Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Mariah Carey di Sentul: Lagu Abadi, Aura yang Tak Lagi Sama? Ini Kata Penggemar!

mariah carey di sentul lagu abadi aura yang tak lagi sama ini kata penggemar portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Malam itu, 4 Oktober 2025, di Sentul, Jawa Barat, ribuan pasang mata menanti sang diva legendaris, Mariah Carey. Konser bertajuk "The Celebration of Mimi" ini seharusnya menjadi perayaan megah 20 tahun album ikonik "The Emancipation of Mimi". Namun, bagi sebagian penggemar, termasuk saya, ada rasa yang campur aduk setelah tirai panggung ditutup.

Ekspektasi Tinggi di Sentul: Sebuah Perjalanan Penuh Harap

banner 325x300

Perjalanan menuju Sentul International Convention Center (SICC) pada Sabtu malam itu bukan tanpa perjuangan. Kemacetan yang mengular menjadi saksi betapa antusiasnya para Lambily, sebutan untuk penggemar Mariah Carey, yang rela menempuh jarak demi melihat idola mereka. Ada yang datang dari Jakarta, ada pula yang dari kota-kota lain, semua dengan satu harapan: menyaksikan keajaiban suara Mariah Carey secara langsung.

Saya sendiri masih teringat jelas pengalaman di Candi Borobudur pada 2018. Kala itu, Mariah tampil begitu segar, memukau, dan mewujudkan mimpi 14 tahun saya. Aura diva yang terpancar begitu kuat, membuat saya yakin bahwa malam ini di Sentul akan menjadi pengalaman serupa, atau bahkan lebih baik.

Sang Diva Muncul: Senyum Tipis, Interaksi yang Minim

Pukul 20.26 WIB, lampu panggung meredup, sorakan penonton membahana. Mariah Carey akhirnya muncul, sedikit mundur dari jadwal pukul 20.00 WIB, tapi itu masih terbilang "tepat waktu" untuk seorang diva dengan karakter uniknya. Ia menyapa dengan senyum tipis, sesekali menunjukkan gerak centil khasnya.

Namun, sejak awal, ada sesuatu yang terasa berbeda. Interaksi dengan penonton terasa sangat minim. Dalam Act 1, dan bahkan di tiga babak selanjutnya, Mariah Carey tak banyak bicara. Sambutan hangat yang saya rasakan di masa lalu atau yang seharusnya diberikan seorang penyanyi di konser besar, seolah tak hadir malam itu.

Magisnya Lagu-Lagu Legendaris: Penyelamat Malam Itu

Terlepas dari interaksi yang hambar, pesona lagu-lagu lawas Mariah Carey memang tak terbantahkan. Setelah membuka konser dengan lagu barunya, "Type Dangerous" sebagai promosi, Mimi langsung tancap gas dengan deretan hit yang membuat euforia penonton meledak.

Dari ‘Emotions’ Hingga ‘Hero’: Nostalgia yang Mengguncang

"Emotions", "Touch My Body", "Can’t Let Go", "Vision of Love", dan "Dreamlover" dibawakan berturut-turut. Sebagai pendengar setia Mimi dari era pra-milenium, sajian ini sukses memantik nostalgia. Rasanya seperti kembali ke masa remaja, di mana lagu-lagu ini menjadi soundtrack hidup.

Babak kedua menjadi puncak penampilan terbaiknya malam itu. "Hero" membuka segmen ini dengan syahdu, diikuti "Without You", "Fantasy", "Honey/Heartbreaker", "I’m That Chick", "My All", dan "Always Be My Baby". Setiap nada yang keluar, meski tak selalu sempurna, tetap mampu menggetarkan hati. Lagu-lagu ini adalah alasan utama mengapa ribuan orang rela datang.

Ketika Vokal Tak Lagi ‘Effortless’: Antara Maklum dan Kecewa

Saya bisa memaklumi bila Mariah Carey memilih mengombinasikan menyanyi live dengan minus one, atau bahkan lip sync di beberapa bagian. Mengingat lagu-lagu yang ia ciptakan begitu kompleks dan hanya bisa cocok dinyanyikan oleh dirinya sendiri, hal itu bisa dipahami. Usianya kini 56 tahun, tentu tak bisa dibandingkan dengan performa prima di usia 20-an.

Namun, saya juga harus mengakui, kondisi vokalnya malam itu tak lagi sama seperti dulu. Jeritan nada peluitnya yang dulu begitu effortless, kini terasa penuh usaha. Ada momen-momen di mana saya bertanya-tanya, apakah ini memang Mariah Carey yang saya kenal? Vokal yang powerful itu, kini tak lagi sekuat dan semudah dulu.

Gerak Panggung yang ‘Mager’: Harusnya Bisa Lebih Baik?

Penggemar sering berkata, "Mariah Carey is a vocalist, not a dancer." Ya, saya mengerti itu. Saya bisa memaklumi bila dirinya terlihat malas bergerak. Namun, ada banyak penyanyi yang memilih untuk fokus pada vokal tanpa banyak gerak panggung, dan tetap memukau.

Ambil contoh Celine Dion yang tetap bisa memukau dengan vokalnya saat pembukaan Olimpiade Paris 2024, padahal sedang sakit. Atau Ed Sheeran yang cuma fokus bernyanyi di atas panggung berputar 360 derajat tahun lalu. Mereka membuktikan bahwa minimnya gerak bukan halangan untuk tampil memukau, asalkan ada fokus dan energi yang tepat. Mariah bisa saja memilih untuk diam berdiri di satu titik atau duduk saja, asalkan interaksi dan vokalnya tetap prima.

Interaksi Hambar dan Momen yang Hilang

Interaksi dengan penonton juga terbilang sangat minim. Dari pengalaman sebelumnya, Mariah Carey memang agaknya cukup kikuk dalam berinteraksi, sehingga terkesan berjarak. Tidak ada jeda untuk memberikan kesempatan para Lambily menyanyikan lagunya dengan lantang, apalagi untuk lagu-lagu lawas yang begitu akrab di telinga.

Padahal, gimik semacam itu akan memberikan kesempatan kepada penggemar untuk secara aktif terlibat dalam konser. Ini adalah "celebration", bukan sekadar pertunjukan satu arah. Keterlibatan aktif penonton akan membuat malam itu terasa lebih personal dan berkesan.

‘All I Want for Christmas Is You’: Kenapa Tak Ada?

Di tengah usaha Mariah Carey mengeluarkan nada peluitnya, saya terpikir, mengapa dia tak membawakan lagu "All I Want for Christmas Is You" (1994)? Meskipun lagu Natal, lagu itu sangat ikonis, khas Mariah Carey, dan digemari oleh berbagai kalangan melewati batas keyakinan.

Saya berandai bila lagu tersebut dibawakan dalam daftar 26 lagu malam itu, misalnya sebagai encore, tentu akan pecah. Semua orang akan bernyanyi, penggemar akan pulang dengan rasa puas hati dan ringan. Sayangnya, itu cuma mimpi. Bahkan encore pun tak ada.

Penutup yang Anti-Klimaks: Bukan ‘We Belong Together’

Babak ketiga diisi dengan lagu-lagu dari album barunya, "Here for It All" (rilis 26 September 2025), seperti "Beautiful", "Play This Song", "In Your Feelings", "Sugar Sweet", serta dari album "The Emancipation of Mimi" (2005) seperti "Say Somethin’", "Your Girl", dan "Shake It Off".

Perayaan 20 tahun album "The Emancipation of Mimi" berlanjut di babak keempat dengan "Obsessed", "It’s Like That", "Don’t Forget About Us", "We Belong Together", dan "Fly Like a Bird". Lagu-lagu ini sebenarnya sangat bisa menjadi penutup yang "gong".

Namun, sayangnya, terasa anti-klimaks di lagu "Fly Like a Bird". Kalau boleh berandai, saya sebenarnya berharap "We Belong Together" sebagai penutup, mengingat popularitas lagu tersebut dan betapa "Mariah Carey banget"-nya lagu itu. Penonton terlihat lebih hype saat "We Belong Together" dinyanyikan dibanding "Fly Like a Bird".

Jadi, Ini Benar-Benar ‘Celebration of Mimi’?

Hanya ada ucapan terima kasih seadanya dari Mariah Carey, dan diva itu langsung balik kanan. Penghormatan untuk penonton yang sudah susah payah dan membayar mahal tiket, justru lebih banyak diberikan oleh para penari, band, dan penyanyi latar yang jelas lebih bekerja keras di atas panggung.

Bila bukan karena lagu-lagu Mariah Carey yang legendaris, penampilan pembuka Keith Duffy dan Brian McFadden ‘Boyzlife’ yang sukses membawakan lagu-lagu ikonis Boyzone dan Westlife meski ada gangguan teknis, serta pengelolaan konser yang terbilang baik dari promotor, jelas saya akan merasa konser ini bukan "celebration" yang semestinya atas seorang Mimi.

Refleksi Akhir: Lagu Abadi, Aura yang Tak Lagi Sama

Pada akhirnya, satu hal yang bisa saya ambil dari penampilan Mariah Carey malam itu adalah, lagu-lagu Mariah akan lebih lestari dibanding penyanyinya. Karya-karya masterpiece-nya akan terus hidup, menginspirasi, dan menjadi bagian dari sejarah musik pop. Namun, aura panggung, energi, dan vokal yang dulu begitu memukau, kini terasa tak lagi sama.

Konser ini menjadi pengingat bahwa waktu tak bisa dilawan, bahkan oleh seorang diva sekalipun. Kita datang untuk merayakan Mimi, namun yang kita dapatkan adalah perayaan atas lagu-lagunya yang abadi, bukan sepenuhnya atas penampilan sang diva di panggung. Sebuah malam yang penuh nostalgia, namun juga sedikit kecewa.

banner 325x300