banner 728x250

Geger Etanol di BBM Pertamina: BP & Vivo Batal Beli, Waspada Dampaknya ke Mesin!

geger etanol di bbm pertamina bp vivo batal beli waspada dampaknya ke mesin scaled portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari industri bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Dua operator SPBU swasta besar, BP dan Vivo, secara resmi membatalkan rencana pembelian bahan bakar dasar (base fuel) dari Pertamina. Keputusan ini diambil setelah ditemukan adanya kandungan etanol dalam BBM milik perusahaan pelat merah tersebut.

Pembatalan ini sontak memicu pertanyaan besar mengenai kualitas BBM yang beredar di pasaran. Apalagi, isu kandungan etanol ini bukan hanya sekadar masalah teknis, melainkan juga berpotensi memengaruhi performa dan kesehatan mesin kendaraan kita.

banner 325x300

Mengapa BP dan Vivo Mundur?

Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, mengonfirmasi pembatalan ini dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (1/10). Vivo, yang sebelumnya setuju membeli 40 ribu barel base fuel, akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan kesepakatan.

Pembatalan serupa juga dilakukan oleh BP-AKR, menandakan negosiasi bisnis ke bisnis (B2B) kembali ke titik nol. Alasan utamanya adalah temuan hasil uji laboratorium yang menunjukkan base fuel impor Pertamina mengandung sekitar 3,5 persen etanol.

Kandungan Etanol: Aman atau Berisiko?

Angka 3,5 persen ini sedikit lebih rendah dari produk BBM Pertamina, Pertamax Green, yang memiliki kadar etanol 5 persen. Meski begitu, temuan ini cukup membuat SPBU swasta tersebut ragu dan akhirnya memilih untuk mundur dari rencana pembelian.

Pertamina sendiri berargumen bahwa kandungan etanol 3,5 persen masih diperbolehkan. Menurut Achmad, ambang batas kandungan etanol yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah di bawah 20 persen.

Ini Dia Efek Etanol pada Mesin Kendaraanmu

Terlepas dari perdebatan regulasi, pertanyaan besar muncul: apa sebenarnya pengaruh etanol pada campuran BBM terhadap mesin kendaraan bermotor bensin? Penggunaan etanol murni atau dalam konsentrasi tinggi ternyata bisa berdampak buruk.

Salah satu dampak yang paling langsung adalah berkurangnya jarak tempuh kendaraan. Molekul etanol memiliki nilai energi yang lebih sedikit dibandingkan bensin murni, sehingga kendaraan akan lebih boros bahan bakar untuk menempuh jarak yang sama.

Sebagai contoh, campuran E10 (10 persen etanol) dapat menurunkan nilai energi bahan bakar hingga 3,5 persen sampai 5 persen. Ini berarti, dengan jumlah bahan bakar yang sama, kamu akan menempuh jarak yang lebih pendek dari biasanya.

Perbandingan Etanol dan Bensin Murni

Nilai energi dalam bahan bakar minyak bumi sangat bergantung pada jumlah ikatan karbon dalam molekulnya. Molekul bensin jauh lebih panjang dan memiliki lebih banyak ikatan karbon daripada molekul etanol yang lebih kecil.

Akibatnya, potensi energi yang terkandung dalam bahan bakar campuran etanol akan lebih rendah. Etanol murni bahkan memiliki nilai BTU (British Thermal Unit) kotor 35 persen lebih rendah dari jumlah bensin yang setara.

Dampak Buruk Lainnya: Etanol dan Air

Selain masalah efisiensi, etanol juga memiliki sifat unik yang bisa merugikan mesin: kemampuannya menyerap air. Etanol murni sangat kuat dalam menyerap air, dan ini bisa menjadi masalah serius terutama untuk campuran E10 hingga E85 jika air masuk ke dalam mesin.

Ketika air terakumulasi dalam tangki bahan bakar atau penyimpanan, air akan tenggelam ke dasar tangki. Efeknya bisa fatal, mulai dari korosi pada komponen mesin, penyumbatan filter bahan bakar, hingga penurunan kualitas bahan bakar secara keseluruhan.

Batas Aman Etanol dan Penyesuaian Mesin

Menggunakan konsentrasi etanol yang lebih tinggi dari 15-20 persen dapat menyebabkan kerusakan serius pada mesin. Ini karena mesin harus disesuaikan secara khusus untuk memperhitungkan sifat pembakaran yang berbeda dari konsentrasi etanol tersebut.

Jika tidak ada penyesuaian, komponen mesin bisa mengalami keausan lebih cepat atau bahkan kegagalan fungsi. Inilah mengapa operator SPBU swasta seperti BP dan Vivo sangat berhati-hati dengan kandungan etanol yang ditemukan.

Bagaimana dengan SPBU Lain?

Sementara BP dan Vivo telah membatalkan kesepakatan, Shell Indonesia dikabarkan masih dalam tahap koordinasi dengan Kementerian ESDM. Mereka tengah mempertimbangkan rencana pembelian BBM bensin dari Pertamina di tengah isu kandungan etanol ini.

Situasi ini menunjukkan bahwa isu kandungan etanol dalam BBM bukan hanya masalah teknis, tetapi juga strategis bagi para pemain di industri migas. Keputusan mereka akan sangat memengaruhi pilihan konsumen di masa depan.

Dengan adanya pembatalan dari BP dan Vivo, serta kekhawatiran akan dampak etanol pada mesin, konsumen tentu menjadi lebih waspada. Penting bagi kita untuk terus memantau perkembangan ini dan memahami apa yang kita masukkan ke dalam tangki kendaraan. Apakah BBM dengan kandungan etanol ini benar-benar aman untuk semua jenis kendaraan? Waktu dan hasil evaluasi lebih lanjut dari pihak berwenang akan memberikan jawaban yang lebih pasti.

banner 325x300