Rabu, 01 Okt 2025 10:19 WIB
Tragedi pilu mengguncang Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) sore. Sebuah musala ambruk secara tiba-tiba saat puluhan santri sedang khusyuk menunaikan salat Asar, mengubah momen ibadah menjadi kengerian yang tak terlupakan. Insiden ini sontak menyita perhatian tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kancah internasional.
Hingga Selasa (30/9), data awal menunjukkan tiga nyawa melayang dalam peristiwa nahas ini. Lebih memilukan lagi, sebanyak 91 orang diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, menyisakan duka mendalam dan harapan tipis bagi keluarga korban.
Sorotan Dunia: Media Internasional Ikut Berduka
Kabar ambruknya musala di Sidoarjo ini dengan cepat menyebar dan menjadi headline di berbagai media internasional. Dari Asia hingga Eropa, mata dunia tertuju pada upaya penyelamatan dan fakta-fakta di balik tragedi ini. Mereka tidak hanya melaporkan angka korban, tetapi juga menggali lebih dalam akar permasalahan dan dampak sosial yang ditimbulkan.
Xinhua (China): Fokus pada Angka Korban dan Izin Bangunan
Kantor berita China, Xinhua, menjadi salah satu yang paling awal menyoroti jumlah korban dalam insiden ini. Dalam laporannya, Xinhua menggarisbawahi fakta bahwa musala tersebut ambruk saat digunakan para santri, padahal bangunan itu sendiri belum rampung sepenuhnya. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar keselamatan konstruksi.
Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Jawa Timur, dikutip oleh Xinhua mengatakan bahwa kecelakaan di Pondok Pesantren Al Khoziny ini juga menyebabkan lebih dari 80 orang terluka. Selain itu, 38 orang lainnya masih tertimbun reruntuhan, menambah daftar panjang korban yang harus diselamatkan. Laporan Xinhua juga menyebutkan bahwa bangunan yang runtuh itu sedang dalam proses renovasi tanpa izin resmi saat kejadian.
Al Jazeera (Qatar): Standar Keselamatan dan Kegagalan Teknologi
Media Qatar, Al Jazeera, memberikan perhatian khusus pada korban yang mayoritas adalah peserta didik. Mereka mencermati pernyataan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai bencana kegagalan teknologi. Ini merujuk pada ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan dalam penerapan konstruksi.
"Badan tersebut menambahkan bahwa insiden ini menarik perhatian pada perlunya ‘penerapan standar keselamatan konstruksi yang ketat’," tulis Al Jazeera. Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi semua pihak terkait pentingnya pengawasan dan regulasi yang lebih ketat dalam pembangunan fasilitas umum, terutama di lingkungan pendidikan.
The Guardian (Inggris): Jeritan Hati Orang Tua dan Pencarian Tanpa Henti
Dari Inggris, The Guardian menyoroti sisi emosional dari tragedi ini. Artikel mereka menitikberatkan pada perasaan orang tua para santri yang berjuang mati-matian mencari anak-anak mereka yang masih hilang. Gambaran keluarga yang berkerumun di sekitar papan tulis berisi daftar korban selamat, dengan tatapan penuh harap dan cemas, menjadi fokus utama.
"Keluarga-keluarga berkerumun di sekitar papan tulis berisi daftar korban selamat untuk mencari nama anak-anak mereka," tulis The Guardian. Ini menggambarkan betapa dalamnya luka yang ditorehkan oleh insiden ini, bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi seluruh keluarga dan komunitas pesantren.
BBC (Inggris): Operasi Penyelamatan Penuh Tantangan dan Isu Regulasi Pesantren
Media Inggris lainnya, BBC, memfokuskan pemberitaannya pada upaya pencarian korban selamat yang penuh tantangan. Mereka melaporkan suara tangis dan jerit yang samar-samar terdengar dari balik reruntuhan, memberikan gambaran betapa mengerikannya situasi di lokasi kejadian. Operasi penyelamatan bahkan sempat dihentikan sementara karena potensi bangunan runtuh kembali, menambah risiko bagi tim SAR.
BBC juga menyoroti aspek regulasi pesantren di Indonesia. "Ini merupakan sebuah pesantren tradisional di Indonesia. Banyak pesantren beroperasi secara informal, tanpa regulasi yang ketat atau pengawasan yang konsisten," tulis laporan BBC. Mereka menambahkan bahwa para santri di pesantren ini berusia antara 12 hingga 17 tahun, menyoroti kerentanan kelompok usia tersebut terhadap insiden semacam ini.
Euronews (Eropa): Angka Korban yang Terus Bertambah
Media Eropa, Euronews, turut mengabarkan tragedi ini dengan menyoroti kemungkinan jumlah korban yang akan terus bertambah. Dengan operasi pencarian yang masih berlanjut, harapan untuk menemukan korban selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu.
"Setidaknya tiga siswa tewas dan lebih dari 100 orang terluka setelah sebuah bangunan ambruk di sebuah sekolah di Indonesia. Angka ini diperkirakan terus bertambah seiring berlanjutnya upaya penyelamatan, demikian menurut pihak berwenang pada Selasa," lapor Euronews. Ini adalah pengingat pahit akan skala bencana dan dampak jangka panjangnya.
Mengapa Tragedi Ini Menjadi Perhatian Global?
Tragedi musala ambruk di Sidoarjo ini menjadi perhatian global bukan tanpa alasan. Insiden ini menyentuh isu universal tentang keselamatan anak-anak, standar konstruksi, dan tanggung jawab institusi pendidikan. Ketika sebuah tempat yang seharusnya aman untuk belajar dan beribadah justru menjadi kuburan massal, dunia akan bereaksi.
Fakta bahwa bangunan tersebut direnovasi tanpa izin dan ambruk saat digunakan menunjukkan adanya kelalaian serius. Ini memicu pertanyaan tentang pengawasan pemerintah daerah dan lembaga terkait terhadap pembangunan fasilitas publik, terutama di lingkungan yang rentan seperti pesantren.
Pelajaran Penting dari Sidoarjo: Masa Depan Keselamatan Pendidikan
Peristiwa di Pondok Pesantren Al Khoziny harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh bangsa. Ini adalah panggilan darurat untuk meninjau ulang dan memperketat regulasi keselamatan konstruksi, khususnya untuk fasilitas pendidikan dan keagamaan. Pengawasan yang konsisten dan sanksi tegas bagi pelanggar harus diterapkan tanpa pandang bulu.
Lebih dari sekadar angka, tragedi ini adalah tentang nyawa-nyawa muda yang hilang, mimpi-mimpi yang terkubur, dan keluarga yang hancur. Semoga insiden pilu ini menjadi titik balik bagi perbaikan sistemik demi menjamin keselamatan dan masa depan generasi penerus bangsa. Duka Sidoarjo adalah duka kita semua, dan tanggung jawab untuk mencegah terulangnya tragedi serupa ada di pundak kita bersama.


















