Serial ‘Monster’ Season 3 yang mengangkat kisah pembunuh fenomenal Ed Gein baru saja tayang, namun langsung dihantam kritik pedas. Bukan dari penonton biasa, melainkan dari Harold Schechter, akademisi sekaligus penulis biografi paling diakui tentang Ed Gein.
Kisah Ed Gein di Netflix Disebut "Karangan Belaka"
Schechter, penulis buku ‘Deviant: The Shocking True Story of the Original "Psycho"’, bahkan tak segan menyebut serial yang dibintangi Charlie Hunnam itu sebagai ‘karangan belaka’. Buku Schechter yang terbit pada 1998 ini dianggap sebagai biografi definitif Ed Gein, terutama karena riset mendalamnya saat ia masih aktif sebagai penulis true crime spesialis pembunuh berantai.
Kepada New York Post, Schechter mengaku sudah kesal sejak awal mendengar Ryan Murphy dan Ian Brennan berencana mengangkat kisah Ed Gein. Ia khawatir karyanya akan dijiplak, meski sebagian besar informasi sudah berada di domain publik.
Namun, setelah menonton serial tersebut, kekesalannya justru berlipat ganda. "Banyak sekali isinya yang murni rekayasa yang berlebihan," ujarnya, menambahkan bahwa serial itu "sangat menyimpang dari kenyataan kasusnya."
Schechter sangat khawatir bahwa semua orang yang menonton acara ini akan mengira mereka melihat kisah nyata Ed Gein. Ini, menurutnya, adalah distorsi sejarah yang tidak bisa diterima.
Detil Fiktif yang Bikin Schechter Geram
Ada beberapa poin krusial yang menurut Schechter dipelintir habis-habisan oleh serial ‘Monster’ Season 3. Ia merasa banyak adegan yang murni fiksi dan tidak didukung bukti.
Adegan Seksual yang Tidak Pernah Ada
Salah satunya adalah penggambaran adegan Ed Gein melakukan asfiksia autoretik. Schechter dengan tegas menyatakan tidak ada bukti sama sekali Gein pernah menikmati aktivitas seksual ekstrem tersebut.
Asfiksia autoretik sendiri adalah praktik mencekik diri sendiri demi mencapai kenikmatan seksual yang intens. Kehadiran adegan ini di serial dianggap murni fiksi dan hanya karangan belaka.
Kisah Cinta Palsu Ed Gein
Tak hanya itu, kisah cinta antara Ed Gein (Charlie Hunnam) dengan Adeline Watkins (Suzanna Son) juga menjadi sorotan tajam. Menurut Schechter, hubungan romantis itu tidak pernah ada di kehidupan nyata.
Gein dan Watkins hanyalah teman bermain biasa, dan Adeline muncul sebagai ‘pacar’ Gein hanya demi publisitas saat kasusnya meledak. Ini adalah distorsi fakta yang signifikan yang membuat Schechter geram.
Bukan Sekadar Pembunuh Berantai Biasa
Schechter juga menyayangkan label ‘pembunuh berantai’ yang disematkan pada Ed Gein dalam serial tersebut. Ia menjelaskan bahwa motif Gein membunuh sangat berbeda dari pembunuh berantai pada umumnya.
Gein membunuh bukan untuk kepuasan seksual acak, melainkan karena obsesinya pada anatomi tubuh manusia dan tengkorak. Niat utamanya adalah membedah dan mempelajari tubuh korban, bukan menikmati pembunuhan secara berulang.
Akurasi yang Tersisa dan Ancaman Hukum
Meski begitu, Schechter mengakui ada beberapa elemen dalam serial yang akurat. Misalnya, penggambaran hubungan toksik Ed Gein dengan ibunya serta praktik perampokan kuburan yang ia lakukan.
Namun, bagian-bagian akurat ini tenggelam dalam lautan rekayasa. Kini, pria berusia 77 tahun itu bahkan tengah berkonsultasi dengan pengacara kekayaan intelektual.
Ia sedang mempertimbangkan peluang untuk menggugat Netflix dan kreator ‘Monster’ Season 3. "Maksud saya, mungkin masih ada cukup banyak hal yang membenarkan tindakan hukum," katanya.
"Dan jika mereka merasa sebagian besar hal itu dibuat-buat dan tidak berasal dari buku saya, saya akan membatalkan seluruh masalah ini," jelas pria yang kini menjadi dosen di Queens College New York tersebut.
Ed Gein: Pembunuh yang Menginspirasi Horor Hollywood
Terlepas dari kontroversi serialnya, Ed Gein sendiri adalah salah satu figur kriminal paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat. Kejahatannya di dekade 1950-an meliputi pembunuhan, pencurian mayat, hingga menguliti jenazah.
Obsesinya pada tengkorak dan perbuatannya yang membuat bergidik telah menginspirasi banyak karya Hollywood. Sebut saja film ikonik ‘Psycho’ (1960) karya Alfred Hitchcock yang menjadi game changer film horor, ‘The Texas Chainsaw Massacre’, hingga ‘The Silence of the Lambs’.
Kekejaman Ed Gein telah mengukir namanya dalam sejarah kriminal dan budaya pop. Namun, bagi Harold Schechter, hal itu tidak berarti kisahnya boleh dipelintir demi hiburan semata.
Kritik keras dari Harold Schechter ini kembali memicu perdebatan lama dalam industri hiburan. Seberapa jauh ‘lisensi artistik’ boleh digunakan dalam mengadaptasi kisah nyata, terutama ketika menyangkut kejahatan yang begitu kelam dan berdampak pada persepsi publik?
Bagi Schechter, integritas fakta dalam kisah true crime adalah hal mutlak. Ia merasa bertanggung jawab untuk memastikan kebenaran sejarah Ed Gein tidak terkubur di bawah lapisan fiksi Hollywood.


















