Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Monster: The Ed Gein Story Dihujat Fans, Netflix Dituding Bikin Pembunuh Sadis Jadi ‘Hot’?!

monster the ed gein story dihujat fans netflix dituding bikin pembunuh sadis jadi hot portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Netflix kembali jadi sorotan, kali ini karena serial terbaru mereka, Monster: The Ed Gein Story. Musim ketiga dari antologi Monster ini baru saja dirilis pada 3 Oktober 2025, namun sudah memicu gelombang kritik pedas dari para penggemar dan penonton. Mereka menilai adaptasi kisah pembunuh berantai legendaris Ed Gein ini terlalu "urakan" dan mendramatisir fakta hingga melenceng jauh.

Kontroversi ini mencuat di berbagai platform media sosial, seperti yang dilaporkan oleh New York Post. Banyak penonton yang merasa kecewa dengan arah cerita yang diambil, terutama karena Ed Gein dikenal sebagai salah satu pembunuh paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat. Alih-alih menyajikan kengerian faktual, serial ini justru dituding terlalu banyak menambahkan elemen fiksi yang tak perlu.

banner 325x300

Kontroversi yang Memanas: Mengapa Fans Kecewa?

Salah satu poin utama yang membuat penggemar geram adalah kebebasan artistik yang dianggap "kebablasan" oleh para pembuat serial. Mereka merasa bahwa Monster: The Ed Gein Story terlalu mendramatisir kehidupan Ed Gein, bahkan sampai menciptakan alur cerita dan karakter yang tidak pernah ada dalam kenyataan. Ini tentu saja menimbulkan kebingungan dan kekecewaan bagi penonton yang mengharapkan akurasi dalam genre true crime.

"Baru saja menyelesaikan dua episode pertama Monster: The Ed Gein Story. Saya tidak tahu apa yang saya tonton. Ini benar-benar mengganggu dan aneh sekali," tulis seorang netizen, mengungkapkan kebingungannya. Kritikan lain yang tak kalah pedas datang dari penonton yang merasa Netflix "melakukan pekerjaan yang sangat buruk" karena terlalu banyak membuat-buat cerita.

Puncak kekesalan penggemar adalah tudingan bahwa serial ini seolah "membuat pembunuh paling aneh dan menjijikkan menjadi pria terseksi yang pernah Anda lihat." Karakter Ed Gein yang diperankan Charlie Hunnam, meskipun aktingnya dipuji, justru memicu perdebatan sengit tentang etika dalam mengadaptasi kisah nyata seorang pembunuh berantai. Apakah perlu seorang pembunuh sadis digambarkan dengan daya tarik fisik yang kuat?

"Mengapa mereka tidak bisa menceritakan kisah Ed Gein tanpa membuatnya rumit? Mengapa kita melompat dari masa lalu ke masa depan dan juga menambahkan karakter yang tidak ada saat Ed Gein melakukan semua kejahatan ini?" tanya penonton lain, menyoroti alur cerita yang dianggap berantakan. Mereka merasa terlalu banyak alur cerita dan periode waktu yang berbeda membuat serial ini sulit diikuti dan jauh dari esensi kisah asli Ed Gein.

Siapa Sebenarnya Ed Gein? Pembunuh Sadis yang Menginspirasi Horor Dunia

Untuk memahami mengapa kritik ini begitu tajam, penting untuk mengingat siapa Ed Gein sebenarnya. Dikenal sebagai "The Butcher of Plainfield," Ed Gein adalah seorang pembunuh berantai, pencuri mayat, dan perusak jenazah yang beraksi di Wisconsin pada dekade 1950-an. Kejahatannya bukan sekadar pembunuhan, melainkan serangkaian tindakan mengerikan yang melibatkan penggalian mayat dari kuburan, pengulitan jenazah, dan obsesi patologis terhadap tengkorak dan bagian tubuh manusia lainnya.

Ia menciptakan "perabotan" dan pakaian dari kulit dan tulang manusia, sebuah fakta yang membuat siapa pun bergidik ngeri. Kekejaman dan perbuatannya yang tak terbayangkan ini telah menjadi inspirasi gelap bagi banyak karya horor dan thriller Hollywood. Sebut saja film klasik seperti Psycho (1960) karya Alfred Hitchcock, The Texas Chainsaw Massacre (1974), hingga The Silence of the Lambs (1991) yang semuanya mengambil elemen dari kisah nyata Ed Gein.

Film-film tersebut berhasil menangkap esensi kengerian Ed Gein tanpa perlu mendramatisir secara berlebihan, menjadikannya ikon horor yang tak lekang oleh waktu. Oleh karena itu, ketika sebuah serial yang secara eksplisit mengangkat namanya justru dianggap melenceng, wajar jika penggemar true crime merasa kecewa.

Dilema Adaptasi: Antara Fakta dan Fiksi

Adaptasi kisah true crime memang selalu menjadi tantangan tersendiri. Ada garis tipis antara menyajikan fakta sejarah yang akurat dan menambahkan sentuhan dramatis untuk menarik penonton. Namun, dalam kasus Ed Gein, banyak yang berpendapat bahwa batas itu telah dilanggar terlalu jauh.

Meskipun Ryan Murphy, yang dikenal dengan gaya penceritaan dramatisnya, memilih mundur sebagai showrunner untuk musim ini, bayang-bayang gaya penceritaannya masih terasa kuat. Ian Brennan, yang kini bertindak sendirian sebagai showrunner, tampaknya melanjutkan tradisi "kebebasan artistik" yang sering dikaitkan dengan warisan Murphy. Ini menimbulkan pertanyaan besar: seberapa jauh sebuah adaptasi boleh menyimpang dari fakta demi hiburan?

Pujian untuk Charlie Hunnam, di Tengah Badai Kritik

Di tengah badai kritik yang menerpa alur cerita dan penulisan naskah, ada satu hal yang hampir disepakati oleh semua penonton: penampilan Charlie Hunnam sebagai Ed Gein. Aktor asal Inggris ini berhasil memerankan karakter penjagal dari Plainfield dengan sangat baik, bahkan menuai banyak pujian.

"Tapi harus saya akui Charlie Hunnam memberikan penampilan yang luar biasa," kata seorang netizen. Pujian ini menjadi ironi tersendiri, di mana akting brilian seorang aktor harus terganjal oleh naskah yang dianggap bermasalah. Hunnam berhasil menghidupkan karakter Ed Gein, namun narasi yang rumit dan dramatisasi berlebihan justru mengurangi dampak dari penampilannya.

Di Balik Layar Monster: The Ed Gein Story

Untuk Monster: The Ed Gein Story, Ian Brennan bertindak sendirian sebagai showrunner, setelah sebelumnya berduet dengan Ryan Murphy di dua musim pertama. Brennan juga menyutradarai dua dari delapan episode, sementara enam episode lainnya diarahkan oleh Max Winkler.

Serial ini dibintangi oleh Charlie Hunnam sebagai Ed Gein, Suzanna Son sebagai Adeline, Vicky Krieps sebagai Ilse Koch, Laurie Metcalf sebagai Augusta, dan Tom Hollander sebagai Alfred Hitchcock. Seperti dua musim sebelumnya, serial ini ditujukan untuk penonton dewasa (18+) karena berisi sejumlah adegan kekerasan dan konten yang mungkin membuat penonton tidak nyaman.

Monster: The Ed Gein Story tayang di Netflix mulai 3 Oktober 2025.

Apakah Kontroversi Akan Berlanjut?

Kontroversi seputar Monster: The Ed Gein Story ini membuka kembali diskusi penting tentang etika dalam mengadaptasi kisah true crime. Apakah prioritas utama adalah hiburan semata, ataukah akurasi dan penghormatan terhadap korban serta sejarah yang sebenarnya?

Gelombang kritik ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Netflix dan para pembuat konten lainnya. Pasalnya, penonton true crime kini semakin cerdas dan menuntut lebih dari sekadar dramatisasi. Mereka menginginkan cerita yang kuat, akurat, dan tetap menghormati kengerian yang sesungguhnya. Apakah Netflix akan menanggapi kritik ini? Hanya waktu yang bisa menjawab. Bagaimana menurutmu, apakah serial ini terlalu jauh dalam mendramatisir kisah Ed Gein?

banner 325x300