak pernah suka foto dari sudut bawah, tapi ini foto yang sangat buruk dan layak menerima kritik," tulis Trump. Ia bahkan mempertanyakan motif di balik pemilihan foto tersebut, "Apa yang mereka lakukan dan mengapa?" Pertanyaan retoris ini mencerminkan rasa frustrasinya terhadap apa yang ia anggap sebagai perlakuan tidak adil.

Detail Foto Kontroversial yang Bikin Trump Murka

Foto yang dimaksud oleh Trump menampilkan dirinya dari sudut kanan bawah, sebuah angle yang memang seringkali dianggap kurang flattering. Sudut pandang ini menyoroti sebagian sisi wajahnya, kerutan di leher, serta rambut yang terlihat tipis dan memutih. Kepala Trump tampak sedikit mendongak, menambah kesan yang tidak ia inginkan.

Angle rendah semacam itu seringkali dapat mengubah proporsi wajah dan menonjolkan fitur-fitur yang mungkin ingin dihindari oleh seorang figur publik. Bagi Trump, yang selalu berusaha memproyeksikan citra kuat dan sempurna, foto ini jelas merupakan sebuah "pelanggaran" terhadap standar personalnya. Ia merasa citranya dirusak oleh pilihan visual majalah TIME.

Di Balik Sampul ‘His Triumph’: Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Majalah TIME edisi 10 November 2025 yang kontroversial ini akan mengangkat tema besar "His Triumph" (Kemenangannya). Edisi tersebut akan membahas tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintahan AS terkait kesepakatan gencatan senjata yang signifikan. Judul-judul artikel lain di sampul juga mencerminkan fokus pada isu Timur Tengah, seperti "The Leader Israel Needed" dan "How Gaza Heals."

TIME sendiri melalui akun X (sebelumnya Twitter) mereka, telah menjelaskan konteks di balik edisi ini. Mereka menulis bahwa para sandera Israel yang masih hidup dan tahanan Palestina dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata fase pertama, sebuah usulan yang diajukan oleh Trump. Ini menunjukkan bahwa artikel di dalamnya sebenarnya memberikan pujian atas peran Trump dalam diplomasi internasional.

Majalah tersebut juga mengklaim bahwa kesepakatan ini berpotensi menjadi pencapaian penting dalam masa jabatan kedua Trump, dan dapat menandai titik balik strategis bagi Timur Tengah. Ironisnya, di tengah narasi positif yang disajikan oleh TIME, fokus Trump justru beralih sepenuhnya pada citra visualnya yang ia anggap kurang sempurna. Hal ini menyoroti prioritasnya yang terkadang berbeda dari substansi berita.

Obsesi Trump dengan Majalah TIME: Sejarah Panjang di Balik Sampul

Kemarahan Trump terhadap majalah TIME bukanlah hal baru. Ia memiliki ketertarikan, bahkan bisa dibilang obsesi, terhadap majalah bergengsi ini sejak beberapa dekade lalu. Kemunculan pertamanya di sampul majalah ini terjadi pada Januari 1989, menandai awal dari hubungan yang kompleks dan penuh gejolak.

Sejak saat itu, Trump telah muncul di sampul majalah TIME lebih dari 49 kali, sebuah angka yang menunjukkan betapa seringnya ia menjadi pusat perhatian media. Majalah TIME juga pernah dua kali menobatkan Trump sebagai "Person of The Year," yakni pada tahun lalu dan sebulan sebelum ia dilantik menjadi presiden. Pengakuan ini seharusnya menjadi kebanggaan, namun tidak menghentikan kritikannya terhadap aspek visual.

Hubungan Trump dengan TIME selalu menjadi cerminan dari interaksinya yang lebih luas dengan media. Ia seringkali mengkritik media yang dianggapnya tidak adil, namun pada saat yang sama, ia sangat mendambakan pengakuan dan liputan dari mereka. Ini menciptakan dinamika yang unik dan seringkali kontradiktif dalam karir politiknya.

Reaksi Publik dan Lawan Politik: Gavin Newsom Ikut ‘Memanaskan’ Suasana

Insiden kemarahan Trump ini tentu saja tidak luput dari perhatian lawan-lawan politiknya. Gubernur California, Gavin Newsom, adalah salah satu yang paling cepat bereaksi. Di akun resminya, Newsom mengunggah foto Trump yang sama seperti di sampul TIME, namun dengan sedikit editan.

Newsom secara satir menambahkan efek piksel pada bagian leher Trump, seolah-olah menyensor atau mengaburkan bagian yang dikeluhkan Trump. Tindakan ini jelas merupakan sindiran tajam terhadap Trump dan obsesinya terhadap citra. Ini juga menunjukkan bagaimana setiap gerak-gerik Trump, sekecil apapun, dapat dimanfaatkan oleh lawan politiknya untuk keuntungan mereka.

Reaksi publik juga beragam. Banyak yang menganggap keluhan Trump sebagai bukti dari narsisme dan kesombongannya yang tak ada habisnya. Namun, ada pula pendukungnya yang mungkin merasa bahwa majalah TIME memang sengaja memilih foto yang buruk untuk merendahkan mantan presiden tersebut. Insiden ini sekali lagi memecah belah opini publik.

Pentingnya Citra dalam Politik Trump

Peristiwa ini menggarisbawahi betapa pentingnya citra visual bagi Donald Trump, bahkan lebih dari substansi berita itu sendiri. Bagi seorang politikus yang membangun merek personal yang kuat, setiap detail representasi di mata publik sangatlah krusial. Foto sampul majalah bukan hanya sekadar gambar, melainkan sebuah pernyataan visual yang dapat membentuk persepsi publik secara signifikan.

Kemarahan Trump menunjukkan bahwa ia sangat sadar akan kekuatan citra dalam politik modern. Ia tahu bahwa sebuah foto dapat berbicara seribu kata, dan ia ingin memastikan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh fotonya adalah kata-kata yang ia pilih sendiri. Insiden ini menjadi pengingat bahwa di era media visual, bahkan seorang pemimpin dunia pun bisa sangat terpengaruh oleh bagaimana ia terlihat di mata publik.

Pada akhirnya, perseteruan Trump dengan majalah TIME atas sebuah foto adalah cerminan dari pertarungan yang lebih besar: pertarungan antara seorang figur publik yang ingin mengontrol narasinya, dan media yang berpegang pada kebebasan editorialnya. Dalam politik yang semakin didominasi oleh visual dan media sosial, insiden semacam ini kemungkinan akan terus terjadi, membentuk lanskap komunikasi politik yang semakin kompleks.

banner 325x300