Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Alumni Elektro ITS Blak-blakan di Kongres: Google, Telkom, dan Cak Lontong Ungkap Masa Depan AI Indonesia!

Tangan robot menunjuk angka 2025, latar belakang kode biner, ilustrasi masa depan AI.
Era AI tiba. Alumni ELITS bahas masa depan teknologi.
banner 120x600
banner 468x60

Ballroom Jasaraharja memancarkan energi luar biasa. Ratusan alumni Ikatan Alumni Elektro ITS (ELITS) dari berbagai generasi, mulai dari tokoh industri hingga startup, berkumpul dengan satu tujuan. Mereka datang untuk membahas tema krusial: "Elektro vs Artificial Intelligence: Powering the Future."

Ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan forum serius yang mempertemukan disiplin ilmu klasik dengan arus perubahan teknologi terbesar abad ini. Semua sepakat, era AI telah tiba, dan para insinyur elektro harus berdialog serius dengan kecerdasan buatan. Empat tokoh utama hadir, memberikan refleksi, kritik, hingga tawaran solusi untuk masa depan.

banner 325x300

Prof. Adhi Dharma Wibawa: Etika AI dan PR Besar Indonesia

Prof. Dr. Ir. Adhi Dharma Wibawa, Kepala Pusat Studi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Digital ITS, membuka sesi dengan apresiasi. Ia terkejut melihat keragaman profesi alumni, dari pengusaha karung hingga katering, membuktikan luasnya kiprah lulusan elektro. Topik kolaborasi alumni dengan perkembangan AI pun dianggap sangat relevan.

Menurut Prof. Adhi, AI bisa menjadi game-changer di berbagai sektor, bahkan industri karung sekalipun. Pemanfaatan data lampau dan analisis perilaku konsumen oleh AI dapat meningkatkan daya saing bisnis secara signifikan. Prediksi pasar dan pola perilaku konsumen berbasis big data adalah contoh sempurna aplikasi AI.

Namun, ia juga menyoroti kesiapan Indonesia yang belum sepenuhnya matang. Infrastruktur menjadi salah satu kendala utama. "Bayangkan kita ingin membuat ChatGPT berbahasa Jawa," ujarnya. "Itu butuh hardware mahal untuk mesin belajar, dataset bahasa Jawa yang harus dikumpulkan dan diolah, sementara negara maju sudah jauh melangkah."

Kelistrikan juga menjadi isu serius. "Singapura lebih stabil dalam supply listrik," kata Prof. Adhi. "Kita di Indonesia masih ada kekhawatiran. Kalau mesin pembelajar sedang running lalu listrik padam, itu jadi isu serius."

Isu etika tak kalah penting. Prof. Adhi mencontohkan anak SMP atau SD yang sudah pintar menggunakan AI. Ada yang memakai aplikasi generatif untuk membuat gambar gurunya, lalu dipelesetkan. "Bagi mereka itu mainan, tapi ada etika yang dilanggar," tegasnya. "Harus ada regulasi etik dan tata krama penggunaan AI, termasuk pembatasan usia untuk aplikasi tertentu."

Meski begitu, ia tetap optimistis. Inovasi lahir dari kreativitas, dan siapa pun bisa menjadi produsen AI, bukan hanya pengguna. Namun, ini harus difasilitasi, diberi regulasi, dan dikawal agar tumbuh sehat.

Prof. Adhi juga mengkritik lemahnya koridor regulasi dengan contoh aplikasi "Glowing" buatan mahasiswa ITS. Aplikasi ini memberi saran bedak dan vitamin dari foto wajah, padahal menyentuh aspek kesehatan. "Itu menunjukkan lemahnya koridor regulasi. Semua lolos begitu saja," ungkapnya. Ia menutup dengan ajakan kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, dan perusahaan besar untuk membangun etika AI sejak dini.

Adir Ginting (Google): AI Bukan Hype, ITS Harus Relevan!

Dari panggung global, Adir Ginting, Head of Enterprise Sales Google Indonesia, memberikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar efisiensi, melainkan telah bergeser menjadi "powerhouse of innovation." Ia berharap IKA ELITS menjadi wadah agar alumni dan mahasiswa tetap relevan dengan perubahan cepat ini.

Google sendiri telah menginvestasikan puluhan miliar dolar, menunjukkan bahwa AI bukan tren sesaat, melainkan bagian tak terpisahkan dari masa depan. Adir menyoroti bagaimana AI kini merasuk ke kehidupan sehari-hari, bahkan digunakan anak-anak muda untuk tugas sekolah.

Ia juga "menyentil" ITS agar tidak abai terhadap perkembangan ini, mengingat Google adalah salah satu pionir AI modern. "Relevansi sangat penting," tegasnya. "Beberapa nama yang disebut tadi sudah tidak relevan. Relevant in the room justru tidak disebut."

Meski begitu, Adir menyimpan harapan besar. Banyak alumni ITS kini menjabat direksi BUMN atau perusahaan besar. Filosofi Google, yaitu "build the ecosystem," bisa diterapkan. "Kalau kita semua masuk dalam ekosistem, akan lahir economies of scale," harapnya.

Faizal Rochmad Djoemadi (Telkom): Membangun Ekosistem AI Nasional ala Pentahelix

Faizal Rochmad Djoemadi, Direktur IT Digital Telkom Indonesia dan mantan Ketua IKA ELITS, berbagi pengalaman. Ia menekankan pentingnya "Connecting the Dot" untuk membangun jejaring antar alumni, dari mentoring hingga grup hobi.

Beranjak ke ranah industri, Faizal menjelaskan strategi Telkom yang kini "go beyond connectivity." Telkom membangun empat platform horizontal: AI, IoT, cloud service, dan cyber security. Ini dilengkapi dengan 12 solusi vertikal per sektor industri, dari kesehatan hingga transportasi, karena setiap sektor butuh solusi berbeda.

Telkom tidak bisa sendirian, butuh kolaborasi dengan akademisi, startup, global partner, regulator, dan media. Konsep Pentahelix ini krusial untuk membangun ekosistem AI nasional. Akademisi punya keahlian spesifik, startup punya solusi niche, regulator mengatur etika, dan media penting untuk edukasi publik.

Sektor transportasi menjadi prioritas utama Telkom. Meskipun spending ICT-nya tidak sebesar perbankan, pertumbuhannya mencapai 33 persen, tertinggi di antara sektor lain. "Itu artinya kebutuhan digitalisasi transportasi besar sekali," papar Faizal. "IoT untuk sensor, AI untuk rute efisien, cloud untuk data, security untuk proteksi. Jadi transportasi harus jadi prioritas."

Faizal juga menyinggung isu SDM. Talenta AI untuk hilirisasi cukup banyak, dihasilkan oleh universitas-universitas STEM. Namun, untuk hulu, yaitu riset dasar, Indonesia masih kurang. "Bukan salah universitas atau BRIN, tapi mungkin dukungan pemerintah masih lemah, terutama pendanaan riset dasar," jelasnya.

Soal dampak AI terhadap revenue, Faizal jujur. Di tahap awal, AI meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya, yang secara tidak langsung menaikkan profit. Tahap berikutnya, AI bisa menciptakan produk dan fitur baru sesuai kebutuhan pelanggan, yang akan mendorong revenue baru.

Ia juga mengingatkan soal risiko. "Setiap teknologi baru pasti ada risiko," katanya. "Kalau dulu pelanggaran privasi hanya soal foto, sekarang AI bisa bikin dua orang seolah berpelukan padahal tidak. Itu sudah beyond etik. Tapi saya bilang, ini nice problem. Problem karena kemajuan. Kita hadapi bersama."

Cak Lontong: Guyub, Mobil Otonom, dan Humor Visioner

Suasana mencair saat Lies Hartono, atau Cak Lontong, resmi dilantik sebagai Ketua Umum IKA ELITS 2025. Dengan gaya khasnya, ia berjanji akan melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, fokus pada merangkul lebih banyak alumni agar lebih solid dan kompak.

Cak Lontong menegaskan bahwa AI memang bisa menggantikan banyak pekerjaan, tapi bukan berarti kita harus kalah. "Kita harus berdaya, memanfaatkan AI untuk kehidupan yang lebih baik," ujarnya. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas generasi, di mana alumni muda dengan energinya dipadukan dengan arahan dari senior.

Ia pun memaparkan program konkret, termasuk event olahraga, kegiatan informal, hiburan, dan seminar. "Bahkan ada proyek dengan kampus yang akan kita support," katanya. "Kalau dulu ada mobil listrik dari Jakarta ke Surabaya, ke depan kita siapkan mobil tanpa supir. Bukan mobil rusak, ya, tapi mobil otonom," candanya, disambut aplaus audiens.

Suara Alumni: Antusiasme dan Tantangan Nyata

Antusiasme kongres juga dirasakan Dian Purnomo, Ketua Alumni Elektro ITS Jawa Timur. Ia terkesan dengan keragaman profesi alumni, yang membuktikan lulusan elektro ITS tersebar di berbagai sektor, bukan hanya teknik. "Acara ini sangat positif, sangat baik karena mempertemukan banyak profesional alumni elektro," ujarnya.

Bagi Dian, tema AI sangat relevan karena penerapannya kini merambah semua bidang, bahkan digunakan oleh anak-anak sekolah dasar. Ia menilai kongres ini bisa mendorong tumbuhnya komunitas yang memberdayakan AI dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, ia juga menyoroti tantangan kesiapan Indonesia. "Perkembangan AI begitu masif, tapi harus diikuti daya adaptasi pemerintah," katanya. "Banyak aspek yang harus disiapkan: infrastruktur, SDM, sampai etika. Bahkan regulasi etik penggunaan AI oleh anak-anak sekolah pun belum ada."

Dian memberi contoh sederhana: anak SD bisa membuat gambar gurunya dengan AI lalu memelesetkannya. "Bagi mereka itu mainan, tapi ada etika yang dilanggar. Jadi hal kecil itu pun harus diatur," tegasnya. Sebagai Ketua Alumni Jawa Timur, ia berharap kongres ini menjadi ajang sinergi lintas sektor, agar alumni lebih kompetitif dengan memanfaatkan AI dalam bisnis mereka.

Menenun Masa Depan AI: Kolaborasi dan Etika Jadi Kunci

Seperti mozaik, kongres ini merangkum berbagai sudut pandang. Dari Prof. Adhi yang menekankan etika dan kesiapan infrastruktur, Adir Ginting yang menuntut relevansi dan ekosistem, Faizal yang memetakan strategi industri dan peluang revenue, hingga Cak Lontong yang menyatukan semuanya dalam bahasa sederhana: guyub dan solid.

Kehadiran suara alumni seperti Dian Purnomo menegaskan bahwa diskusi tentang AI bukan hanya wacana elit. Dari pengusaha karung hingga akademisi, dari kampus hingga industri besar, semua punya peran dalam menyiapkan Indonesia.

Masa depan AI di Indonesia, seperti ditekankan dalam forum ini, bukan hanya tentang teknologi canggih. Ia adalah tentang kolaborasi, etika yang kuat, dan keberanian untuk terus berinovasi demi masyarakat luas. Pesannya jelas: Indonesia tidak boleh hanya jadi penonton atau pasar.

Dari forum alumni elektro ITS inilah lahir komitmen untuk berperan lebih besar, baik sebagai inovator, regulator, maupun penggerak ekosistem. Mungkin benar kata Cak Lontong, "AI memang bisa menggantikan banyak pekerjaan, tapi jangan sampai menggantikan semangat kita untuk bersinergi."

Akhirnya, masa depan bukan hanya tentang mesin, melainkan tentang manusia yang mampu memaknainya. AI hanyalah alat, tetapi nilai sejati terletak pada keberanian kita untuk berkolaborasi, menjaga etika, dan menyalakan harapan. Dari ruang kongres alumni ini, lahir keyakinan bahwa Indonesia mampu menenun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berdaya saing.

banner 325x300