Kamis sore (25/9) menjadi hari yang mungkin tak terlupakan bagi sebagian warga Banyuwangi dan sekitarnya. Tiba-tiba, tanah bergetar hebat, membuat banyak orang panik dan berhamburan keluar rumah. Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 yang kemudian di-update menjadi M5,3 ini tak hanya mengguncang Jawa Timur, tapi juga terasa hingga ke Pulau Dewata, Bali.
Gempa M5,3 Guncang Pesisir Jawa Timur, Bali Ikut Bergetar
Bayangkan saja, kamu sedang menikmati sore hari yang tenang, lalu tiba-tiba lantai bergoyang, perabotan berderak, dan lampu gantung berayun tak beraturan. Itulah yang dialami ribuan warga saat gempa mengguncang dengan kekuatan awal M5,7, yang kemudian direvisi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi M5,3. Sebuah angka yang mungkin terlihat kecil, namun cukup untuk menciptakan kepanikan massal.
Getaran gempa ini begitu kuat hingga tak hanya dirasakan di Banyuwangi, Penebel, dan Lumajang, tapi juga meluas sampai ke Bali. Kuta, Denpasar, dan Buleleng, yang biasanya identik dengan ketenangan pantai, ikut merasakan goyangan bumi. Bahkan, beberapa daerah lain seperti Jember, Bondowoso, Pasuruan, Surabaya, Situbondo, Kuta Selatan, Pamekasan, Mataram, hingga Lombok Barat juga melaporkan merasakan getaran.
BMKG Ungkap Pemicu: Sesar Aktif Jadi Biang Kerok
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan gempa dahsyat ini? Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dengan cepat memberikan penjelasan. Menurutnya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Penyebab utamanya adalah adanya aktivitas sesar aktif di bawah laut.
Sesar aktif ini adalah retakan di kerak bumi tempat dua blok batuan bergerak melewati satu sama lain. Ketika pergerakan ini terjadi secara tiba-tiba, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik, yang kita rasakan sebagai gempa bumi. Lokasi Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik memang membuatnya rentan terhadap aktivitas tektonik semacam ini.
Bukan Hanya Sekali: Gempa Susulan Mengintai?
Meskipun gempa utama telah berlalu, kekhawatiran akan gempa susulan seringkali menghantui. BMKG mencatat, hingga pukul 17.40 WITA atau 16.40 WIB, ada lima kali gempa susulan. Magnitudo terbesar dari gempa susulan ini adalah M3,3.
Gempa susulan adalah gempa yang terjadi setelah gempa utama, biasanya di area yang sama. Ini adalah bagian alami dari proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi besar. Meskipun umumnya lebih lemah dari gempa utama, gempa susulan tetap bisa menimbulkan kerusakan, terutama pada bangunan yang sudah retak akibat gempa sebelumnya, dan tentu saja, menambah kecemasan warga.
Seberapa Kuat Getarannya? Ini Skala Intensitas MMI yang Dirasakan
Untuk memahami seberapa parah dampak gempa, BMKG menggunakan Skala Intensitas Mercalli Modifikasi (MMI). Skala ini mengukur bagaimana gempa dirasakan oleh manusia dan dampaknya pada bangunan. Mari kita lihat bagaimana gempa Banyuwangi ini dirasakan di berbagai wilayah:
- Intensitas IV MMI: Dirasakan di Banyuwangi dan Penebel. Pada level ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah. Benda-benda gantung mulai bergoyang, dan beberapa orang mungkin terbangun dari tidur. Ini cukup untuk membuat panik.
- Intensitas III MMI: Terasa di Lumajang, Kuta, Denpasar, dan Buleleng. Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seperti ada truk besar yang melintas. Meskipun tidak merusak, sensasi ini cukup mengagetkan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa.
- Intensitas II-III MMI: Di Jember dan Bondowoso, getaran juga dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti truk melintas. Ini menunjukkan bahwa meskipun jauh dari pusat gempa, energi yang dilepaskan masih cukup besar untuk dirasakan secara signifikan.
- Intensitas II MMI: Pasuruan, Surabaya, Situbondo, Kuta Selatan, Pamekasan, Mataram, dan Lombok Barat merasakan getaran ini. Pada level ini, hanya beberapa orang yang merasakannya, dan benda-benda ringan yang digantung mungkin bergoyang. Ini lebih ke arah "oh, ada gempa ya?" daripada kepanikan.
Episenter gempa ini sendiri berada pada koordinat 7,87° LS ; 114,45° BT, atau tepatnya berlokasi di laut 40 km timur laut wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kedalaman dangkal hanya 12 km. Kedalaman yang dangkal ini seringkali menjadi alasan mengapa gempa terasa lebih kuat di permukaan.
Waspada dan Siaga: Tips Penting Saat Gempa Bumi Melanda
Peristiwa gempa di Banyuwangi ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan potensi bencana alam. Lalu, apa yang harus kita lakukan jika gempa bumi melanda?
- Saat Gempa Terjadi: Jika kamu berada di dalam ruangan, segera berlindung di bawah meja yang kokoh atau merapat ke dinding interior. Jauhi jendela, cermin, dan benda-benda berat yang bisa jatuh. Jika di luar ruangan, cari tempat terbuka yang jauh dari bangunan, pohon, atau tiang listrik.
- Setelah Gempa: Tetap tenang dan periksa kondisi diri serta orang di sekitar. Waspadai gempa susulan. Jika ada kerusakan pada bangunan, segera keluar dan cari tempat aman. Jangan lupa untuk mematikan listrik dan gas jika memungkinkan, untuk mencegah kebakaran.
- Selalu Siap Sedia: Siapkan tas siaga bencana yang berisi air minum, makanan ringan, obat-obatan pribadi, senter, radio, dan peluit. Pastikan semua anggota keluarga tahu apa yang harus dilakukan saat gempa.
Belajar dari Alam: Pentingnya Pemahaman Mitigasi Bencana
Indonesia, dengan posisinya yang unik di antara lempeng tektonik, memang tidak bisa lepas dari ancaman gempa bumi. Oleh karena itu, pemahaman tentang mitigasi bencana menjadi sangat krusial. BMKG dan lembaga terkait lainnya terus berupaya memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat.
Masyarakat juga diharapkan aktif mencari tahu dan memahami peta risiko bencana di wilayahnya masing-masing. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Tetap waspada, tetap siaga, karena kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan.
Gempa M5,3 di Banyuwangi ini adalah alarm pengingat bahwa alam selalu punya caranya sendiri untuk menunjukkan kekuatannya. Mari kita jadikan ini pelajaran berharga untuk lebih peduli dan siap menghadapi kemungkinan terburuk.


















