Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Sukabumi Diguncang Gempa Beruntun: BMKG Ungkap Biang Kerok Sebenarnya!

Peta BMKG menunjukkan pusat gempa Sukabumi 21 Agustus 2019.
Peta guncangan gempa Sukabumi oleh BMKG pada 21 Agustus 2019.
banner 120x600
banner 468x60

Akhir pekan lalu, warga Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya dikejutkan oleh serangkaian guncangan gempa yang tak henti. Bukan hanya satu, puluhan gempa susulan membuat tidur tak nyenyak dan kekhawatiran melanda. BMKG pun segera turun tangan untuk mengungkap apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena alam yang mencekam ini.

Menurut BMKG, gempa yang mengguncang Sukabumi adalah jenis gempa tektonik kerak dangkal atau shallow crustal earthquake. Ini berarti sumber gempa berada sangat dekat dengan permukaan bumi, dan pemicunya adalah aktivitas sesar aktif yang selama ini mungkin belum banyak diketahui publik. Penjelasan ini tentu saja penting untuk memahami risiko dan potensi bahaya di masa mendatang.

banner 325x300

Aktivitas Sesar Aktif: Dalang di Balik Guncangan

Gempa tektonik kerak dangkal adalah jenis gempa yang hiposenternya (pusat gempa di bawah tanah) berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Dalam kasus Sukabumi ini, kedalamannya hanya 7 kilometer. Kedalaman yang sangat dangkal inilah yang seringkali membuat guncangan terasa lebih kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih signifikan di permukaan, meskipun magnitudo gempanya tidak terlalu besar.

Aktivitas sesar aktif merujuk pada patahan di kerak bumi yang masih bergerak dan bisa melepaskan energi dalam bentuk gempa. Wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, memang dikenal memiliki banyak sesar aktif. Penemuan bahwa gempa Sukabumi dipicu oleh sesar aktif ini menjadi pengingat penting akan dinamika geologi di bawah tanah kita.

Malam Mencekam di Sukabumi: Gempa Utama dan Puluhan Susulan

Semua bermula pada Sabtu malam, tepatnya pukul 23:47:44 WIB. Gempa pertama dengan magnitudo M4,0 menggetarkan Sukabumi, membangunkan banyak warga dari tidur mereka. Guncangan ini terasa cukup kuat dan menimbulkan kepanikan sesaat. Namun, itu hanyalah permulaan dari serangkaian peristiwa yang akan terjadi.

Setelah gempa utama, warga harus menghadapi puluhan gempa susulan yang datang silih berganti. Bayangkan saja, dalam waktu singkat, total 39 gempa susulan tercatat oleh BMKG. Lima di antaranya bahkan dirasakan langsung oleh warga, dengan kekuatan bervariasi antara M3,0 hingga M3,8. Kondisi ini tentu saja membuat warga tidak bisa tenang dan terus waspada.

BMKG Turun Tangan: Membedah Mekanisme Gempa

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan secara rinci hasil analisis mereka. Pusat gempa atau episenter terletak di darat, tepatnya di wilayah Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Informasi ini krusial untuk memetakan area terdampak dan memahami sumber guncangan.

Salah satu hal menarik yang diungkap BMKG adalah bukti gempa Sukabumi-Bogor ini adalah gempa tektonik murni. Hal ini terlihat dari bentuk gelombang gempa (waveform) yang tercatat oleh Sensor Seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko). Karakteristik gelombang S (shear) yang tampak kuat dengan komponen frekuensi tinggi menjadi indikator kuat bahwa ini bukan gempa vulkanik, melainkan murni pergerakan lempeng bumi.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau geser. Ini berarti dua blok batuan di sepanjang sesar bergerak saling bergeser secara horizontal. Pemahaman tentang mekanisme ini membantu para ahli memprediksi potensi pergerakan sesar di masa depan dan risiko gempa yang mungkin timbul.

Bukan Sesar Citarik: BMKG Ungkap Lokasi Sumber Gempa

Sebelumnya, mungkin ada spekulasi bahwa gempa ini terkait dengan Sesar Citarik, salah satu sesar aktif yang cukup dikenal di Jawa Barat. Namun, Daryono dengan tegas membantah hal tersebut. Menurutnya, rangkaian gempa ini tidak dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik.

Alasannya jelas: pusat gempa utama dan puluhan gempa susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik. Ini menunjukkan bahwa ada sesar aktif lain yang menjadi pemicu gempa di wilayah Kabandungan. Penemuan ini penting untuk pemetaan risiko gempa yang lebih akurat di wilayah tersebut.

Kerusakan Ringan, Dampak Nyata: Mengapa Gempa Dangkal Berbahaya?

Meskipun magnitudo gempa utama tergolong sedang (M4,0), rangkaian guncangan ini tetap menimbulkan kerusakan. Catatan sementara menunjukkan ada 5 rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, yang mengalami kerusakan ringan. Selain itu, 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat akibat dampak gempa ini.

Kerusakan yang terjadi ini bukan tanpa alasan. Daryono menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang berkontribusi: pertama, hiposenter gempa yang dangkal (hanya 7 km) membuat energi gempa langsung terasa kuat di permukaan. Kedua, kondisi tanah yang lunak di zona gempa memperkuat efek guncangan. Dan ketiga, struktur bangunan yang lemah dan tidak standar tahan gempa menjadi sangat rentan terhadap kerusakan. Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua tentang pentingnya konstruksi bangunan yang aman gempa.

Sejarah Gempa di Kabandungan: Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan

Kabandungan ternyata bukan kali ini saja menjadi langganan gempa merusak. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini memang rentan terhadap guncangan. Pada Maret 2020, ratusan rumah rusak di 6 kecamatan, termasuk Kabandungan, akibat gempa serupa.

Tak hanya itu, pada Juli 2000, gempa juga merusak banyak rumah di beberapa kecamatan, termasuk Kabandungan. Dan yang terbaru sebelum ini, pada Desember 2023, gempa di Pamijahan dan Kabandungan menyebabkan 61 rumah rusak. Deretan kejadian ini menjadi peringatan keras bahwa wilayah ini memiliki risiko gempa yang signifikan dan membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih baik dari semua pihak.

Maka, gempa beruntun di Sukabumi ini bukan sekadar berita lewat. Ini adalah panggilan untuk kita semua agar lebih memahami kondisi geologi di sekitar kita, meningkatkan kesiapsiagaan, dan memastikan bahwa infrastruktur kita cukup kuat untuk menghadapi potensi guncangan di masa depan.

banner 325x300