Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bikin Melongo! Pertamina EP Prabumulih Ungkap 3 Inovasi Anti-Mainstream, Produksi Migas Dijamin Aman dan Efisien!

bikin melongo pertamina ep prabumulih ungkap 3 inovasi anti mainstream produksi migas dijamin aman dan efisien portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Di tengah tuntutan produksi minyak dan gas (migas) yang tak pernah surut, inovasi menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas dan efisiensi. PT Pertamina EP (PEP) Prabumulih Field, Sumatera Selatan, membuktikan hal ini dengan serangkaian terobosan brilian yang patut diacungi jempol. Mereka bukan hanya menjaga produksi tetap prima, tapi juga meningkatkan keselamatan kerja dan keberlanjutan operasional.

Tahun ini, tiga inovasi ‘anti-mainstream’ lahir dari tangan-tangan terampil para pekerja lapangan. Mulai dari alat yang melindungi pekerja dari paparan bahan kimia berbahaya, teknologi jalan anti-lumpur, hingga sistem penjaga kompresor yang super canggih. Penasaran bagaimana mereka melakukannya? Mari kita bedah satu per satu.

banner 325x300

Inovasi Pertama: Chemical Pump Modifikasi (CPM) – Revolusi Keselamatan Kerja

Operasi migas memang kompleks, salah satunya adalah proses penginjeksian chemical. Cairan kimia khusus ini esensial untuk mencegah bakteri, karat, atau kerak yang bisa mengganggu produksi di dalam pipa. Namun, di balik rutinitas ini, ada risiko besar yang mengintai: potensi paparan bahan kimia berbahaya bagi pekerja jika proses dilakukan secara manual.

Melihat risiko tersebut, tim Pertamina EP Prabumulih tak tinggal diam. Lahirlah Chemical Pump Modifikasi (CPM), sebuah inovasi sederhana namun berdampak luar biasa. Alat ini mengubah cara kerja manual menjadi otomatis, menghilangkan kontak langsung antara operator dan bahan kimia berbahaya.

Muhammad Luthfi Ferdiansyah, Sr Field Manager PEP Prabumulih Field, menjelaskan bahwa CPM hadir dalam dua versi, yaitu onsite dan portable. "Dengan adanya alat ini, kita mampu menurunkan potensi paparan kimia. Yang tadinya manual, sekarang bisa dilakukan dengan alat portable," ujarnya saat media visit di Pusat Pengumpul Produksi (PPP) Prabumulih.

Sebelumnya, satu kali pengisian bisa memakan waktu hampir dua jam dan harus dilakukan hingga 14 kali sehari. Kini, berkat CPM, waktu kerja terpangkas drastis menjadi hanya 30 menit. Ini bukan sekadar efisiensi waktu, tapi juga jaminan rasa aman bagi para pekerja di lapangan.

Lebih hebatnya lagi, CPM bisa dioperasikan tanpa listrik, cukup dengan arus DC dari baterai, dan dilengkapi modul pengisian ulang agar tahan lama. "Produksi itu utama, tapi yang lebih utama adalah keselamatan kerja," tambah Luthfi, menegaskan komitmen PEP dalam mencapai zero accident, sejalan dengan kebijakan pencegahan insiden berulang Pertamina. Inovasi ini adalah bukti nyata bagaimana keselamatan bisa diintegrasikan dengan efisiensi.

Inovasi Kedua: Geogrid – Solusi Cerdas Jalan Operasional Anti-Lumpur

Medan operasi migas seringkali menjadi tantangan tersendiri, terutama di musim hujan. Di kawasan Prabumulih, banyak jalan menuju sumur masih berupa tanah. Ketika hujan tiba, jalanan berubah menjadi lumpur tebal, menghambat mobilitas kendaraan berat dan mengganggu aktivitas lapangan secara signifikan.

Untuk mengatasi masalah klasik ini, tim Prabumulih menghadirkan solusi cerdas: perkerasan jalan menggunakan teknologi geogrid. Geogrid adalah lapisan jaring sintetis yang dipasang di bawah batu, berfungsi menahan pergeseran tanah dan menjaga stabilitas jalan. Ini adalah pendekatan inovatif untuk infrastruktur lapangan.

"Kami menggunakan geogrid karena mampu menahan batuan dan menstabilkan tanah, sehingga perbaikan tidak perlu berulang-ulang," terang Luthfi. Inovasi ini terbukti lebih efisien dibandingkan metode perkerasan jalan konvensional seperti beton atau aspal yang memakan waktu dan biaya lebih besar.

Nisrina, salah satu anggota tim inovasi, menjelaskan keunggulannya secara rinci. "Kalau pakai beton biayanya tinggi, durasinya lama, dan risikonya besar. Dengan geogrid, biayanya justru lebih rendah, durasi pemasangan hanya sekitar 15 hari per kilometer, dan hasilnya stabil," jelasnya. Ini menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan tidak selalu harus mahal.

Setelah diterapkan, jalan operasional kini jauh lebih kuat menahan beban kendaraan berat, dengan penurunan tingkat kerusakan hingga 75 persen. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tapi juga masyarakat sekitar yang menggunakan jalan yang sama untuk mobilitas sehari-hari. Kini, cerita jalan berlumpur di jalur utama lapangan Prabumulih perlahan sirna. Perbaikan dilakukan bertahap, namun dampaknya sudah sangat terasa: akses kerja lebih lancar, biaya perawatan berkurang, dan yang terpenting, keselamatan makin terjaga.

Inovasi Ketiga: LISA (Liquid Intrusion Sublimation Assembly) – Penjaga Kompresor Handal di Gunung Kemala

Tantangan lain muncul di Lapangan Gunung Kemala, di mana kompresor gas seringkali mengalami gangguan serius. Penyebabnya adalah masuknya cairan dari proses pengeboran, yang mengakibatkan kompresor berhenti beroperasi (shutdown) dan mengganggu distribusi gas ke konsumen. Kondisi ini tentu saja menurunkan efisiensi produksi dan berpotensi menimbulkan kerugian besar.

Menjawab persoalan krusial ini, tim Prabumulih menciptakan inovasi bernama LISA, singkatan dari Liquid Intrusion Sublimation Assembly. LISA adalah alat berbentuk tabung panjang yang dirancang khusus untuk menangkap cairan sebelum mencapai kompresor. Ini adalah solusi cerdas untuk masalah yang seringkali menyebabkan downtime yang mahal.

"Kalau liquid masuk ke kompresor, otomatis kompresor akan shutdown. Karena itu kami desain alat penampung yang bisa bekerja otomatis memisahkan gas dari cairan," ungkap Luthfi. Alat canggih ini dibangun secara lokal dengan melibatkan vendor dalam negeri, menunjukkan komitmen Pertamina EP dalam memberdayakan industri lokal.

LISA juga telah dilengkapi dengan sistem otomatis dan prosedur operasi standar yang memudahkan pengoperasiannya di lapangan. Setelah diimplementasikan, reliabilitas kompresor melonjak hingga 98 persen, dan downtime berkurang signifikan. Artinya, produksi gas bisa kembali stabil, dan biaya operasional turut menurun karena tidak ada lagi gas yang terbuang sia-sia akibat gangguan kompresor.

LISA bukan hanya sekadar alat, tapi juga simbol kecerdasan dan ketekunan para insan PEP dalam mencari solusi inovatif untuk setiap masalah di lapangan. Ini adalah bukti nyata bagaimana teknologi sederhana bisa memberikan dampak besar bagi kelancaran operasional dan keberlanjutan produksi.

Ketiga inovasi ini, mulai dari CPM yang menjaga keselamatan pekerja, Geogrid yang menstabilkan jalan, hingga LISA yang melindungi kompresor, adalah cerminan semangat pantang menyerah Pertamina EP Prabumulih. Mereka membuktikan bahwa teknologi dan kolaborasi adalah kunci untuk menjawab tantangan kompleks di industri migas.

Di tengah target produksi yang terus meningkat dan dinamika teknis yang tak ada habisnya, langkah-langkah inovatif seperti ini menjadi fondasi penting. Ini adalah bagian dari adaptasi industri untuk bekerja lebih aman, lebih cepat, lebih efisien, dan tentunya lebih berkelanjutan demi masa depan energi Indonesia. Inilah kisah nyata bagaimana gagasan praktis dari para pekerja lapangan bisa bertransformasi menjadi solusi konkret yang membawa dampak positif bagi seluruh aspek operasional.

banner 325x300