Tragedi pilu yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ternyata tak hanya menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Kejadian ambruknya musala yang menewaskan sejumlah santri dan jemaah ini turut menarik perhatian dunia internasional. Salah satunya adalah Korea Selatan, yang secara resmi menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut.
Duka Cita dari Negeri K-Pop
Pernyataan duka cita ini disampaikan langsung oleh Kuasa Usaha Ad Interim (Charge d’affaires ad interim) Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Soo Deok. Momen tersebut berlangsung dalam acara National Day and Armed Forces Day Republic of Korea yang digelar di Jakarta Selatan pada Rabu (1/10). Kehadiran perwakilan Korea Selatan dalam menyampaikan simpati ini menunjukkan solidaritas kemanusiaan yang kuat.
Dalam pidatonya, Park Soo Deok mengungkapkan rasa belasungkawa yang tulus. Ia secara khusus menyampaikan keprihatinan mendalam kepada seluruh korban, baik santri, guru, staf, maupun keluarga yang terdampak oleh keruntuhan bangunan yang dahsyat ini. Ungkapan ini menjadi penanda bahwa tragedi di Sidoarjo turut dirasakan oleh bangsa lain.
Park Soo Deok juga menyematkan harapan dan doa terbaik bagi para korban. Ia berharap agar santri yang masih terjebak di bawah reruntuhan dapat segera diselamatkan dengan aman. Selain itu, ia juga mendoakan agar para korban luka-luka bisa segera pulih dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Kronologi Tragedi yang Mengguncang
Peristiwa nahas ini terjadi pada Senin sore, ketika gedung tiga lantai di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny tiba-tiba ambruk. Gedung tersebut diketahui masih dalam proses pembangunan, namun sudah digunakan sebagai musala. Saat kejadian, ratusan santri sedang melaksanakan Salat Ashar berjemaah di dalamnya, menciptakan suasana yang mencekam dan penuh kepanikan.
Detik-detik ambruknya bangunan tersebut menjadi saksi bisu betapa cepatnya musibah bisa datang. Suara gemuruh dan debu tebal langsung menyelimuti area pondok pesantren. Ratusan santri yang berada di dalam dan sekitar lokasi langsung berhamburan mencari keselamatan, sementara sebagian lainnya terjebak di bawah puing-puing bangunan.
Per 1 Oktober, data korban tewas akibat kejadian ini telah mencapai lima orang. Sementara itu, puluhan korban lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis intensif. Angka ini diperkirakan masih bisa bertambah mengingat proses evakuasi yang masih terus berlangsung.
Perjuangan Tim Penyelamat di Lokasi
Hingga saat ini, tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban yang terjebak di reruntuhan. Sebanyak 104 korban telah berhasil dievakuasi, namun diperkirakan masih ada sekitar 91 orang yang belum ditemukan dan kemungkinan besar masih berada di bawah puing-puing. Kondisi ini membuat tim terus bekerja keras tanpa henti.
Kepala Sub Direktorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan tantangan besar yang dihadapi tim di lapangan. Salah satu kendala utama adalah penggunaan alat berat. Tim tidak bisa mengoptimalkan alat berat seperti crane karena berisiko tinggi.
Emi Freezer memaparkan bahwa penggunaan alat berat, meskipun memiliki kapasitas angkat hingga 30 ton, justru dapat membahayakan. Saat mencoba mengangkat beban pada akses A1 untuk membuat celah, tindakan tersebut ternyata memberikan dampak negatif pada sisi reruntuhan yang bersambungan dengan gedung di depan. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi di lokasi kejadian.
Faktor Penyebab: Konstruksi Gagal Total
Penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab ambruknya gedung disampaikan oleh Emi Freezer. Ia dengan tegas menyatakan bahwa gedung yang ambruk di Ponpes Al Khoziny disebabkan oleh konstruksi bangunan yang gagal total. Pernyataan ini didukung oleh analisis dari ahli teknik sipil.
Mudji Irmawan, seorang civil engineer dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, turut hadir di lokasi untuk memberikan evaluasi. Kehadiran ahli ini sangat krusial untuk menganalisis struktur bangunan dan menentukan langkah evakuasi yang paling aman dan efektif. Hasil evaluasi awal memang mengarah pada kegagalan struktural yang fatal.
Harapan dan Doa untuk Korban
Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya standar keselamatan dalam setiap pembangunan. Duka yang mendalam dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, tidak hanya di Sidoarjo atau Indonesia, tetapi juga hingga ke mancanegara seperti Korea Selatan. Solidaritas kemanusiaan ini menjadi secercah harapan di tengah kepiluan.
Semoga para korban yang masih terjebak dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Doa dan dukungan terus mengalir bagi keluarga korban yang ditinggalkan, serta bagi para santri dan jemaah yang terluka agar segera pulih. Tragedi ini adalah pelajaran berharga bagi semua pihak untuk selalu mengutamakan keselamatan dan kualitas dalam setiap pembangunan.


















