Kabar mengejutkan datang dari kancah musik Tanah Air. Band metal legendaris, Seringai, secara resmi telah menarik seluruh katalog musik mereka dari platform streaming raksasa, Spotify. Keputusan ini bukan sekadar langkah bisnis biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap yang lantang dan tegas, menolak segala bentuk afiliasi dengan dukungan terhadap peperangan.
Akar masalahnya terletak pada investasi signifikan yang dilakukan oleh CEO Spotify, Daniel Ek. Ek diketahui mengucurkan dana besar ke Helsing, sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada pengembangan drone dan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan militer. Bagi Seringai, keterlibatan dalam ekosistem yang mendukung industri perang adalah hal yang tidak bisa ditoleransi.
Wendy Putranto, manajer Seringai, tak menampik kabar ini. Ia menegaskan bahwa seluruh personel Seringai dan karya-karya mereka menolak keras untuk terafiliasi atau mendukung kegiatan peperangan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sikap ini sejalan dengan idealisme band yang selama ini dikenal vokal menyuarakan isu-isu sosial dan kemanusiaan.
Meski demikian, para penggemar Seringai tidak perlu khawatir. Wendy memastikan bahwa lagu-lagu mereka masih bisa dinikmati di berbagai platform streaming musik lainnya. "Betul, hanya mundur dari Spotify. [Lagu Seringai] Masih tersedia di streaming platform musik lainnya kok," tuturnya, memberikan kelegaan bagi para pendengar setia.
Bukan Sekadar Musik, Ini Pernyataan Sikap Idealisme
Langkah yang diambil Seringai ini bukan hal baru dalam sejarah mereka. Band ini memang sudah dikenal luas karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu sosial, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Penarikan musik dari Spotify ini menjadi bentuk konkret dari idealisme mereka yang tak lekang oleh waktu, menegaskan bahwa seni dan integritas tidak bisa dipisahkan.
Keputusan ini juga sekaligus menjadi pesan perdamaian yang kuat dari Seringai. Di tengah konflik global yang terus bergejolak, mereka memilih untuk berdiri di sisi kemanusiaan, menolak segala bentuk dukungan terhadap kekerasan dan peperangan. Ini adalah panggilan bagi para seniman dan pendengar untuk lebih sadar akan nilai-nilai di balik setiap konsumsi budaya.
Gerakan Global: Bukan Hanya Seringai yang Menarik Diri
Fenomena penarikan musik dari Spotify ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Di kancah lokal, band Majelis Lidah Berduri juga mengambil langkah serupa dengan alasan yang sama. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan isu etika dan investasi di balik platform streaming semakin menguat di kalangan musisi.
Secara global, gerakan protes terhadap investasi Daniel Ek di Helsing sudah dimulai sejak September 2023. Banyak musisi internasional papan atas telah menarik karya mereka sebagai bentuk protes. Salah satu yang paling vokal adalah pionir trip-hop Inggris, Massive Attack.
Massive Attack tidak hanya menarik musik mereka dari Spotify, tetapi juga bergabung dengan gerakan "No Music for Genocide". Gerakan ini telah diikuti oleh lebih dari 400 artis dan label rekaman yang secara kolektif memblokir musik mereka dari layanan streaming di Israel, sebagai bentuk protes terhadap konflik yang terjadi.
Dalam pernyataannya, Massive Attack secara gamblang menyebutkan, "Mengingat (dilaporkan) adanya investasi signifikan oleh CEO-nya di sebuah perusahaan yang memproduksi drone amunisi militer dan teknologi AI yang terintegrasi ke dalam pesawat tempur, Massive Attack telah mengajukan permintaan terpisah kepada label kami agar musik kami dihapus dari layanan streaming Spotify di semua wilayah."
Selain Massive Attack, daftar panjang musisi yang menarik diri ini menunjukkan skala protes yang masif. Beberapa nama besar lainnya termasuk grup psych Australia King Gizzard and the Lizard Wizard, grup post-rock Kanada Godspeed You! Black Emperor, band AS Hotline TNT yang dikontrak Third Man Records, grup alternatif AS Deerhoof, dan band Manchester Wu Lyf. Mereka semua mengambil sikap tegas menolak keterlibatan Spotify dalam industri militer.
Respons Spotify dan Helsing: Pembelaan atau Klarifikasi?
Menanggapi gelombang protes ini, juru bicara Spotify memberikan klarifikasi. Mereka menyatakan bahwa "Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang benar-benar terpisah." Pernyataan ini bertujuan untuk memisahkan citra Spotify dari investasi pribadi CEO-nya.
Lebih lanjut, juru bicara tersebut menambahkan bahwa Helsing "tidak terlibat di Gaza" dan upaya mereka "difokuskan pada upaya Eropa untuk mempertahankan diri di Ukraina." Penjelasan ini mencoba meredam kekhawatiran publik dan musisi mengenai penggunaan teknologi militer tersebut.
Helsing sendiri turut buka suara untuk membantah tudingan yang beredar. Dalam sebuah pernyataan, mereka menegaskan, "Saat ini kami melihat misinformasi yang menyebar bahwa teknologi Helsing digunakan di zona perang selain Ukraina. Ini tidak benar." Mereka melanjutkan, "Teknologi kami digunakan di negara-negara Eropa hanya untuk pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina."
Dampak dan Pesan yang Lebih Luas bagi Industri Musik
Keputusan Seringai dan musisi lainnya ini membuka diskusi lebih dalam mengenai etika dalam industri teknologi dan musik. Di era digital ini, di mana platform streaming menjadi gerbang utama bagi musisi untuk menjangkau pendengar, pertanyaan tentang siapa yang memiliki dan mengelola platform tersebut menjadi semakin relevan.
Langkah ini juga menyoroti kekuatan suara seniman. Ketika musisi memilih untuk menarik karya mereka, hal itu bukan hanya berdampak pada ketersediaan musik, tetapi juga mengirimkan pesan moral yang kuat kepada jutaan penggemar dan seluruh ekosistem industri. Ini adalah pengingat bahwa seni memiliki kekuatan untuk memicu perubahan dan menuntut akuntabilitas.
Bagi pendengar, fenomena ini mendorong refleksi tentang konsumsi musik yang lebih sadar. Apakah kita hanya menikmati musik tanpa peduli siapa di baliknya, ataukah kita juga mempertimbangkan nilai-nilai dan etika dari platform yang kita gunakan? Ini adalah pertanyaan yang semakin penting di tengah kompleksitas dunia modern.
Pada akhirnya, keputusan Seringai ini menjadi pengingat bahwa idealisme dan integritas masih memiliki tempat yang penting dalam dunia seni. Mereka memilih untuk tidak diam, menegaskan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga medium untuk menyuarakan kebenaran dan menolak segala bentuk dukungan terhadap kekerasan. Ini adalah sebuah pernyataan sikap yang layak untuk direnungkan oleh semua pihak.


















