Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bikin Merinding! BMKG Latih Simulasi Gempa Megathrust M 9.0 Selat Sunda, Ancaman Nyata di Depan Mata?

Peta zona megathrust Selat Sunda, berpotensi gempa besar dan tsunami di Jawa.
Simulasi antisipasi gempa megathrust dan tsunami di Selat Sunda.
banner 120x600
banner 468x60

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini menggelar latihan gabungan berskala besar. Latihan ini melibatkan 28 negara di kawasan Samudra Hindia, dengan fokus utama menyimulasikan skenario gempa megathrust dahsyat di Selat Sunda berkekuatan M 9,0 yang diikuti tsunami.

Simulasi tsunami internasional yang diberi nama Indian Ocean Wave Exercise (IOWAVE25) ini bukan sekadar latihan biasa. Tujuannya sangat krusial, yaitu untuk menguji dan memastikan sistem peringatan dini tsunami (Tsunami Early Warning System) serta kesiapsiagaan respons di wilayah rawan bencana dapat berfungsi secara efektif dan optimal.

banner 325x300

Mengapa Simulasi Ini Penting? Menguji Rantai Peringatan Dini "End-to-End"

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa latihan kali ini punya fokus khusus. Mereka ingin menguji rantai peringatan dini tsunami secara "end-to-end," atau dari hulu ke hilir, memastikan setiap tahapan berjalan mulus.

Alurnya dimulai dari BMKG sebagai National Tsunami Warning Center (NTWC), kemudian diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat lokal, hingga akhirnya informasi krusial ini sampai ke telinga masyarakat di wilayah pesisir. Ini bukan hanya soal mengeluarkan peringatan, tapi juga memastikan peringatan itu diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti dengan cepat oleh masyarakat terdampak.

"Pada IOWAVE25 hari ini, kita menguji skenario paling kritis: gempa dahsyat magnitudo (M) 9,0 di zona Megathrust Selat Sunda," ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis (25/9). Skenario ini dipilih karena potensinya yang sangat besar dan dampaknya yang bisa luar biasa.

Ia menambahkan, "Kami ingin memastikan peringatan dini tsunami bukan hanya dikeluarkan oleh BMKG selaku National Tsunami Warning Center (NTWC), tetapi juga diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti oleh masyarakat di wilayah pesisir terdampak." Ini adalah kunci utama untuk meminimalkan korban jiwa.

Mengenal Ancaman Megathrust Selat Sunda: Potensi Gempa Besar yang Tersembunyi

Potensi gempa besar dari zona megathrust di Selat Sunda memang sudah sering disinggung oleh BMKG. Megathrust sendiri adalah zona pertemuan lempeng tektonik yang saling menunjam, di mana satu lempeng menukik di bawah lempeng lainnya. Akumulasi energi di zona ini bisa dilepaskan dalam bentuk gempa bumi dahsyat.

BMKG mencatat bahwa saat ini ada dua zona megathrust yang masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Kedua zona ini sudah lama tidak melepaskan energi besarnya, sehingga berpotensi "meledak" kembali setelah jeda hingga ratusan tahun.

Dua Zona Megathrust ‘Tertidur’ yang Jadi Sorotan BMKG

Dua zona yang disebut sebagai "seismic gap" ini adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Seismic gap adalah istilah untuk zona sumber gempa potensial yang belum mengalami gempa besar dalam puluhan hingga ratusan tahun terakhir, padahal seharusnya sudah waktunya.

Pada tahun 2024, Daryono pernah menuturkan bahwa kedua zona megathrust ini "tinggal menunggu waktu" untuk pecah. Meskipun demikian, tidak ada yang bisa memprediksi secara pasti kapan gempa besar dari zona megathrust ini akan mengguncang daratan. Ini adalah ketidakpastian yang membuat kesiapsiagaan menjadi sangat penting.

Sejarah Gempa Dahsyat di Indonesia: Mengapa Kita Harus Waspada

Zona Megathrust Selat Sunda, yang membentang sepanjang 280 km dengan lebar 200 km dan laju pergeseran (slip rate) 4 cm per tahun, tercatat pernah "pecah" di masa lalu. Gempa dahsyat dengan Magnitudo 8,5 pernah mengguncang wilayah ini pada tahun 1699 dan 1780.

Sementara itu, Megathrust Mentawai-Siberut, dengan panjang 200 km dan lebar 200 km serta slip rate 4 cm per tahun, juga memiliki riwayat gempa besar. Wilayah ini pernah diguncang gempa M 8,7 pada tahun 1797 dan M 8,9 pada tahun 1833. Sejarah ini menjadi pengingat kuat akan potensi bencana yang bisa terulang.

IOWAVE 2025: Latihan Skala Internasional untuk Kesiapsiagaan Global

Latihan simulasi gempa dan tsunami yang dilakukan pada 25 September ini merupakan bagian dari rangkaian besar IOWAVE 2025. Rangkaian ini akan menguji total empat skenario tsunami yang berbeda, mencakup berbagai potensi ancaman di Samudra Hindia.

Skenario pertama adalah Megathrust Selat Sunda (M9,0) pada 25 September 2025. Kemudian dilanjutkan dengan Skenario Subduksi Makran Pakistan (M9,0) pada 15 Oktober 2025, Skenario Non-Seismik (Gunung Api Fani Maore Mozambik) pada 25 Oktober 2025, dan terakhir Skenario Megathrust Utara Sumatera (M9,2) pada 5 November 2025, yang bertepatan dengan Hari Kesadaran Tsunami Dunia (World Tsunami Awareness Day).

Dari Peringatan Dini Menuju Aksi Nyata: Mengubah Pengetahuan Menjadi Tindakan

Kegiatan IOWAVE 2025 mencakup berbagai jenis latihan. Mulai dari Table Top Exercise untuk menguji Standar Operasional Prosedur (SOP), gladi komunikasi antar lembaga, hingga simulasi evakuasi mandiri yang sangat penting bagi masyarakat. Ini semua dirancang untuk memastikan setiap elemen sistem peringatan dini berfungsi optimal.

BMKG sangat menekankan bahwa peringatan dini tsunami harus diwujudkan bukan hanya sebagai Early Warning (peringatan awal), melainkan juga sebagai Early Action (aksi cepat) atau respons cepat. Artinya, informasi peringatan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan penyelamatan diri.

Mewujudkan Komunitas Tangguh Tsunami: Peran Masyarakat Sangat Krusial

Oleh karena itu, latihan IOWAVE 2025 juga mendorong masyarakat di daerah rawan tsunami untuk secara aktif melaksanakan Latihan Evakuasi Mandiri. Ini adalah bagian integral dari upaya untuk mewujudkan Tsunami Ready Community atau komunitas yang siap menghadapi tsunami.

Masyarakat harus terlatih dan memahami bagaimana merespons peringatan tsunami, baik yang bersumber dari sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) maupun dari tanda-tanda alam. Kesiapsiagaan individu dan keluarga adalah benteng pertama dalam menghadapi bencana.

"Tsunami adalah bencana low frequency (jarang terjadi) namun high impact (dampak tinggi) yang dapat merenggut puluhan hingga ribuan nyawa," kata Daryono. Pernyataan ini menegaskan betapa seriusnya ancaman tsunami, meskipun frekuensinya tidak sesering gempa bumi biasa.

"Tujuan mulia InaTEWS adalah ‘zero victims’ apabila terjadi gempa dan tsunami. Ini hanya dapat tercapai jika semua komponen—pemerintah, lembaga, media, dan masyarakat—bersatu padu dan terlatih untuk merespons peringatan dengan cepat, tertib, dan terkendali," tandasnya. Kolaborasi dan kesadaran kolektif adalah kunci utama untuk mencapai tujuan mulia ini.

banner 325x300