Banjarmasin, kota yang dikenal dengan julukan "Kota Seribu Sungai," kini menghadapi ancaman serius terkait pengelolaan sampah. Krisis ini berpusat di Kelurahan Telaga Biru, sebuah wilayah yang sangat rentan terhadap dampak lingkungan. Pemicunya adalah rencana penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih pada Februari 2025, yang berpotensi melumpuhkan seluruh sistem pembuangan sampah domestik kota.
Penutupan TPAS Basirih bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. TPAS Basirih selama ini menjadi tulang punggung pembuangan sampah Banjarmasin, menampung ribuan ton sampah setiap harinya. Tanpa alternatif yang memadai, tumpukan sampah akan menjadi pemandangan umum, mengancam kualitas hidup warga.
Kolaborasi Penyelamat Lingkungan: Pelindo dan ULM Bergerak Cepat
Menyikapi situasi genting ini, PT Pelindo Terminal Petikemas (Pelindo Petikemas) tidak tinggal diam. Sebagai entitas bisnis yang memiliki tanggung jawab sosial, mereka berinisiatif menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Kolaborasi strategis ini melahirkan program vital bertajuk "Pendampingan Penanganan Darurat Sampah dan Edukasi Masyarakat."
Program ini merupakan bagian integral dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan, menunjukkan komitmen Pelindo Petikemas terhadap keberlanjutan. Tujuannya jelas: memberikan pendampingan teknis dan edukatif yang komprehensif. Fokus utamanya adalah mengatasi tumpukan sampah yang kian mengkhawatirkan akibat keterbatasan fasilitas penampungan sampah sementara (TPS) di Telaga Biru.
Dampak Krisis Sampah yang Mengancam Kehidupan Warga
SVP Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menegaskan bahwa tumpukan sampah bukanlah masalah sepele yang bisa diabaikan. Konsekuensinya nyata dan multidimensional, mengancam kondisi lingkungan, sosial, hingga ekonomi masyarakat setempat secara langsung. Bayangkan saja, bau tak sedap yang menyengat, pemandangan kumuh yang merusak estetika, hingga potensi penyebaran penyakit menjadi bagian dari realitas sehari-hari.
Sampah yang menumpuk tanpa pengelolaan yang baik akan menjadi sarang berbagai patogen dan vektor penyakit. Dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga diare, serta penyebaran hama seperti tikus dan lalat, semua ini adalah ancaman serius bagi kesehatan publik. Krisis ini bukan hanya tentang lingkungan kotor, tetapi juga tentang kualitas hidup dan kesejahteraan generasi mendatang di Banjarmasin.
Pelindo Petikemas Hadir dengan Solusi Nyata dan Komitmen Berkelanjutan
"Pelindo Petikemas hadir untuk membantu masyarakat sekitar khususnya Kelurahan Telaga Biru, Kota Banjarmasin dengan memberikan edukasi juga pendampingan langsung," ujar Widyaswendra dalam rilisnya, Kamis (9/10). Pernyataan ini menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memiliki kepedulian mendalam terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan komunitas di area operasionalnya.
Lebih lanjut, Widyaswendra menekankan pentingnya semangat gotong royong dan kolaborasi multi-pihak dalam penanganan isu sampah. Ia percaya bahwa masalah sebesar ini tidak bisa diselesaikan oleh satu entitas saja. Sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat adalah kunci utama untuk mencapai solusi yang holistik dan berkelanjutan, menciptakan dampak positif yang lebih luas.
Peran Vital Universitas Lambung Mangkurat dalam Edukasi dan Pendampingan Ilmiah
Irwansyah, Ketua Tim Pelaksana Program Kolaborasi ULM, menyambut baik inisiatif strategis ini. Ia mengapresiasi kolaborasi dengan Pelindo Petikemas sebagai bentuk nyata menghadirkan solusi konkret yang didasari oleh pendekatan ilmiah. Peran akademisi sangat krusial dalam memberikan landasan teoritis, metodologi yang tepat, serta inovasi untuk penanganan sampah yang efektif.
"Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari semangat sinergi antara dunia akademik, industri, dan masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian serta aksi kolektif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan," kata Irwansyah. ULM membawa keahlian penelitian dan pengabdian masyarakat, memastikan bahwa setiap langkah program didukung oleh data dan praktik terbaik, serta mampu menjangkau dan memberdayakan masyarakat secara langsung.
Strategi Pendampingan dan Edukasi yang Komprehensif: Lebih dari Sekadar Bersih-bersih
Program ini dirancang tidak hanya berfokus pada pembersihan tumpukan sampah yang ada, tetapi juga pada perubahan perilaku jangka panjang. Pendampingan teknis akan mencakup berbagai aspek krusial dalam pengelolaan sampah. Ini termasuk pelatihan intensif tentang pemilahan sampah di sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga skala komunal, yang merupakan langkah awal paling efektif.
Selain itu, program akan mengajarkan teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos, yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Pembentukan dan penguatan bank sampah juga menjadi prioritas, memberikan nilai ekonomi bagi sampah anorganik yang dapat didaur ulang. Tujuannya adalah mengurangi secara signifikan volume sampah yang akhirnya berakhir di TPA, memperpanjang usia operasional fasilitas tersebut.
Edukasi masyarakat akan dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari lokakarya interaktif, sosialisasi langsung ke rumah-rumah warga, hingga pembentukan dan pemberdayaan kader lingkungan. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), bahaya sampah plastik sekali pakai, serta cara mengelola sampah rumah tangga secara mandiri dan bertanggung jawab. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran dan budaya lingkungan yang kuat.
Dukungan Penuh dari Pemerintah Kota Banjarmasin untuk Lingkungan Bersih
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, turut menyambut baik program kolaborasi yang inspiratif ini. Ia menyatakan apresiasinya yang tinggi terhadap setiap gerakan masyarakat dan sektor swasta yang peduli terhadap lingkungan. Dukungan penuh dari pemerintah kota sangat esensial untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program semacam ini dalam jangka panjang.
DLH Banjarmasin sendiri menghadapi tantangan yang tidak sedikit dalam pengelolaan sampah kota yang terus meningkat seiring pertumbuhan populasi. Oleh karena itu, inisiatif dari Pelindo Petikemas dan ULM ini menjadi angin segar dan contoh nyata sinergi yang dibutuhkan. Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab lingkungan bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta yang memiliki kapasitas dan sumber daya.
Menuju Banjarmasin yang Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan
Penutupan TPAS Basirih pada 2025 memang menjadi tantangan besar yang harus dihadapi, namun juga membuka peluang untuk inovasi dan transformasi dalam pengelolaan sampah. Program kolaborasi ini diharapkan menjadi model percontohan yang sukses, yang dapat direplikasi di kelurahan-kelurahan lain di Banjarmasin. Dengan demikian, masalah sampah dapat ditangani secara holistik, terstruktur, dan berkelanjutan di seluruh kota.
Masa depan Banjarmasin yang bersih, sehat, dan lestari sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh warganya. Melalui kolaborasi apik antara Pelindo Petikemas, ULM, dan dukungan penuh dari pemerintah kota, harapan untuk Kelurahan Telaga Biru yang bebas dari tumpukan sampah bukan lagi sekadar mimpi. Ini adalah langkah awal yang konkret menuju perubahan besar, menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
Bagaimana Warga Bisa Berpartisipasi Aktif dalam Gerakan Lingkungan Ini?
Bagi warga Telaga Biru dan komunitas di sekitarnya, partisipasi aktif adalah kunci utama keberhasilan program ini. Mulailah dengan tindakan sederhana namun berdampak besar, seperti memilah sampah dari rumah tangga Anda. Bergabunglah dengan kelompok bank sampah yang ada, atau bahkan menjadi relawan edukasi lingkungan untuk menyebarkan kesadaran kepada tetangga. Setiap tindakan kecil akan memberikan kontribusi signifikan bagi lingkungan dan kesehatan bersama.
Program ini membuktikan bahwa dengan semangat kolaborasi, kepedulian, dan aksi nyata, krisis lingkungan dapat diatasi. Mari bersama-sama menciptakan Banjarmasin yang lebih hijau, bersih, dan lestari, menjadikan "Kota Seribu Sungai" benar-benar indah dan sehat untuk dinikmati oleh semua.


















