Sebuah klaim mengejutkan sempat menggemparkan jagat maya pada Kamis (2/10) lalu. Kalimantan Tengah, provinsi yang dikenal dengan hutan tropisnya, disebut-sebut ‘terpanggang’ dengan suhu mencapai 37,2 derajat Celsius, menjadikannya hari terpanas sepanjang sejarah. Kabar ini sontak menarik perhatian banyak pihak, memicu pertanyaan besar tentang kebenarannya.
Klaim Suhu Ekstrem yang Menghebohkan Dunia Maya
Klaim fantastis mengenai rekor suhu ekstrem ini pertama kali diembuskan oleh Extreme Temperatures Around The World, sebuah situs pemantauan temperatur berbagai belahan dunia. Situs ini dikelola oleh periset independen bernama Maximiliano Herrera, yang dikenal aktif membagikan data suhu global.
Melalui akun X (sebelumnya Twitter) @extremetemps, Herrera secara spesifik menyebut Palangkaraya sebagai lokasi rekor suhu 37,2 derajat Celsius tersebut. Ia bahkan menambahkan konteks global, menyatakan bahwa "Lebih dari 100 negara saat ini memecahkan rekor suhu tertinggi bulan Oktober, dengan hanya 36 jam berlalu di bulan ini." Pernyataan ini tentu saja membuat klaim Kalteng terpanas semakin viral dan dipercaya banyak orang.
BMKG Buka Suara: Fakta di Balik Angka 37,2 Derajat Celsius
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak tinggal diam. Andri Ramdhani, Direktur Meteorologi Publik BMKG, segera merespons klaim yang viral tersebut untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.
Menurut Andri, suhu 37,2 derajat Celsius memang benar terjadi di Kalimantan Tengah, tetapi bukan di Palangkaraya seperti yang diklaim. Lokasi tepatnya adalah di Kotawaringin Barat, sebuah wilayah lain di provinsi yang sama. Sementara itu, suhu di Palangkaraya sendiri tercatat mencapai hingga 35,3 derajat Celsius.
Bukan Hanya Kotawaringin Barat, Ini Data Suhu Panas di Kalteng dan Wilayah Lain
Faktanya, dalam sepekan terakhir, yakni sejak 25 September hingga 2 Oktober 2025, Kalimantan Tengah dan beberapa wilayah lain di Indonesia memang mencatat suhu panas yang signifikan. Angka suhu harian maksimum berkisar antara 34 hingga 37,2 derajat Celsius. Fenomena ini tidak hanya terbatas di Kalteng, melainkan juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Makassar, Bima, dan Kapuas Hulu.
Secara lebih rinci, Stasiun Iskandar di Kotawaringin Barat mencatat angka tertinggi 37,2 derajat Celsius pada 2 Oktober. Sementara itu, Stasiun Tjilik Riwut di Palangka Raya sempat menyentuh 35,1 derajat Celsius pada 26 September dan 35,3 derajat Celsius pada 29 September.
Beberapa stasiun lain juga menunjukkan peningkatan suhu. Stasiun Sanggu di Barito Selatan mencatat 34,7 derajat Celsius pada 25 September, sedangkan Stasiun Beringin di Barito Utara dan H. Asan di Kotawaringin Timur relatif stabil di kisaran 32-34,8 derajat Celsius. Secara umum, suhu cenderung meningkat pada akhir September dengan beberapa hari ekstrem di atas 35 derajat Celsius, lalu sedikit berfluktuasi menjelang awal Oktober.
Mengapa Suhu di Kalteng dan Indonesia Begitu Menyengat?
Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan cuaca terik yang menyengat ini? BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor alamiah yang terjadi bersamaan, terutama menjelang akhir musim kemarau.
Angin timuran yang kering menjadi salah satu pemicu utama, membawa massa udara kering dari timur yang minim uap air. Ditambah dengan posisi semu matahari yang berada di sekitar ekuator, intensitas radiasi matahari yang diterima bumi menjadi lebih tinggi. Minimnya tutupan awan pada akhir musim kemarau juga turut memperparah kondisi, membuat sinar matahari langsung terasa lebih intens dan suhu permukaan bumi meningkat drastis.
Dampak Mengerikan dan Peringatan BMKG untuk Masyarakat
Kondisi cuaca ekstrem ini tentu saja membawa dampak serius yang perlu diwaspadai. Selain membuat siang hari terasa sangat menyengat dan tidak nyaman bagi aktivitas sehari-hari, suhu tinggi ini juga meningkatkan risiko kekeringan yang parah di berbagai daerah. Kekeringan berkepanjangan dapat mengancam pasokan air bersih, mengganggu sektor pertanian, dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Lebih jauh lagi, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi sangat nyata di lokasi-lokasi rawan. Sejarah telah membuktikan bagaimana karhutla di Kalimantan dapat menyebabkan kabut asap tebal yang mengganggu kesehatan, transportasi, dan bahkan hubungan antarnegara. Oleh karena itu, BMKG secara tegas mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan cukup minum air putih, mengurangi aktivitas di luar ruangan terutama pada siang hingga sore hari, serta yang paling penting, menghindari pembakaran terbuka yang dapat memicu karhutla.
Pentingnya Verifikasi Informasi di Era Digital
Di era digital yang serba cepat ini, informasi dapat menyebar dengan sangat mudah, termasuk klaim-klaim yang belum terverifikasi. Kasus suhu ekstrem di Kalimantan Tengah ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk selalu kritis dan bijak dalam menerima informasi.
Selalu penting untuk merujuk pada sumber resmi dan terpercaya seperti BMKG untuk mendapatkan data dan fakta yang akurat mengenai kondisi cuaca dan iklim. Jangan mudah termakan informasi yang belum jelas kebenarannya, apalagi jika berpotensi menimbulkan kepanikan atau kesalahpahaman di masyarakat. Dengan memahami fakta dan penyebab di balik suhu panas ini, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi kondisi cuaca. Mari bersama menjaga lingkungan dan kesehatan di tengah tantangan iklim yang semakin nyata.


















