Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Netanyahu ‘Nyelip’ ke New York: Rute Penerbangan Berubah Drastis, Hindari Penangkapan ICC?

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikawal rombongan keamanan saat melakukan perjalanan udara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam perjalanan ke New York. Rute penerbangannya diubah untuk menghindari negara anggota ICC.
banner 120x600
banner 468x60

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini membuat heboh dengan perubahan rute penerbangannya yang tak biasa. Ia sedang dalam perjalanan menuju New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (26/9). Namun, ada alasan kuat di balik manuver udaranya yang tak lazim ini.

Mengapa Rute Penerbangan Berubah?

Pesawat Netanyahu terlacak menghindari sejumlah negara Eropa yang merupakan anggota Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Ini adalah langkah yang sangat tidak biasa dan memicu banyak spekulasi.

banner 325x300

Biasanya, rute pesawat Netanyahu ke AS akan melintasi Yunani, Italia, dan Prancis. Kini, pesawatnya hanya melewati Yunani dan Italia, lalu berbelok jauh ke Selat Gibraltar sebelum menyeberangi Samudra Atlantik.

Perubahan drastis ini bukan tanpa sebab. Dilansir dari The Jerusalem Post, sumber dari Israel menyebutkan adanya kekhawatiran serius terkait izin terbang di wilayah udara negara-negara tertentu. Pemerintah Israel khawatir beberapa negara tidak akan mengizinkan Netanyahu melintas di wilayah mereka.

Status Buronan ICC: Ancaman Nyata Bagi Netanyahu

Kekhawatiran ini sangat beralasan, mengingat Netanyahu sendiri saat ini berstatus buronan ICC. Pada 21 November 2024, ICC merilis surat perintah penangkapan terhadap dirinya dan eks Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

Mereka dituduh melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan menggunakan kelaparan sebagai senjata terhadap rakyat Gaza. Ini adalah tuduhan yang sangat serius di mata hukum internasional.

Negara-negara yang meratifikasi Statuta Roma, yang merupakan dasar hukum ICC, wajib menangkap Netanyahu dan Gallant jika mereka menginjakkan kaki di wilayah mereka. Hal ini membuat perjalanan Netanyahu menjadi sangat berisiko.

Negara Mana Saja yang Dihindari?

Prancis, yang biasanya menjadi bagian dari rute penerbangan Netanyahu, adalah salah satu negara peratifikasi Statuta Roma dan otomatis anggota ICC. Selain Prancis, Portugal dan Spanyol juga dihindari oleh pesawat Netanyahu.

Ketiga negara tersebut juga secara terbuka mengakui negara Palestina, dengan pengakuan Portugal dan Prancis dilakukan baru-baru ini, yakni pada 21 dan 22 September. Ini menambah lapisan kompleksitas pada situasi diplomatik.

Menariknya, seorang diplomat Prancis bahkan sempat menyatakan kepada AFP dan CNN bahwa negaranya sudah mengizinkan Netanyahu untuk melintas jika hendak ke New York. Namun, entah mengapa, tim Netanyahu tetap memilih rute lain, membuat diplomat tersebut bingung akan alasannya.

Dampak Perubahan Rute: Penumpang Terbatas!

Akibat mengambil rute yang lebih jauh, penerbangan Netanyahu menjadi lebih panjang dan membutuhkan lebih banyak bahan bakar. Untuk mengurangi beban pesawat dan menghemat konsumsi bensin, jumlah penumpang dan barang bawaan pun harus dibatasi secara signifikan.

Beberapa jurnalis dan rombongan Netanyahu terpaksa tidak ikut dalam perjalanan penting ini ke New York. Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari keputusan perubahan rute tersebut.

Kantor PM Israel menjelaskan bahwa pembatasan ini dilakukan karena "pengaturan teknis terkait tempat duduk dan keamanan." Sebuah pernyataan yang cukup diplomatis untuk situasi yang tidak biasa ini.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan hukum internasional dapat memengaruhi pergerakan seorang pemimpin negara. Netanyahu harus menempuh jalan memutar demi menghindari potensi penangkapan, sebuah ironi di tengah agenda diplomatik globalnya.

banner 325x300