Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau akrab disapa Zulhas, baru-baru ini mengungkap sebuah fakta mencengangkan. Ia menyoroti bagaimana rendahnya harga gabah di masa lalu telah menjerat jutaan petani Indonesia dalam lingkaran kemiskinan. Kondisi ini membuat mereka kehilangan harapan untuk meraih kesejahteraan yang layak.
Dulu Harga Gabah Bikin Petani Merana
Bayangkan saja, dulu harga gabah setinggi-tingginya belum pernah menyentuh angka Rp5.000. Bahkan, seringkali hanya berkisar di angka Rp4.450 per kilogram. Dengan harga sekecil itu, bagaimana mungkin petani bisa produktif dan berinovasi?
Zulhas menggambarkan situasi tersebut dengan gamblang: "Miskin, iya. Pertanian itu terpaksa, tanam padi itu terpaksa, karena enggak ada pilihan." Ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah keterpaksaan yang menguras tenaga dan harapan. Petani seolah tak punya masa depan cerah, terjebak dalam rutinitas yang tak menjanjikan.
Mereka bekerja keras membanting tulang di sawah, namun hasil panen yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru tak mampu menopang kebutuhan dasar. Anak-anak mereka kesulitan mengenyam pendidikan yang layak, impian untuk memiliki kehidupan yang lebih baik pun terasa jauh panggang dari api. Kondisi ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus, di mana generasi penerus petani pun terancam mengikuti jejak yang sama.
Terobosan Kebijakan: Dari Batas Atas ke Batas Bawah
Namun, ada secercah harapan. Zulhas menceritakan momen krusial saat ia pertama kali menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Ia mengusulkan sebuah perubahan besar yang revolusioner dalam kebijakan harga gabah. Sebuah langkah berani yang berpotensi mengubah nasib petani.
Selama ini, kebijakan pemerintah justru dianggap membatasi harga maksimal pembelian gabah. Ini secara tidak langsung menghambat petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen mereka. Tidak ada insentif yang cukup kuat bagi mereka untuk berinvestasi lebih pada lahan atau teknologi pertanian.
"Saya usulkan diubah. Bukan harga gabah setinggi-tingginya, tapi serendah-rendahnya," tegas Zulhas. Perubahan filosofi ini sangat fundamental. Dari yang awalnya membatasi potensi keuntungan petani, kini bergeser menjadi jaring pengaman yang menjamin pendapatan minimal mereka.
Hasilnya? Dulu harga gabah hanya Rp4.450, kini dengan instruksi presiden, harga gabah telah ditetapkan di angka Rp6.500. Kenaikan yang signifikan ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah janji baru bagi para pahlawan pangan kita. Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah untuk mengangkat derajat petani.
Dampak Nyata: Petani Mulai Bangkit dan Berdaya
Kenaikan harga gabah ini membawa angin segar bagi petani di seluruh penjuru negeri. Kesejahteraan mereka mulai menunjukkan perbaikan yang nyata. Zulhas menyebutkan, kini petani bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp70 juta per hektare per tahun jika mereka berhasil panen dua kali. Angka ini tentu jauh lebih menjanjikan dibanding masa lalu.
Dengan pendapatan yang lebih stabil dan menguntungkan, petani kini memiliki kemampuan untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi. Mereka bisa lebih kreatif dalam mengelola lahan, mencoba varietas baru, atau bahkan mengadopsi teknologi pertanian modern. Ini adalah langkah awal menuju kemandirian dan inovasi.
"Begitu dia bisa menyekolahkan anaknya, dia bisa kreatif, dia bisa lebih produktif," kata Zulhas. Ia bahkan membandingkan potensi petani Indonesia dengan petani-petani di Thailand dan Vietnam, yang dikenal akan produktivitas dan kesejahteraannya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai level yang sama, bahkan lebih.
NTP Melonjak, Petani Bisa Angsur Motor Hingga Investasi Lahan
Indikator penting lainnya adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Zulhas menyampaikan data yang menggembirakan. NTP untuk gabah dan jagung pada tahun 2024 masih berada di angka 101, yang menandakan kondisi ekonomi petani belum sepenuhnya sejahtera. Namun, proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan lonjakan drastis menjadi 124.
Angka 124 ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerminan dari peningkatan daya beli dan kualitas hidup petani. "Artinya sekarang petani sudah bisa ngangsur motor," ujarnya. Lebih dari itu, pendapatan yang lebih baik memungkinkan mereka untuk merencanakan masa depan, memperbaiki rumah, membeli pupuk berkualitas, atau bahkan berinvestasi untuk memperbaiki lahan pertanian mereka.
Mereka tidak lagi hidup dari tangan ke mulut, melainkan memiliki kemampuan untuk menabung dan merencanakan sesuatu yang lebih besar. Ini adalah fondasi penting untuk membangun kemandirian ekonomi di sektor pertanian. Petani bukan lagi objek bantuan, melainkan subjek pembangunan yang aktif dan berdaya.
Bukan Sekadar Bansos, Ini Soal Pemberdayaan Berkelanjutan
Zulhas menekankan bahwa perubahan kebijakan harga gabah ini adalah langkah awal yang krusial dalam mewujudkan kemandirian dan pemberdayaan petani. Baginya, pemberdayaan jauh lebih penting dan berkelanjutan daripada hanya mengandalkan bantuan sosial.
"Bantuan beras, bantuan tunai itu oke, saya setuju. Tapi kan lebih bagus pemberdayaan," jelasnya. Bantuan sosial memang penting untuk mengatasi krisis jangka pendek, namun pemberdayaan menciptakan solusi jangka panjang. Rakyat yang berdaya akan lebih kreatif, produktif, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada uluran tangan pemerintah.
Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Ketika petani berdaya, mereka tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. "Nah ini yang kita lakukan. Tapi ini baru awal, belum apa-apa," tutupnya, menandakan bahwa perjalanan masih panjang.
Visi Indonesia Lumbung Pangan Dunia: Langkah Awal yang Menjanjikan
Perbincangan mengenai masa depan pangan ini digelar dalam Agri Food Summit 2025, bertepatan dengan Hari Pangan Dunia. Acara ini menjadi forum penting bagi pemerintah, akademisi, pelaku industri, serta mitra internasional untuk berkolaborasi. Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan pangan nasional dan mewujudkan visi besar Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Kebijakan harga gabah yang pro-petani ini adalah salah satu pilar utama untuk mencapai visi tersebut. Dengan petani yang sejahtera dan produktif, Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga menjadi pemain kunci di pasar pangan global. Ini adalah langkah awal yang menjanjikan menuju masa depan pangan yang lebih cerah dan mandiri bagi Indonesia.


















