Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terkuak! Ini 3 Biang Kerok Kerusakan Rumah Akibat Gempa Sukabumi Menurut BMKG

Peta pusat gempa Sukabumi dengan magnitudo 5.8 dan kedalaman 104 km.
Lokasi episentrum gempa Sukabumi, Jawa Barat, pada Desember 2022.
banner 120x600
banner 468x60

Akhir pekan lalu, warga Kabupaten Sukabumi dikejutkan oleh serangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah mereka. Guncangan ini tak hanya menimbulkan kepanikan dan ketakutan yang mendalam, tetapi juga menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa dampak kerusakannya begitu signifikan, bahkan dari gempa yang magnitudonya tidak terlalu besar?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya angkat bicara untuk menjawab pertanyaan krusial ini. Mereka mengungkap tiga faktor utama yang menjadi "biang kerok" di balik kerusakan rumah-rumah warga. Ternyata, bukan hanya kekuatan gempa semata yang menjadi penyebabnya, melainkan kombinasi elemen-elemen tertentu yang jarang disadari.

banner 325x300

Mengapa Rumah Warga Rusak Parah? BMKG Punya Jawabannya

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan secara gamblang mengenai penyebab di balik kerusakan yang terjadi. Menurutnya, ada kombinasi tiga faktor yang membuat bangunan rumah di Sukabumi sangat rentan terhadap kerusakan saat gempa mengguncang. Informasi ini sangat krusial dan wajib diketahui oleh seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan gempa.

Pertama, hiposenter gempa yang sangat dangkal menjadi penyebab utama yang tak bisa diabaikan. Gempa dangkal berarti pusat gempa berada relatif dekat dengan permukaan tanah, sehingga energi yang dilepaskan langsung terasa kuat dan intens di area terdampak. Bayangkan saja, guncangan langsung menghantam dari bawah, memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan gempa dalam.

Faktor kedua adalah kondisi tanah yang lunak di zona gempa. Tanah lunak memiliki karakteristik yang cenderung memperkuat gelombang seismik, membuatnya bergetar lebih hebat dan lebih lama. Fenomena ini dikenal sebagai amplifikasi tanah, di mana gelombang gempa "diperbesar" saat melewati lapisan tanah yang tidak padat. Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi struktur bangunan yang berdiri di atasnya, karena fondasi tidak mampu menahan getaran ekstrem.

Terakhir, dan tak kalah penting, adalah struktur bangunan yang lemah dan tidak standar tahan gempa. Banyak rumah warga yang dibangun tanpa mempertimbangkan potensi gempa, sehingga menggunakan material atau desain yang kurang kokoh. Bangunan seperti ini mudah retak, bahkan roboh, saat diguncang gempa. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua akan urgensi pembangunan yang memenuhi standar keamanan gempa.

Kronologi Gempa Sukabumi: Dari Guncangan Utama Hingga Puluhan Susulan

Rangkaian gempa yang mengejutkan warga ini dimulai pada Sabtu malam, tepatnya pukul 23:47:44 WIB, dengan kekuatan Magnitudo 4,0. Guncangan utama ini cukup membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah, mencari tempat yang lebih aman. Namun, ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian yang menguji ketahanan mereka.

Setelah gempa utama, puluhan gempa susulan terus terjadi di hari berikutnya, Minggu (21/9). BMKG mencatat total 39 gempa susulan, meskipun tidak semuanya dirasakan oleh warga. Lima di antaranya cukup kuat untuk membuat warga kembali merasakan guncangan yang mengkhawatirkan, dengan magnitudo bervariasi antara M3,0, M3,8, M2,6, M2,8, dan M3,8. Magnitudo gempa susulan terbesar sendiri berkekuatan M3,8 dan terkecil M1,9.

Dampak dari rangkaian gempa ini memang tidak main-main dan menimbulkan kerugian nyata. Beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Data sementara menunjukkan ada lima rumah yang terdampak, memaksa sekitar 20 jiwa harus mengungsi dan menghadapi situasi darurat yang tidak terduga.

Bukan Gempa Vulkanik, BMKG Pastikan Gempa Tektonik Dangkal

BMKG juga menegaskan bahwa gempa yang mengguncang Kabupaten Sukabumi dan wilayah sekitarnya ini adalah jenis gempa tektonik kerak dangkal, atau yang dikenal sebagai shallow crustal earthquake. Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di bawah permukaan bumi, yang berarti bukan berasal dari aktivitas gunung berapi. Ini adalah perbedaan fundamental yang penting untuk dipahami.

Daryono menjelaskan lebih lanjut, episenter atau pusat gempa ini berada di darat, tepatnya di wilayah Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi. Ini berarti sumber guncangan memang berasal dari pergerakan lempeng di dalam tanah, bukan dari aktivitas magma atau letusan gunung berapi. Pemahaman ini membantu menghilangkan kekhawatiran yang tidak perlu terkait aktivitas vulkanik.

Bukti kuat bahwa ini adalah gempa tektonik terlihat dari bentuk gelombang gempa (waveform) yang tercatat oleh Sensor Seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko). Karakteristik gelombang S (shear) tampak sangat kuat dengan komponen frekuensi tinggi, yang merupakan ciri khas gempa tektonik. Fakta ini sekaligus menepis dugaan bahwa gempa yang terjadi dipicu oleh gempa volkanik, memberikan kejelasan ilmiah kepada publik.

Mekanisme Gempa dan Bantahan Sesar Citarik

Analisis mendalam dari BMKG juga mengungkapkan mekanisme pergerakan gempa ini. Gempa Sukabumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau geser (strike-slip fault). Ini menunjukkan bagaimana lempeng-lempeng bumi bergeser secara horizontal satu sama lain, menciptakan tekanan yang akhirnya dilepaskan sebagai gempa. Memahami mekanisme ini penting untuk memprediksi pola pergerakan di masa depan.

Menariknya, Daryono juga membantah spekulasi yang mengaitkan gempa ini dengan aktivitas Sesar Citarik. Ia menjelaskan bahwa pusat gempa utama dan gempa susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik. Ini menunjukkan bahwa ada sesar aktif lain yang bertanggung jawab atas guncangan kali ini, bukan Sesar Citarik yang sering disebut-sebut.

Identifikasi sesar aktif yang tepat sangat penting untuk pemetaan risiko bencana di masa depan. Dengan mengetahui secara akurat sesar mana yang aktif dan bagaimana karakteristik pergerakannya, pemerintah dan masyarakat bisa lebih siap dalam menghadapi potensi gempa di kemudian hari. Ini adalah langkah proaktif yang harus terus dilakukan untuk mitigasi bencana yang efektif.

Sejarah Gempa Merusak di Sukabumi: Bukan Kejadian Pertama Kali

Jika Anda berpikir ini adalah kali pertama Sukabumi diguncang gempa merusak, Anda keliru besar. Daryono mengingatkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang dengan kejadian serupa, menunjukkan kerentanan geologis yang signifikan. Kabandungan, khususnya, tampaknya menjadi langganan gempa yang sering menimbulkan kerusakan.

Pada Maret 2020, misalnya, ratusan rumah rusak di enam kecamatan, termasuk Kabandungan, akibat gempa yang cukup kuat. Kejadian serupa juga terjadi pada Juli 2000, di mana banyak rumah hancur di beberapa kecamatan, lagi-lagi termasuk Kabandungan. Seolah-olah wilayah ini memang memiliki kerentanan tersendiri yang harus selalu diwaspadai.

Bahkan, tidak butuh waktu lama, hanya tiga tahun berselang dari kejadian Juli 2000, gempa merusak kembali terjadi pada Desember 2003. Kali ini, wilayah Pamijahan dan Kabandungan menjadi lokasi terdampak, menyebabkan 61 rumah rusak. Sejarah ini menjadi pengingat serius akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

Pentingnya Kesiapsiagaan dan Bangunan Tahan Gempa

Melihat sejarah dan penjelasan BMKG, jelas bahwa Kabupaten Sukabumi, terutama Kabandungan, adalah wilayah yang rentan terhadap gempa bumi. Kombinasi hiposenter dangkal, kondisi tanah lunak, dan struktur bangunan yang tidak tahan gempa menjadi resep sempurna untuk kerusakan yang signifikan setiap kali gempa terjadi. Ini adalah realitas yang harus dihadapi.

Oleh karena itu, edukasi mengenai bangunan tahan gempa dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi sangat vital. Pemerintah daerah, bersama dengan masyarakat, perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap pembangunan mempertimbangkan standar keamanan gempa yang berlaku. Ini bukan hanya tentang membangun kembali, tetapi membangun dengan lebih kuat dan aman.

Masyarakat juga diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan lembaga terkait lainnya. Memahami karakteristik gempa di wilayah sendiri adalah langkah awal untuk melindungi diri dan keluarga. Mari belajar dari pengalaman dan bersiap lebih baik untuk menghadapi potensi gempa di masa depan, demi keselamatan bersama.

banner 325x300