banner 728x250

Muktamar PPP Membara: Dua Ketua Umum Klaim Aklamasi, Masa Depan Partai Terancam!

Suasana sebuah acara pertemuan dengan banyak peserta dan seorang pembawa bendera.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diterpa dualisme kepemimpinan usai Muktamar, mengancam eksistensi partai ke depan.
banner 120x600
banner 468x60

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali diterpa badai internal yang mengancam masa depannya. Muktamar X di Jakarta, yang seharusnya menjadi ajang konsolidasi dan penentuan arah partai, justru melahirkan dualisme kepemimpinan yang pelik. Dua tokoh sentral, Muhamad Mardiono dan Agus Suparmanto, kini sama-sama mengklaim diri sebagai Ketua Umum terpilih secara aklamasi.

Situasi ini menciptakan kebingungan dan perpecahan di tubuh partai berlambang Ka’bah tersebut. Pertarungan klaim ini bukan hanya sekadar perebutan posisi, melainkan juga pertaruhan besar bagi eksistensi PPP di kancah politik nasional, terutama setelah kegagalan menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 lalu.

banner 325x300

Mardiono Klaim Aklamasi, Siap Dukung Prabowo dan Benahi Partai

Muhamad Mardiono, yang sebelumnya menjabat sebagai Plt. Ketua Umum PPP, menyatakan dirinya telah terpilih secara aklamasi pada 27 September 2025. Klaim ini didasarkan pada dukungan yang disebut-sebut datang dari 30 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) seluruh Indonesia dalam Muktamar X di Jakarta. Dengan dukungan ini, Mardiono meyakini posisinya sebagai ketua umum definitif.

Setelah klaim kemenangannya, Mardiono langsung mengumumkan fokus utama kepemimpinannya. Ia berjanji akan membenahi tata kelola partai secara menyeluruh demi target ambisius: kembali masuk ke Parlemen pada Pemilu 2029. "Bismillah kami akan fokus pada penyusunan strategi transformasi PPP menuju Pemilu 2029," ujar Mardiono kepada wartawan.

Selain fokus internal, Mardiono juga menegaskan komitmen PPP untuk mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai partai yang juga berjalan bersama pemerintah, PPP siap mendukung program-program prioritas yang dicanangkan oleh Presiden terpilih. Hal ini menunjukkan arah politik PPP di bawah kepemimpinan Mardiono yang cenderung pro-pemerintah.

Mardiono, yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, ingin PPP membersamai rakyat dalam mengembangkan ekonomi umat. Ia memastikan partainya akan mendukung sejumlah program prioritas pemerintah. Program-program tersebut meliputi ketahanan pangan, koperasi merah putih, sekolah rakyat, kesehatan gratis, dan makan bergizi gratis (MBG). "Tentu program-program prioritas Presiden pro dengan rakyat, maka kami juga mendorong pengembangan ekonomi umat," tambah Mardiono, menunjukkan fokus pada kesejahteraan masyarakat.

Kubu Agus Suparmanto Tak Terima, Klaim Aklamasi yang Sah

Namun, klaim kemenangan Mardiono tidak berjalan mulus dan langsung mendapat bantahan keras. Kubu Agus Suparmanto juga menyatakan bahwa mantan Menteri Perdagangan itulah yang terpilih sebagai ketua umum melalui aklamasi dalam forum Muktamar X yang mereka anggap sah. Situasi ini menciptakan dua kubu yang saling mengklaim legitimasi.

Sekretaris SC Muktamar X PPP, Rusman Yakub, menegaskan bahwa Agus Suparmanto ditetapkan secara aklamasi pada pukul 01.00 dini hari, Minggu (28/9/2025). Proses penetapan ini berlangsung dalam sidang yang dipimpin oleh Qoyum Abdul Jabbar, pimpinan Sidang Paripurna VIII. Kubu Agus Suparmanto menolak klaim kemenangan Mardiono dan menyatakan bahwa keputusan aklamasi Agus merupakan kehendak Muktamar dan aspirasi muktamirin yang sesungguhnya.

Qoyum Abdul Jabbar menyayangkan tindakan pihak Mardiono yang melakukan klaim sepihak dan menyebarkan berita tersebut di media. Ia menegaskan bahwa argumentasi aklamasi hanya dengan absen tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, ketua umum terpilih bersama formatur akan segera menyusun kepengurusan dengan mengakomodir kekuatan PPP secara keseluruhan, bukan hanya satu kubu.

Romahurmuziy: “Ini Muktamar atau Mau Ngamar?”

Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy atau yang akrab disapa Rommy, turut angkat bicara dan memperkeruh suasana. Ia dengan tegas membantah klaim aklamasi Muhamad Mardiono sebagai Ketua Umum PPP periode 2025-2030. Rommy menyebut klaim tersebut "tidak benar dan hanya klaim sepihak."

Kritikan Rommy semakin tajam ketika menyoroti lokasi aklamasi Mardiono yang disebutnya dilakukan di kamar hotel. "Ini Muktamar atau mau ngamar? Setelah kabur dari arena muktamar, mengumumkan aklamasi dari kamar. Kalau pun dagelan, ini dagelan tingkat dewa," ucap Rommy dengan nada sindiran keras pada Minggu (28/09/2025). Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya perpecahan dan saling serang di internal PPP.

Dualisme Ancam Masa Depan Elektoral PPP

Dualisme kepemimpinan antara Agus Suparmanto dan Muhamad Mardiono menjadi ancaman serius bagi masa depan elektoral PPP. Konflik internal yang berkepanjangan ini dikhawatirkan akan semakin menjauhkan partai dari konstituen setianya, yang sudah merasa kecewa dengan kondisi partai.

Terlebih, PPP baru saja mengalami pukulan telak setelah gagal menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024. Perpecahan internal ini bisa memperparah kondisi partai, memicu eksodus konstituen, dan membuat upaya untuk kembali ke Senayan pada 2029 menjadi semakin sulit. Konflik ini berpotensi menggerus kepercayaan publik dan merusak citra partai yang sudah rapuh.

Kiai Serukan Islah: Jalan Damai Demi Selamatkan Partai

Melihat kondisi yang semakin memanas dan mengkhawatirkan, sejumlah kiai di PPP telah menyerukan jalan islah atau perdamaian sebagai solusi mendesak. Islah dianggap krusial untuk mencegah kinerja partai tidak maksimal dan menghindari kehancuran lebih lanjut akibat perpecahan.

Perdamaian internal sangat penting agar PPP bisa kembali fokus pada pembenahan, konsolidasi, dan upaya meraih kepercayaan rakyat. Tanpa islah, masa depan partai berlambang Ka’bah ini di ambang ketidakpastian, dan cita-cita untuk kembali berjaya di panggung politik nasional mungkin hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Kini, bola panas ada di tangan para petinggi PPP. Apakah mereka mampu menemukan titik temu dan menyelamatkan partai dari perpecahan, ataukah dualisme ini akan menjadi babak akhir perjalanan politik mereka? Hanya waktu yang akan menjawab nasib partai yang pernah menjadi pilar politik Islam di Indonesia ini.

banner 325x300