Fenomena "adulting" kini bukan lagi istilah asing bagi Gen Z. Di usia yang seharusnya masih penuh semangat eksplorasi dan pencarian jati diri, banyak dari mereka justru sudah akrab dengan obrolan seputar cicilan, tekanan kerja yang memicu burnout, hingga rasa "tua" yang datang terlalu cepat. Media sosial pun ramai dengan curhatan tentang beratnya transisi menuju dunia orang dewasa, seolah masa muda kini terasa lebih singkat dan penuh tuntutan.
Perasaan ini memunculkan kesan bahwa Gen Z jauh lebih matang dari usia sebenarnya. Mereka terlihat lebih cepat memahami kompleksitas hidup, mulai dari urusan finansial hingga tekanan karier, padahal secara biologis, fase perkembangan otak masih berjalan. Namun, benarkah Gen Z memang lebih cepat dewasa, ataukah ada faktor lain yang berperan dalam mempercepat persepsi ini? Mari kita telusuri lebih dalam.
Mengapa Gen Z Merasa Lebih Cepat Dewasa?
Menurut Psikolog dari Tabula Rasa, Arnold Lukito, apa yang dialami Gen Z sejatinya bukan hal baru dalam perjalanan hidup manusia. Generasi sebelumnya pun menghadapi masa-masa kebingungan serupa saat memasuki fase dewasa awal, hanya saja cara mengekspresikan dan meresponsnya berbeda. Ada beberapa faktor kunci yang membuat Gen Z terlihat lebih cepat matang dibanding generasi milenial di usia yang sama.
Derasnya Arus Informasi dan Observational Learning
Gen Z tumbuh besar di era digital, di mana akses informasi tidak terbatas dan begitu cepat. Media sosial bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga jendela utama mereka untuk melihat dunia dan kehidupan orang dewasa. Paparan pada isu-isu kompleks seperti manajemen keuangan, dinamika politik global, krisis iklim, hingga kompleksitas relasi dan kesehatan mental orang dewasa menjadi sangat intens.
Proses ini dikenal sebagai observational learning, di mana seseorang belajar dengan mengamati perilaku orang lain. Gen Z terus-menerus melihat, membandingkan, dan bahkan meniru gaya hidup serta kekhawatiran orang dewasa yang disajikan di platform daring. Riset juga menunjukkan bahwa paparan konten "dewasa" di media sosial sangat berhubungan dengan tingkat kematangan yang dirasakan lebih tinggi. Ini membuat mereka merasa lebih cepat "tahu" dan "mengerti" tentang kehidupan orang dewasa, bahkan sebelum mengalaminya secara langsung.
Derasnya informasi ini juga sering kali diiringi dengan tekanan untuk segera mencapai milestone tertentu, seperti memiliki pekerjaan stabil, rumah, atau bahkan menikah. Mereka melihat teman sebaya atau influencer yang tampaknya sudah "sukses" di usia muda, yang kemudian memicu perasaan cemas dan perbandingan sosial. Alhasil, beban mental yang seharusnya datang bertahap, kini terasa membanjiri lebih awal.
Perkembangan Otak dan Stimulasi Kognitif Intens
Secara biologis, otak manusia, khususnya bagian prefrontal cortex, yang bertanggung jawab untuk perencanaan, pengambilan keputusan rasional, kontrol impuls, dan pemecahan masalah kompleks, baru matang penuh di usia sekitar 25 tahun. Artinya, meskipun Gen Z merasa dewasa dan mampu menghadapi banyak hal, otak mereka masih dalam tahap pengembangan penting. Ada jurang antara persepsi diri dan kematangan neurologis.
Namun, stimulasi kognitif yang dialami Gen Z jauh lebih intens dibandingkan generasi sebelumnya. Paparan informasi yang masif, interaksi digital yang konstan, serta kebutuhan untuk memproses data dari berbagai sumber secara bersamaan, memang membuat mereka sering terlihat lebih cepat matang. Otak mereka dilatih untuk multitasking dan adaptasi informasi dengan kecepatan tinggi.
Meskipun demikian, secara neurologis, proses perkembangan otak tetap mengikuti garis waktu yang sama. Kematangan emosional dan kemampuan untuk mengelola stres kompleks mungkin belum sejalan dengan kecepatan mereka dalam menyerap informasi. Hal ini bisa menjelaskan mengapa Gen Z sering merasa kewalahan atau burnout meskipun memiliki akses pengetahuan yang luas.
‘Adulting’ Hanya Istilah Populer Semata?
Fenomena adulting sebenarnya tidak sepenuhnya baru, melainkan lebih merupakan produk budaya populer ketimbang konsep psikologi perkembangan yang fundamental. Menurut Arnold Lukito, istilah ini adalah cara Gen Z mengekspresikan keluhan mereka terhadap tanggung jawab hidup yang datang silih berganti, sebuah bentuk validasi kolektif atas kesulitan yang mereka alami.
Generasi milenial juga mengalami beban serupa di usia 20-an, namun mereka belum punya istilah gaul seperti "adulting" untuk menamainya. Mereka mungkin menggunakan istilah "quarter-life crisis" atau sekadar mengeluh secara pribadi. Dengan kata lain, perasaan "cepat tua" ini bisa jadi sebagian besar adalah ilusi yang diperkuat oleh media sosial. Algoritma platform digital cenderung memperbesar wacana tertentu, sehingga semakin sering seseorang melihat konten "adulting is hard," semakin kuat pula internalisasi bahwa ia sudah "dewasa" atau bahkan "tua."
Ini menciptakan semacam echo chamber di mana keluhan tentang adulting menjadi norma, dan siapa pun yang tidak mengalaminya mungkin merasa aneh atau tertinggal. Tekanan untuk terlihat "relatable" dengan tren ini juga bisa memperkuat persepsi bahwa semua Gen Z memang merasa cepat tua.
Bukan Cuma Gen Z: Fenomena yang Terus Berulang
Arnold Lukito mengingatkan bahwa apa yang dialami Gen Z sejatinya bukan hal baru dalam siklus kehidupan. Setiap generasi menghadapi tantangan transisi menuju kedewasaan. Generasi milenial pada awal tahun 2000-an juga menghadapi apa yang disebut "quarter-life crisis" ketika mulai memasuki dunia kerja dan dihadapkan pada berbagai tanggung jawab baru yang terasa berat.
Bedanya, milenial tidak memiliki media sosial sebagai ruang ekspresi masif seperti yang dimiliki Gen Z saat ini. Mereka mungkin mencurahkan keresahan melalui jurnal pribadi, obrolan mendalam dengan teman dekat, atau forum-forum daring yang belum sepopuler dan se-visual sekarang. Keresahan itu ada, hanya saja tidak terekspos secara luas dan tidak menjadi trending topic setiap hari.
Quarter-Life Crisis Ala Milenial
Milenial yang kini berusia 30-40 tahun mungkin memandang masa 20-an mereka penuh dengan kebebasan dan minim beban, jika dibandingkan dengan Gen Z. Namun, riset pada masa itu juga melaporkan tingkat keresahan yang sama tingginya terkait masa depan, karier, dan pencarian jati diri. Mereka juga merasakan tekanan untuk mencapai berbagai milestone hidup, seperti melunasi utang pendidikan, membeli rumah di tengah resesi, atau meniti karier di pasar kerja yang kompetitif.
Fenomena ini berulang di setiap generasi muda saat memasuki transisi kedewasaan. Setiap era memiliki tantangan uniknya sendiri yang membentuk pengalaman generasi tersebut. Artinya, Gen Z bukan benar-benar "lebih cepat tua," melainkan lebih terlihat karena mereka memiliki bahasa, media, dan ruang publik yang lebih luas untuk membicarakan dan membagikan perasaan tersebut. Ini adalah refleksi dari perubahan zaman dan teknologi, bukan semata-mata perubahan fundamental pada psikologi perkembangan manusia.
Jadi, jika kamu seorang Gen Z yang merasa terbebani dengan istilah adulting dan merasa cepat tua, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Perasaan ini adalah bagian dari perjalanan transisi menuju kedewasaan yang dialami setiap generasi, hanya saja dengan soundtrack dan panggung yang berbeda. Penting untuk menyadari bahwa validasi diri tidak datang dari seberapa cepat kamu merasa dewasa, melainkan dari bagaimana kamu menghadapi setiap tantangan dengan bijak dan menemukan keseimbangan dalam hidup.
Fokus pada pertumbuhan pribadi, batasi perbandingan di media sosial yang seringkali tidak realistis, dan ingatlah bahwa setiap generasi punya tantangan uniknya sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar, beradaptasi, dan berkembang dari setiap fase kehidupan. Nikmati prosesnya, karena masa muda adalah kesempatan berharga untuk eksplorasi dan pembelajaran.


















