Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Dari Dosen Kampus ke Raja Chip Dunia: Kisah Henry Samueli, Miliarder Rp514 Triliun di Balik Broadcom

dari dosen kampus ke raja chip dunia kisah henry samueli miliarder rp514 triliun di balik broadcom portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Henry Samueli bukan sekadar nama biasa di dunia teknologi. Ia adalah seorang dosen yang berhasil mengubah pengetahuannya menjadi kerajaan bisnis raksasa, menjadikannya salah satu konglomerat terkaya di dunia. Kekayaannya yang fantastis, sebagian besar berasal dari Broadcom, perusahaan cip terkemuka asal Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan catatan Forbes terbaru, total kekayaan Henry Samueli mencapai US$31,1 miliar atau setara dengan sekitar Rp514,7 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.550 per dolar AS). Angka ini menempatkannya dalam jajaran elite global, sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang akademisi. Lantas, bagaimana perjalanan hidup sang profesor ini hingga bisa meraih kesuksesan yang begitu gemilang?

banner 325x300

Masa Kecil dan Perjuangan Keluarga Imigran

Henry Samueli lahir di New York, AS, pada 20 September 1954. Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga Yahudi-Polandia yang penuh perjuangan. Orang tuanya, Sala dan Aron, adalah imigran yang terpaksa pindah ke AS demi menyelamatkan diri dari tekanan dan kekejaman Nazi di Eropa.

Perpindahan ke AS menjadi awal baru bagi keluarga Samueli. Saat Henry masih kecil, mereka memutuskan untuk pindah ke Los Angeles dan memulai usaha baru dengan membuka toko minuman keras. Di sinilah Henry kecil mulai mengenal dunia bisnis.

Sejak remaja, Henry aktif membantu keluarganya menjalankan toko tersebut. Pengalaman ini menjadi paparan pertamanya pada dinamika dunia usaha, sebuah fondasi tak terduga yang kelak akan membawanya pada puncak kesuksesan. "Saat rasa itu pertama kali saya terpapar pada dunia usaha," kenang Samueli dalam sebuah wawancara dengan President Broadcom Foundation Paula Golden.

Terpikat Dunia Elektronika dan Perjalanan Akademis

Ketertarikan Henry pada dunia elektronika mulai tumbuh sejak bangku SMP. Saat itu, ia begitu asyik merakit radio AM/FM, sebuah hobi yang tanpa disadari menuntunnya ke jalan yang lebih besar. Setelah lulus SMA, Samueli mantap melanjutkan pendidikan di bidang teknik elektronika.

Ia memilih University of California, Los Angeles (UCLA) sebagai almamaternya. Di sana, Samueli menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor pada tahun 1980. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan membuatnya tetap aktif mengajar di Departemen Teknik Elektro dan Komputer di UCLA setelah kelulusannya.

Selain mengajar, Samueli juga dikenal sebagai sosok yang sangat inovatif. Ia aktif melakukan penelitian dan menciptakan berbagai terobosan di bidang elektronika. Berkat beragam temuannya, ia berhasil mengantongi puluhan hak paten yang menjadi bukti kejeniusannya.

Broadcom: Dari Kondominium Menjadi Raksasa Chip

Tahun 1991 menjadi titik balik dalam kehidupan Samueli sebagai seorang profesor. Ia membuat keputusan besar untuk mendirikan perusahaan cip bernama Broadcom Corporation. Tidak sendirian, ia menggandeng salah satu mahasiswa doktoralnya, Henry Nicholas, sebagai rekan bisnis.

Dengan modal awal masing-masing US$5.000, mereka memulai petualangan bisnis ini. Kantor pertama mereka bukanlah gedung megah, melainkan sebuah kondominium milik Nicholas di Redondo Beach. Tak lama kemudian, mereka menyewa kantor kecil di dekat UCLA, tepatnya di Westwood, Los Angeles.

"Kami (Samueli dan Nicholas) tidak punya visi besar untuk perusahaan sebesar ini. Kami hanya berpikir akan sangat menarik untuk menjalankan beberapa proyek," ujar Samueli dalam wawancaranya bersama Wallstreet Journal pada 2012. Sebuah pernyataan yang menunjukkan betapa sederhana awal mula raksasa teknologi ini.

Pada tahun 1995, Samueli mengambil langkah lebih jauh. Ia memutuskan untuk mengambil cuti mengajar dari UCLA dan bekerja penuh waktu di Broadcom. Di tahun yang sama, mereka juga memindahkan kantor pusat perusahaan ke Irvine, California, menandai fase ekspansi yang lebih serius.

Broadcom terus berkembang pesat. Puncaknya, pada tahun 1998, perusahaan ini melantai di bursa AS dan menjadi perusahaan publik. Nilai saham Broadcom melesat tajam, seiring dengan booming teknologi dan internet yang melanda dunia saat itu.

Ujian Berat dan Bangkit Kembali

Namun, perjalanan Samueli tidak selalu mulus. Pada tahun 2008, ia terbelit kasus pemalsuan tanggal (backdating) opsi saham perusahaan. Praktik ini bertujuan untuk memanipulasi keuntungan, sebuah pelanggaran serius di pasar modal.

Samueli akhirnya mengaku bersalah kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Ia dijatuhi hukuman percobaan lima tahun dan denda pidana sebesar US$250 ribu. Selain itu, ia juga diwajibkan membayar US$12 juta kepada Kementerian Keuangan AS. Sebuah pelajaran berharga tentang integritas dalam berbisnis.

Meskipun sempat terganjal kasus hukum, Broadcom terus berinovasi. Pada tahun 2016, perusahaan cip asal Singapura, Avago, mengakuisisi Broadcom dalam sebuah kesepakatan senilai US$37 miliar. Akuisisi ini menciptakan salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di dunia, dengan Samueli tetap memegang peran penting.

Warisan dan Pengakuan di Dunia Teknologi

Terlepas dari kasus yang pernah membelitnya, Henry Samueli tetap disegani sebagai tokoh penting di industri teknologi. Kontribusinya pada bidang elektronika diakui secara luas dan ia telah meraih sejumlah penghargaan bergengsi.

Salah satunya adalah Marconi Prize and Fellowship yang ia menangkan pada tahun 2012. Penghargaan ini diberikan atas perannya dalam mempelopori kemajuan pengembangan dan komersialisasi rangkaian sinyal analog dan campuran untuk sistem komunikasi modern. Sebuah pengakuan atas inovasinya yang mengubah cara kita berkomunikasi.

Tak hanya itu, Samueli juga mendapat medali kehormatan dari American Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) pada tahun ini. Penghargaan ini menegaskan posisinya sebagai salah satu insinyur dan inovator paling berpengaruh di dunia.

Hobi yang Berbuah Kekayaan Lain

Selain dunia elektronika, Samueli juga memiliki ketertarikan yang besar pada olahraga hoki. Kecintaannya pada olahraga ini bukan sekadar hobi biasa. Pada tahun 2005, Samueli dan istrinya, Susan Samueli, mengambil langkah berani dengan membeli Tim Hoki Anaheim Ducks.

Mereka mengakuisisi tim tersebut dengan nilai US$70 juta. Sebuah investasi yang kini terbukti sangat menguntungkan. Saat ini, nilai tim Anaheim Ducks telah menembus angka US$1 miliar, menunjukkan kejelian Samueli dalam melihat potensi bisnis di berbagai sektor.

Saat ini, Henry Samueli tinggal bersama istrinya, Susan, di Newport Beach, California. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, dan mereka terus aktif dalam berbagai kegiatan, baik di dunia bisnis maupun filantropi. Kisah Henry Samueli adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara kejeniusan akademis, semangat kewirausahaan, dan ketekunan dapat menciptakan dampak yang luar biasa, mengubah seorang dosen menjadi raja chip dunia dengan kekayaan triliunan rupiah.

banner 325x300