Pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 selalu menyisakan cerita. Namun, laga Timnas Indonesia melawan Irak di Jeddah, Arab Saudi, pada Minggu (12/10) dini hari WIB, menyisakan lebih dari sekadar cerita. Ada drama, kontroversi, dan kekecewaan mendalam yang membekas di hati para penggemar sepak bola Tanah Air.
Timnas Indonesia harus menelan pil pahit kekalahan 0-1 dari Irak. Padahal, skuad Garuda sempat menunjukkan dominasi permainan yang menjanjikan di babak pertama. Namun, gol Zidane Iqbal di babak kedua menjadi penentu, diiringi sejumlah keputusan wasit yang bikin geram.
Keputusan Kontroversial Ma Ning yang Merugikan Garuda
Sorotan tajam tertuju pada wasit asal China, Ma Ning. Pria berusia 46 tahun ini membuat serangkaian keputusan yang dinilai sangat merugikan Timnas Indonesia, memicu kemarahan publik dan para pemain. Setiap peluit yang ditiupnya seolah menambah beban di pundak skuad Garuda.
Setidaknya ada dua momen krusial yang menjadi pusat kontroversi besar. Pertama, pada menit ke-66, ketika Zaid Tahseen melakukan pelanggaran orang terakhir terhadap Ole Romeny. Seharusnya, pelanggaran tersebut layak diganjar kartu merah, namun Ma Ning hanya mengeluarkan kartu kuning.
Momen kedua tak kalah bikin kesal. Di masa injury time babak kedua, Kevin Diks disikut oleh Tahseen di dalam kotak penalti. Insiden ini jelas-jelas layak diganjar penalti, namun lagi-lagi, Ma Ning bergeming. Tahseen hanya mendapat kartu kuning kedua, yang berarti ia harus keluar lapangan, tetapi Indonesia tak mendapat hadiah penalti yang sangat dibutuhkan.
Penolakan Jabat Tangan dan Kekecewaan Jay Idzes
Kekecewaan terhadap Ma Ning tidak berhenti di lapangan. Setelah peluit panjang dibunyikan, kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, berusaha menghampiri wasit untuk berjabat tangan. Sebuah gestur sportivitas yang biasa dilakukan.
Namun, Ma Ning menolak uluran tangan Jay Idzes. Momen ini terekam jelas dan menambah daftar panjang insiden yang memicu kemarahan fans. Jay Idzes sendiri mengungkapkan perasaannya.
"Saya selalu berusaha menghormati siapa pun. Wasit, organisasi, segalanya," ujar Jay Idzes. "Namun hari ini sejumlah hal yang terjadi dan dalam pendapat saya tidaklah tepat. Namun pada akhirnya, wasit yang memutuskan. Jadi, kami harus menjalaninya. Setelah laga berakhir, saya ingin menyalami wasit, tetapi mereka bilang tidak."
Kekecewaan Jay Idzes mewakili perasaan seluruh tim dan jutaan penggemar di Indonesia. Keputusan-keputusan kontroversial dan sikap Ma Ning pasca-laga meninggalkan tanda tanya besar mengenai integritas dan profesionalisme.
Ahmad Al Ali: Wasit Kuwait yang Justru Dipuji
Ironisnya, sebelum laga melawan Irak, kekhawatiran publik Indonesia justru tertuju pada wasit lain. Wasit asal Kuwait, Ahmad Al Ali, yang ditunjuk untuk memimpin laga Timnas Indonesia melawan Arab Saudi, sempat dicurigai netralitasnya. Sebagai wasit dari regional yang sama dengan Arab Saudi, ada keraguan akan objektivitasnya.
Namun, Ahmad Al Ali justru menunjukkan performa yang sangat solid dan tegas sepanjang 90 menit. Wasit berusia 41 tahun itu memimpin pertandingan dengan adil dan tidak ragu untuk memanfaatkan teknologi VAR (Video Assistant Referee) demi mengambil keputusan yang tepat. Ia membuktikan bahwa kekhawatiran awal itu tidak beralasan.
Ketegasan dan Keberanian Ahmad Al Ali dengan VAR
Berbeda jauh dengan Ma Ning yang seolah enggan melihat VAR di momen krusial, Ahmad Al Ali selalu memanfaatkan second opinion dari teknologi tersebut. Ini terlihat jelas saat ia harus mengambil keputusan penting, termasuk tiga penalti yang terjadi di laga Indonesia vs Arab Saudi. Setiap keputusan diambil setelah tinjauan VAR yang cermat, memastikan keadilan.
Ketegasan Al Ali juga terlihat saat ia berani memberikan kartu merah kepada pemain Arab Saudi, Mohamed Kanno. Kanno, yang baru beberapa menit masuk lapangan, diusir karena membuang-buang waktu dan melakukan protes berlebihan. Keputusan ini, meskipun membuat fans Arab Saudi menghujatnya, justru mendapat pujian dari banyak pihak karena menunjukkan keberanian dan ketegasan wasit.
Kontras yang Mencolok dan Harapan untuk Masa Depan
Perbandingan antara Ma Ning dan Ahmad Al Ali menjadi sangat mencolok. Di satu sisi, ada wasit yang keputusan-keputusannya merugikan dan sikapnya dinilai kurang profesional. Di sisi lain, ada wasit yang, meskipun awalnya diragukan, justru menunjukkan profesionalisme, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan aturan.
Drama wasit di Kualifikasi Piala Dunia 2026 ini bukan hanya tentang kekalahan Timnas Indonesia, tetapi juga tentang pentingnya fair play dan integritas dalam sepak bola. Keputusan wasit yang adil adalah fondasi utama sebuah pertandingan yang sportif. Semoga ke depannya, Timnas Indonesia bisa mendapatkan perlakuan yang lebih adil dan pertandingan berjalan tanpa diwarnai kontroversi yang merugikan.
Kekalahan ini memang menyakitkan, namun semangat juang Garuda tak boleh padam. Mari kita terus mendukung Timnas Indonesia, dengan harapan bahwa di laga-laga berikutnya, keberuntungan dan keadilan akan berpihak pada mereka.


















