Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Meledak! Trump Damprat Netanyahu dengan Umpatan Kasar, Gara-gara Hamas?

meledak trump damprat netanyahu dengan umpatan kasar gara gara hamas portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Sebuah insiden mengejutkan terkuak, mengungkap ketegangan di balik layar upaya perdamaian Gaza. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan naik pitam dan menyemprot Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan kata-kata kasar. Kemarahan Trump ini dipicu oleh sikap Netanyahu yang meremehkan persetujuan Hamas terhadap proposal damai yang diajukan AS.

Insiden dramatis ini terjadi dalam sebuah percakapan telepon pribadi antara kedua pemimpin pada Jumat, 3 Oktober 2025. Momen tersebut menjadi sorotan tajam, menunjukkan betapa rumit dan penuh tekanan proses mediasi gencatan senjata di Jalur Gaza.

banner 325x300

Ketegangan di Ujung Telepon: Awal Mula Kemarahan Trump

Semuanya bermula ketika Donald Trump, dengan optimisme yang tinggi, menghubungi Benjamin Netanyahu untuk membahas perkembangan terbaru. Trump membawa kabar yang menurutnya adalah sebuah terobosan: kelompok milisi Hamas Palestina telah menyetujui proposal damai yang diajukannya. Bagi Trump, ini adalah sinyal positif yang bisa membuka jalan menuju gencatan senjata.

Proposal tersebut diharapkan dapat membawa jeda dari konflik berkepanjangan yang telah merenggut banyak nyawa dan menyebabkan krisis kemanusiaan di Gaza. Trump, yang dikenal ambisius dalam mencapai kesepakatan, melihat persetujuan Hamas sebagai "kemenangan" awal.

Respons Netanyahu yang Bikin Trump Naik Pitam

Namun, harapan Trump langsung pupus oleh respons dingin dari Netanyahu. Menurut sumber Axios, Netanyahu sama sekali tidak menunjukkan antusiasme. Ia justru meremehkan persetujuan Hamas, menganggapnya tidak berarti apa-apa dan tidak ada yang perlu dirayakan.

"Bibi (panggilan akrab Netanyahu) mengatakan kepada Trump bahwa tak ada yang bisa dirayakan, dan bahwa persetujuan Hamas itu tidak berarti apa-apa," ungkap seorang pejabat AS yang mengetahui percakapan tersebut. Sikap skeptis Netanyahu ini langsung memicu kemarahan Trump.

“Ini Kemenangan, Ambil!” Umpatan Trump yang Mengejutkan

Mendengar ucapan Netanyahu, kesabaran Trump pun habis. Ia lantas mendamprat sang Perdana Menteri Israel dengan nada tinggi dan penuh emosi. Kata-kata kasar pun meluncur dari mulut Trump, menunjukkan tingkat frustrasi yang luar biasa.

"Saya tidak mengerti kenapa Anda selalu berpikiran negatif. Ini merupakan kemenangan. Ambil lah. *(I don’t know why you’re always so f*ing negative. This is a win. Take it.)," balas Trump dengan umpatan yang mengejutkan. Frasa "fing negative" ini mengindikasikan betapa Trump merasa jengkel dengan pandangan pesimis Netanyahu.

Kemarahan Trump ini bukan tanpa alasan. Para pejabat AS lainnya mengonfirmasi bahwa reaksi Netanyahu di telepon sangat tidak sesuai dengan ekspektasi Trump. Awalnya, Trump menduga Hamas akan menolak proposal damainya, sehingga persetujuan mereka justru menjadi kejutan positif yang ia harapkan akan disambut baik oleh Israel.

Dampak Insiden Telepon: Israel Patuh, Tapi Bagaimana Perdamaian?

Meski percakapan telepon berakhir dengan tensi tinggi, dampaknya terlihat segera. Beberapa saat setelah percakapan tersebut, Donald Trump mengeluarkan pernyataan publik yang menyerukan Israel untuk menghentikan serangan udara di Jalur Gaza, Palestina. Ini adalah langkah tegas yang menunjukkan otoritas dan kekesalan Trump.

Yang lebih mengejutkan, tiga jam kemudian, Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mematuhi instruksi Trump. Ini menunjukkan bahwa di balik ketegangan personal, Israel tetap mengakui dan menanggapi tekanan dari sekutu terdekatnya, Amerika Serikat. Kepatuhan Netanyahu ini menjadi bukti nyata kekuatan diplomasi (atau mungkin intimidasi) Trump.

Interpretasi Berbeda: Hamas Menerima atau Menolak?

Pangkal masalah dari insiden ini adalah interpretasi berbeda mengenai respons Hamas. Pada Jumat, 3 Oktober, Hamas memang menyatakan setuju untuk membebaskan sandera di Gaza sesuai dengan proposal Trump. Namun, persetujuan ini tidak mutlak. Hamas meminta banyak negosiasi mengenai detail-detail lain dalam usulan Trump.

Bagi Israel, permintaan negosiasi detail ini justru menandakan bahwa kelompok milisi itu sebenarnya menolak usulan Trump secara substansial. Salah satu poin krusial yang disorot Israel adalah klausul pelucutan senjata, yang tidak ditanggapi secara eksplisit oleh Hamas. Israel memandang ini sebagai upaya Hamas untuk mengulur waktu atau menghindari komitmen penting.

Di sisi lain, Trump mungkin melihat persetujuan awal Hamas sebagai "pintu masuk" untuk negosiasi lebih lanjut, sebuah titik awal yang bisa dikembangkan. Perbedaan pandangan ini menjadi celah yang memicu ledakan emosi dalam percakapan telepon tersebut.

Masa Depan Hubungan AS-Israel dan Proses Perdamaian Gaza

Meskipun sempat panas, ajudan Netanyahu berusaha meredakan situasi dengan menyatakan bahwa perbincangan Trump dan sang PM berakhir baik. Pernyataan ini juga dikonfirmasi oleh para pejabat AS, yang mungkin ingin meredakan kekhawatiran publik tentang keretakan hubungan kedua negara. "Pada akhirnya, Presiden Trump menginginkan perdamaian. Itu yang terpenting. Pemerintah sedang bekerja erat dengan Israel untuk mewujudkannya," kata salah satu pejabat AS.

Namun, insiden ini jelas menyoroti kerumitan dan ketidakpastian dalam upaya mencapai perdamaian di Gaza. Hubungan AS-Israel, yang sering digambarkan sebagai "tak tergoyahkan," ternyata bisa juga diwarnai oleh drama dan ketegangan personal di tingkat tertinggi. Pertanyaan besar tetap menggantung: apakah "kemenangan" yang dimaksud Trump akan benar-benar terwujud, ataukah ini hanya akan menjadi babak lain dalam saga konflik yang tak berkesudahan?

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa di balik pernyataan diplomatik yang terkesan mulus, ada intrik dan emosi yang kuat yang bisa mengubah arah negosiasi. Publik kini menanti, apakah kemarahan Trump akan cukup untuk mendorong kemajuan nyata, ataukah perbedaan pandangan antara sekutu dekat ini akan terus menjadi batu sandungan bagi perdamaian di Timur Tengah.

banner 325x300