Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Durand Line: Garis Berdarah yang Terus Memicu Perang Afghanistan-Pakistan, Apa Rahasianya?

durand line garis berdarah yang terus memicu perang afghanistan pakistan apa rahasianya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, yang dikenal sebagai Durand Line, kembali menjadi sorotan tajam. Bentrokan militer sengit pecah lagi akhir pekan lalu, menghidupkan kembali bara konflik yang seolah tak pernah padam di wilayah ini. Ini bukan sekadar garis di peta, melainkan simbol dari sejarah kelam dan ketegangan geopolitik yang terus membayangi dua negara bertetangga ini.

Awal Mula Konflik Terbaru

Ketegangan memuncak setelah pemerintah Afghanistan di bawah kendali Taliban menuduh Pakistan melancarkan serangan udara. Mereka mengklaim serangan itu menargetkan ibu kota Kabul dan provinsi perbatasan Paktika, memicu kecaman keras. Taliban bahkan menyebut tindakan Pakistan sebagai "serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, penuh kekerasan, dan tercela."

banner 325x300

Konflik yang bermula akhir pekan lalu ini kembali memanas pada Selasa (14/10) malam. Bentrokan sengit terjadi di distrik Spin Boldak di tenggara Afghanistan dan distrik Chaman di Pakistan, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Afghanistan menuduh Pakistan menembakkan "senjata ringan dan berat" yang menewaskan 12 warga sipil dan melukai lebih dari 100 orang.

Sebaliknya, Pakistan menuding Afghanistan sebagai pemicu awal insiden ini. Mereka mengklaim pasukan Afghanistan menembaki pos militer Pakistan dan daerah-daerah sipil di dekat perbatasan terlebih dahulu, melukai empat warga sipil. Saling tuding ini menunjukkan betapa rumit dan sensitifnya situasi di sepanjang Garis Durand.

Apa Itu Durand Line?

Durand Line adalah perbatasan sepanjang 2.600 kilometer yang memisahkan Afghanistan dan Pakistan. Garis ini membentang dari Iran di barat hingga China di timur, melewati medan pegunungan yang terjal dan wilayah suku yang kompleks. Namun, bagi banyak pihak, garis ini lebih dari sekadar penanda geografis.

Garis Durand adalah warisan kolonial Inggris yang dibuat pada tahun 1893. Tujuannya adalah untuk membatasi wilayah kekuasaan India Britania Raya dan Kerajaan Afghanistan. Ironisnya, garis ini justru menjadi sumber perselisihan abadi yang terus menghantui hubungan kedua negara hingga kini.

Sejarah Kelam di Balik Garis Durand

Sejarah Durand Line tak bisa dilepaskan dari "The Great Game," persaingan geopolitik antara Kekaisaran Inggris dan Kekaisaran Rusia di Asia Tengah pada abad ke-19. Inggris berambisi mencegah ekspansi Rusia ke selatan, menjadikan Afghanistan zona penyangga strategis. Ini memicu serangkaian konflik berdarah.

Pada tahun 1839, Inggris menginvasi Afghanistan, memicu Perang Anglo-Afghanistan Pertama yang berakhir dengan kekalahan mereka. Meskipun demikian, Inggris terus berusaha menguasai wilayah ini. Kemudian pada tahun 1849, Inggris menguasai Punjab dan mengambil alih perbatasan Sikh, rumah bagi berbagai suku, termasuk Pashtun.

Invasi kedua Inggris ke Afghanistan terjadi pada tahun 1878. Inggris berhasil mengangkat Abdur Rahman Khan sebagai emir Afghanistan dan menyepakati Perjanjian Gandmark setahun kemudian. Perjanjian ini menjanjikan perlindungan Inggris dengan syarat Afghanistan tidak mencampuri urusan luar negeri.

Puncaknya pada tahun 1893, ketika Henry Mortimer Durand bernegosiasi dengan Emir Abdur Rahman Khan. Mereka menyepakati Garis Durand sebagai batas wilayah kekuasaan masing-masing. Namun, kesepakatan ini dibuat tanpa mempertimbangkan realitas etnis dan geografis di lapangan, secara artifisial memecah belah suku Pashtun.

Mengapa Durand Line Tetap Jadi Masalah?

Salah satu alasan utama mengapa Durand Line terus menjadi "titik api" adalah karena Afghanistan tidak pernah secara resmi mengakui garis perbatasan ini. Sejak kemerdekaannya, Afghanistan selalu menganggapnya sebagai warisan kolonial yang tidak sah dan membagi-belah suku Pashtun. Jutaan etnis Pashtun tersebar di kedua sisi perbatasan, menciptakan ikatan budaya dan kekerabatan yang kuat.

Pembagian suku Pashtun oleh garis buatan ini menimbulkan masalah identitas dan loyalitas yang kompleks. Banyak Pashtun di Afghanistan dan Pakistan menganggap diri mereka sebagai satu bangsa, melampaui batas negara yang dibuat kolonial. Kondisi ini menjadi lahan subur bagi gerakan militan dan aktivitas lintas batas.

Garis Durand juga menjadi jalur strategis bagi berbagai kelompok militan, termasuk Taliban Afghanistan dan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP). Mereka sering menggunakan wilayah perbatasan yang bergunung-gunung sebagai tempat berlindung, pelatihan, dan melancarkan serangan. Pakistan menuduh Afghanistan tidak serius menumpas kelompok-kelompok ini di wilayahnya.

Upaya Pakistan membangun pagar di sepanjang perbatasan juga sering memicu ketegangan. Afghanistan menentang keras pembangunan pagar ini, menganggapnya sebagai upaya sepihak memaksakan pengakuan atas Garis Durand. Bagi Afghanistan, pagar tersebut adalah simbol pemisahan paksa dan pengkhianatan terhadap persaudaraan Pashtun.

Dampak Konflik bagi Warga Sipil

Seperti biasa, dalam setiap konflik bersenjata, warga sipil adalah pihak yang paling menderita. Bentrokan di Garis Durand seringkali menyebabkan kematian, luka-luka, dan pengungsian massal. Desa-desa di perbatasan menjadi sasaran tembak, memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka.

Kehidupan sehari-hari warga di perbatasan juga terganggu parah. Aktivitas perdagangan lintas batas yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal terhenti, menyebabkan kerugian besar. Anak-anak tidak bisa bersekolah, dan akses terhadap layanan kesehatan dasar menjadi sangat sulit. Ini adalah lingkaran setan penderitaan yang terus berulang.

Masa Depan Durand Line: Akankah Damai?

Menyelesaikan konflik di Garis Durand adalah tantangan yang sangat besar, mengingat akar sejarah dan sentimen nasionalisme yang kuat di kedua belah pihak. Pengakuan resmi atas perbatasan ini oleh Afghanistan tampaknya masih jauh dari kenyataan. Sementara itu, Pakistan terus berupaya mengamankan perbatasannya dari ancaman militan.

Dialog konstruktif dan pendekatan diplomatik yang serius sangat dibutuhkan untuk meredakan ketegangan. Namun, dengan sejarah panjang ketidakpercayaan dan kepentingan yang saling bertentangan, menemukan solusi yang dapat diterima kedua belah pihak akan menjadi tugas yang sangat sulit. Garis Durand mungkin akan terus menjadi "titik api" yang membara, menunggu percikan kecil untuk kembali menyala.

banner 325x300