Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

AS Geger! Ratusan Ribu Warga Tiba-tiba Nganggur, Efek Domino Shutdown Makin Parah?

as geger ratusan ribu warga tiba tiba nganggur efek domino shutdown makin parah portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari Amerika Serikat. Jumlah pengangguran di negara adidaya itu meroket tajam setelah pemerintah mengalami "shutdown" atau penutupan operasional selama beberapa pekan terakhir. Situasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dan masa depan pasar tenaga kerja AS.

Angka Pengangguran Melonjak Drastis

banner 325x300

Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan dalam klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian. Untuk pekan yang berakhir pada 4 Oktober 2025, angka tersebut mencapai 235 ribu. Ini merupakan peningkatan yang cukup drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di angka 224 ribu.

Lonjakan ini dilaporkan oleh Reuters, berdasarkan perhitungan cermat dari para ekonom terkemuka di JPMorgan dan Goldman Sachs. Perlu dicatat, untuk data Hawaii dan Massachusetts, para ekonom harus membuat asumsi karena kedua daerah tersebut tidak menyediakan data lengkap.

Sementara itu, Citigroup, perusahaan bank investasi dan jasa keuangan AS, juga memprediksi angka yang serupa. Mereka memperkirakan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian akan mencapai 234 ribu pada pekan ini, mengindikasikan konsensus di kalangan analis mengenai tren kenaikan ini.

Mengapa Ini Terjadi? Dampak Shutdown yang Menghantui

Penyebab utama lonjakan angka pengangguran ini tak lain adalah "shutdown" pemerintah AS. Ketika pemerintah berhenti beroperasi, ratusan ribu pekerja federal terpaksa dirumahkan tanpa gaji. Tak hanya itu, ribuan pegawai kontrak yang bekerja untuk lembaga pemerintah juga ikut terdampak dan kehilangan pekerjaan sementara.

Ekonom Citigroup, Gisela Young, menjelaskan bahwa peningkatan ini kemungkinan besar disebabkan oleh para pegawai kontrak pemerintah yang mendaftarkan tunjangan pengangguran saat mereka dirumahkan. Fenomena serupa pernah terjadi pada tahun 2013 ketika pemerintah AS juga mengalami shutdown, dan Gisela memperkirakan jumlah pengangguran bisa bertambah lagi pada pekan depan jika situasi tak kunjung membaik.

Kebijakan The Fed Ikut Terseret

Kondisi pasar tenaga kerja ini memiliki implikasi besar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed. Data ketenagakerjaan merupakan salah satu faktor paling penting yang dipertimbangkan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga dan langkah-langkah ekonomi lainnya.

Ironisnya, shutdown pemerintah AS telah memperlambat penerbitan laporan ketenagakerjaan bulan September yang krusial. Penundaan ini tentu saja menyulitkan The Fed untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan akurat mengenai kondisi ekonomi terkini. Bahkan, The Fed sendiri telah memangkas suku bunga bulan lalu demi mendukung pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Harapan di Tengah Ketidakpastian: Akankah Segera Pulih?

Meski situasi terlihat suram, ada secercah harapan dari para ekonom. Ekonom JPMorgan menilai bahwa klaim terhadap tunjangan pengangguran AS, di luar dampak langsung dari shutdown pemerintah, sebenarnya masih rendah. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja secara fundamental masih cukup kuat.

Mereka optimis bahwa angka ini akan segera menurun begitu pemerintah AS mengakhiri shutdown dan kembali beroperasi normal. "Saat pemerintah kembali buka, klaim-klaim seharusnya akan membalikkan peningkatan akibat shutdown ini dengan cepat," ujar salah satu ekonom JPMorgan, memberikan sedikit angin segar di tengah kekhawatiran.

Fenomena "Tanpa Pemecatan, Tanpa Perekrutan"

Namun, di luar isu shutdown, pasar tenaga kerja AS sebenarnya sedang menghadapi tantangan lain yang lebih struktural. Para ekonom menyebutnya sebagai tahap "tanpa pemecatan" (no firing) dan "tanpa perekrutan" (no hiring). Ini berarti perusahaan cenderung menahan diri untuk memecat karyawan yang ada, tetapi juga sangat selektif dan lambat dalam merekrut tenaga kerja baru.

Penurunan permintaan dan pasokan tenaga kerja di AS dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan imigrasi yang ketat hingga pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Perekrutan yang lesu ini membuat tenaga kerja yang baru terkena PHK mengalami masa pengangguran yang lebih panjang. Mereka terpaksa harus menerima tunjangan pengangguran untuk beberapa waktu, menambah beban pada sistem jaring pengaman sosial.

Apa Selanjutnya untuk Ekonomi AS?

Kombinasi antara dampak shutdown yang mendadak dan tren jangka panjang di pasar tenaga kerja menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi ekonomi AS. Bagaimana pemerintah AS mengatasi krisis ini, dan seberapa cepat mereka bisa mengakhiri shutdown, akan sangat menentukan arah perbaikan ekonomi.

Persoalan ketenagakerjaan ini sudah menjadi perhatian utama The Fed dalam rapat terakhir mereka. Semua mata kini tertuju pada Washington, menanti resolusi yang bisa membawa kembali stabilitas dan kepastian bagi ratusan ribu warga Amerika yang kini menghadapi masa depan yang tidak pasti.

banner 325x300