Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terungkap! Sumber Radioaktif Cikande Ternyata dari Impor Filipina, Udang Kita Kena Dampaknya?

Patung burung hantu dari potongan besi, simbol bahaya limbah radioaktif.
Besi bekas impor Filipina diduga menjadi sumber cemaran Cs-137 di Cikande.
banner 120x600
banner 468x60

Kasus cemaran radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten, akhirnya menemui titik terang. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau akrab disapa Zulhas, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan di balik insiden ini. Ia menyebut bahwa sumber kontaminasi berbahaya tersebut berasal dari besi bekas impor asal Filipina.

Penemuan ini bukan sekadar dugaan, melainkan hasil penelusuran mendalam yang dilakukan oleh Satgas Penanganan Cs-137 bentukan pemerintah. Tim gabungan ini berhasil mengaitkan scrap metal atau bubuk besi bekas tersebut dengan kontaminasi yang sempat terdeteksi pada produk udang beku Indonesia. Sebuah korelasi yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan pangan dan lingkungan.

banner 325x300

Asal-usul Mengejutkan: Besi Bekas Impor Filipina Biang Keroknya

Zulhas menjelaskan lebih lanjut bahwa pemerintah telah menemukan 14 kontainer berisi bubuk besi bekas yang terkontaminasi Cs-137 di Pelabuhan Tanjung Priok. Kontainer-kontainer ini sudah berhasil di re-ekspor atau dikembalikan ke negara asalnya. Namun, tak berhenti di situ, sembilan kontainer serupa kembali ditemukan.

"Datangnya dari Filipina. Diduga dari bubuk scrap itu," tegas Zulhas dalam konferensi pers di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (30/9). Ia juga telah meminta Bea Cukai untuk segera melakukan re-ekspor terhadap sembilan kontainer tambahan tersebut. Ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah dalam menangani potensi ancaman dari material impor ini.

Kronologi Penemuan: Dari Udang Ditolak hingga Jejak Radioaktif

Kontaminasi Cs-137 ini pertama kali terdeteksi setelah otoritas Amerika Serikat (AS) menolak kiriman udang beku Indonesia pada Agustus 2025. Pemeriksaan ketat oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Bea Cukai AS menemukan adanya kandungan radiasi pada sejumlah kontainer udang yang dikirim dari Indonesia. Penolakan ini sontak memicu alarm bagi pemerintah Indonesia.

Tim gabungan yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga segera bergerak melakukan penelusuran. Investigasi mendalam akhirnya membawa mereka ke fasilitas pengolahan logam di Cikande, Serang, Banten. Di sinilah jejak radioaktif Cs-137 ditemukan, menguak misteri di balik penolakan udang oleh AS.

Ancaman Cesium-137: Bagaimana Bisa Mencemari Udang?

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, memberikan penjelasan teknis mengenai bagaimana pencemaran ini bisa terjadi. Menurutnya, proses peleburan scrap metal di fasilitas pengolahan logam menjadi pintu masuk utama bagi zat radioaktif ini. Metode induksi yang digunakan dalam pengolahan besi bekas tersebut melepaskan polutan ke udara.

"Ini merupakan sumber dari pencemar. Jadi dia itu mengolah scrap dengan metode induksi. Kemudian polusinya terbang dan menempel ke banyak (barang), termasuk si udang tadi," ujar Hanif. Ia menambahkan bahwa partikel radioaktif tersebut menempel pada berbagai permukaan, seperti fan exhaust dan generator, sebelum akhirnya sebagian kecil masuk ke dalam tubuh udang. Penjelasan ini menggambarkan betapa mudahnya kontaminasi menyebar dan mengancam rantai makanan.

Langkah Cepat Pemerintah: Dekontaminasi dan Penanganan Kesehatan

Menyikapi temuan serius ini, pemerintah segera menetapkan Cikande dalam status kejadian khusus radiasi radionuklida Cs-137. Langkah-langkah dekontaminasi pun langsung digencarkan di enam titik yang teridentifikasi. Dua titik di antaranya sudah berhasil dibersihkan, sementara titik-titik lain masih dalam tahap pemetaan ulang untuk memastikan tidak ada sisa kontaminasi.

Selain upaya pembersihan lingkungan, pemerintah juga memprioritaskan kesehatan masyarakat dan pekerja. Sebanyak 1.562 pekerja dan warga sekitar telah menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasilnya, sembilan orang pekerja PT Peter Metal Technology (PMT), tempat pengolahan logam berada, terdeteksi terpapar radiasi. Mereka segera mendapatkan perawatan intensif, termasuk obat khusus yang didatangkan dari Singapura, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi warganya.

Jaminan Keamanan Pangan dan Tindakan Hukum

Zulhas menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan kasus ini dijalankan dengan pendekatan berbasis data dan ilmiah. "Pemerintah melalui Satgas Penanganan Cesium-137 bergerak cepat menangani kasus paparan radiasi pada produk udang kita dari Cikande melalui pendekatan yang ilmiah, sesuai standar internasional dan terukur," ucapnya. Ia menjamin tidak akan ada keputusan yang diambil tanpa dasar data saintifik yang kuat.

Selain mengamankan kontainer scrap metal yang terkontaminasi, pemerintah juga memastikan proses distribusi produk perikanan tetap diawasi secara ketat. Hal ini penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan konsumen. Indonesia juga telah menyampaikan perkembangan kasus ini kepada Badan Atom Dunia (IAEA), pemerintah AS, dan pihak internasional lainnya, menunjukkan komitmen terhadap transparansi.

"Seluruh proses produksi dan distribusi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan akuntabilitas," tambah Zulhas. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) juga turut menegaskan bahwa zat radioaktif Cs-137 ini tidak terbentuk secara alami, melainkan berasal dari aktivitas industri. Oleh karena itu, pemerintah kini tidak hanya fokus pada dekontaminasi dan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga tengah menyiapkan langkah hukum untuk mencegah risiko yang lebih luas di masa mendatang.

banner 325x300