Laporan terbaru dari OpenSignal, yang dirilis pada Rabu (8/10), mengungkap fakta mengejutkan: kecepatan internet satelit Starlink di Indonesia menurun drastis setelah lebih dari setahun beroperasi. Kabar ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar, terutama bagi mereka yang menggantungkan harapan pada layanan internet besutan Elon Musk tersebut.
Awalnya, Starlink digadang-gadang sebagai solusi revolusioner untuk masalah konektivitas di daerah-daerah terpencil Indonesia. Dengan jangkauan satelitnya, layanan ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan digital yang selama ini sulit diatasi oleh infrastruktur kabel fiber optik maupun jaringan seluler konvensional.
Awal Mula Harapan Besar Starlink di Indonesia
Ketika pertama kali mengudara di Indonesia, Starlink membawa angin segar bagi banyak pihak. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di luar jangkauan jaringan fiber atau seluler, layanan ini menjanjikan akses internet berkecepatan tinggi yang sebelumnya hanya bisa diimpikan. Kehadiran Starlink disambut antusias sebagai alternatif koneksi nirkabel yang kuat dan andal.
Data awal menunjukkan kecepatan unduh Starlink mencapai 42,0 Mbps dan kecepatan unggah 10,5 Mbps. Angka ini terbilang impresif, menawarkan pengalaman internet yang mulus untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja jarak jauh, belajar daring, hingga hiburan streaming. Harapan akan pemerataan akses internet berkualitas pun membumbung tinggi.
Kecepatan Anjlok, Pengalaman Berubah Drastis
Namun, euforia itu tampaknya tidak bertahan lama. Dalam waktu satu tahun, OpenSignal mencatat adanya tekanan signifikan pada kapasitas Starlink. Kecepatan unduh layanan ini anjlok hampir dua pertiga, sementara kecepatan unggah turun hampir setengahnya.
Secara spesifik, kecepatan unduh Starlink kini hanya mencapai 15,8 Mbps, jauh di bawah angka awal. Begitu pula dengan kecepatan unggah yang merosot tajam menjadi cuma 5,8 Mbps. Penurunan ini tentu saja berdampak langsung pada pengalaman pengguna, bahkan skor Pengalaman Menggunakan Video juga ikut turun lima poin.
Biang Kerok Penurunan: Lonjakan Pengguna dan Harga yang Meroket
Robert Wyrzykowski, Principal Data Analyst OpenSignal, menjelaskan bahwa penyebab utama di balik penurunan drastis ini adalah kemacetan jaringan. Permintaan terhadap Starlink melonjak begitu pesat, melebihi kapasitas yang tersedia, sehingga menyebabkan tekanan pada infrastruktur satelit mereka. Ini adalah konsekuensi umum dari pertumbuhan pengguna yang eksplosif.
Lonjakan permintaan yang tak terkendali ini bahkan memaksa Starlink untuk menghentikan sementara pendaftaran pelanggan baru. Langkah ini diambil untuk mengelola beban jaringan dan mencegah penurunan kualitas layanan yang lebih parah. Situasi ini menunjukkan bahwa popularitas Starlink di Indonesia jauh melampaui perkiraan awal.
Ketika layanan pendaftaran dilanjutkan pada Juli lalu, pelanggan baru harus menghadapi kenyataan pahit. Starlink memberlakukan "biaya lonjakan permintaan" yang sangat tinggi, mulai dari Rp8 juta hingga Rp9,4 juta. Harga ini bervariasi tergantung pada lokasi gateway dan merupakan pukulan telak bagi calon pengguna.
Angka tersebut, yang setara dengan US$490-US$574, sangat fantastis jika dibandingkan dengan upah bulanan rata-rata di Indonesia yang hanya sekitar Rp3,09 juta (US$190). Ini berarti biaya awal untuk berlangganan Starlink bisa mencapai sekitar tiga kali lipat dari gaji bulanan rata-rata penduduk Indonesia.
Tentu saja, biaya yang mencekik ini membuat banyak konsumen yang berminat berpikir ulang. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: membayar biaya di muka yang sangat tinggi, atau menunggu hingga permintaan berkurang dan berharap harga akan kembali normal. Kebijakan ini secara tidak langsung membatasi akses bagi sebagian besar masyarakat.
Ada Sisi Positif di Balik Penurunan Kecepatan?
Meskipun kecepatan unduh dan unggah Starlink mengalami penurunan signifikan, OpenSignal tidak mengatakan bahwa semuanya adalah kabar buruk. Ada satu metrik penting yang menunjukkan peningkatan positif, yaitu konsistensi kualitas. Pada periode yang sama, konsistensi kualitas Starlink justru meningkat dari 24,2 persen menjadi 30,9 persen.
Peningkatan ini, menurut Wyrzykowski, mencerminkan latensi yang lebih rendah dan peningkatan infrastruktur di balik layar. Artinya, meskipun kecepatan puncaknya menurun, koneksi Starlink menjadi lebih stabil dan responsif. Ini penting untuk aplikasi yang membutuhkan waktu respons cepat, seperti bermain game online atau video conference.
Duel Sengit: Starlink vs. Fixed Wireless Access (FWA)
Di tengah perbincangan mengenai Starlink, layanan Fixed Wireless Access (FWA) juga menjadi sorotan. FWA adalah layanan internet nirkabel yang menggunakan jaringan seluler (seperti 4G atau 5G) untuk menyediakan koneksi internet ke rumah atau kantor, biasanya melalui modem atau router khusus. Layanan ini menjadi alternatif kuat, terutama di daerah yang sulit dijangkau fiber optik.
Ketika dibandingkan dengan FWA, Starlink ternyata hanya unggul dalam satu dari tiga metrik pengukuran utama, yaitu kecepatan unduh. Sementara itu, FWA berhasil mengungguli Starlink dalam kecepatan unggah, konsistensi kualitas, dan pengalaman video.
Secara khusus, konsistensi kualitas FWA mencapai 49,7 persen, jauh melampaui Starlink. Ini menunjukkan bahwa FWA mampu memberikan koneksi yang lebih stabil dan dapat diandalkan untuk penggunaan sehari-hari, termasuk streaming video dan panggilan suara. Angka ini menjadi indikator penting bagi pengguna yang mencari koneksi internet tanpa gangguan.
Tantangan FWA di Pedesaan dan Strategi Operator Lokal
Meskipun FWA menunjukkan performa yang solid, penyebarannya di daerah pedesaan Indonesia masih menghadapi kendala besar. Populasi yang jarang dan medan yang sulit membuat perluasan menara telekomunikasi dan infrastruktur backhaul menjadi sangat mahal dan rumit. Ini adalah tantangan klasik dalam upaya pemerataan akses internet.
Sebagian besar layanan FWA di Indonesia saat ini masih mengandalkan teknologi 4G. Sementara itu, penyebaran 5G berkembang secara bertahap karena terbatasnya ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai. Kondisi ini mendorong operator untuk lebih pragmatis dalam strategi mereka.
Menghadapi kendala ini, operator telekomunikasi beralih ke 4G FWA sebagai cara yang layak secara komersial untuk memenuhi permintaan pasar. Telkomsel, misalnya, mendominasi segmen ini dengan layanan Orbit. Layanan ini menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 31 persen, mencapai 1,1 juta pelanggan pada tahun 2023.
XL juga tidak ketinggalan dengan menawarkan layanan FWA mereka sendiri. Selain itu, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) baru saja memasuki pasar pada tahun 2024 dengan meluncurkan HiFi Air. Peluncuran ini dibarengi dengan kesepakatan ekspansi 4G/5G nasional bersama Nokia yang juga mencakup pengembangan FWA.
Masa Depan Internet Indonesia: Starlink atau FWA yang Unggul?
Penurunan kecepatan Starlink dan tingginya biaya awal menjadi pelajaran penting. Meskipun menawarkan solusi untuk daerah terpencil, tantangan kapasitas dan harga yang tidak terjangkau bisa menjadi penghalang utama. Di sisi lain, FWA menunjukkan potensi besar sebagai solusi yang lebih stabil dan terjangkau, terutama dengan dukungan operator lokal yang terus berinovasi.
Masa depan internet di Indonesia kemungkinan besar akan menjadi perpaduan dari berbagai teknologi. Starlink mungkin akan tetap menjadi pilihan vital untuk area yang benar-benar terisolasi, sementara FWA akan terus berkembang sebagai tulang punggung konektivitas di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Yang jelas, persaingan ini diharapkan akan terus mendorong inovasi dan pada akhirnya, memberikan pilihan internet yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.


















