Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Dua Lipa Ambil Langkah Drastis: Manajer Lama Dipecat Usai Kontroversi Palestina dan Grup Kneecap

Dua Lipa dengan penutup kepala bermotif, kalung, dan cincin, isu Palestina.
Dua Lipa mengakhiri kerja sama dengan manajernya karena konflik nilai terkait isu Palestina.
banner 120x600
banner 468x60

Dunia musik kembali dihebohkan dengan kabar mengejutkan dari superstar pop global, Dua Lipa. Penyanyi yang dikenal dengan hits seperti "Levitating" ini dilaporkan telah mengakhiri kerja sama dengan manajer lamanya, David Levy, setelah adanya konflik nilai yang berkaitan dengan isu Palestina. Keputusan ini datang setelah Levy menandatangani surat yang meminta pelarangan grup musik pro-Palestina, Kneecap, untuk tampil di festival Glastonbury.

Konflik Nilai yang Tak Terhindarkan

banner 325x300

Perpisahan antara Dua Lipa dan David Levy bukanlah sekadar masalah bisnis biasa. Menurut laporan dari Metro pada Senin (22/9), konflik ini berakar pada perbedaan pandangan yang fundamental terkait isu kemanusiaan di Palestina. Dua Lipa dikenal sebagai figur publik yang secara vokal dan terang-terangan mendukung Palestina, sebuah sikap yang sering ia tunjukkan melalui media sosial dan pernyataan publik.

Di sisi lain, David Levy, manajer yang telah lama mendampingi karier Dua Lipa, mengambil tindakan yang justru bertentangan dengan pandangan sang artis. Ia menjadi orang pertama yang menandatangani surat untuk melarang Kneecap tampil di salah satu festival musik terbesar di dunia. Tindakan ini secara langsung menempatkan Levy pada posisi yang berseberangan dengan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Dua Lipa.

"Dua memastikan melalui orang-orangnya bahwa David Levy tidak lagi menggarap musiknya," ungkap sebuah sumber terdekat kepada Metro. Sumber tersebut menambahkan bahwa Dua Lipa sangat terbuka pro-Palestina, dan hal itu tidak sejalan dengan pandangan David Levy. Bagi Dua Lipa, tindakan Levy tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap perang Israel di Gaza dan perlakuan buruk terhadap Palestina.

Surat yang ditandatangani Levy dan dikirimkan kepada Michael Eavis, pendiri Glastonbury, menjadi pemicu utama perpisahan ini. Ini bukan hanya tentang manajemen artis, melainkan tentang integritas dan konsistensi dalam menyuarakan keyakinan. Keputusan Dua Lipa ini menunjukkan betapa seriusnya ia dalam menyikapi isu-isu global yang menyentuh hati nuraninya.

Siapa Kneecap dan Mengapa Mereka Kontroversial?

Grup musik asal Irlandia Utara, Kneecap, menjadi pusat kontroversi yang memicu perpisahan Dua Lipa dan manajernya. Grup ini dikenal karena lirik-liriknya yang provokatif, penggunaan bahasa Irlandia, dan sikap politik mereka yang vokal, terutama dalam mendukung Palestina. Namun, popularitas mereka juga diiringi dengan berbagai tuduhan dan penolakan.

Salah satu insiden yang paling disorot adalah ketika salah satu anggota Kneecap, Chara Mo, mengibarkan bendera Hizbullah di Inggris tahun lalu. Aksi ini sontak memicu gelombang kritik dan menjadi dasar bagi banyak pihak untuk menyerukan pelarangan mereka tampil di berbagai acara, termasuk Glastonbury. Bagi sebagian orang, tindakan tersebut dianggap sebagai dukungan terhadap organisasi yang dianggap teroris.

Permintaan pelarangan Kneecap tampil di Glastonbury telah bergulir sejak tahun lalu, bahkan sebelum surat yang ditandatangani David Levy muncul ke publik. Tekanan untuk melarang mereka semakin kuat setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara terbuka menentang penampilan grup tersebut. Starmer menyatakan bahwa penampilan Kneecap di Panggung West Holts pada 28 Juni "tidak pantas."

Kneecap sendiri tidak gentar menghadapi kritik dan terus menyuarakan pandangan mereka. Mereka menggunakan platform musik mereka untuk menyuarakan solidaritas terhadap Palestina, bahkan di panggung internasional. Hal ini menunjukkan komitmen mereka yang kuat terhadap aktivisme, meskipun harus menghadapi konsekuensi yang tidak ringan.

Gelombang Penolakan dan Pembelaan untuk Kneecap

Kontroversi seputar Kneecap tidak hanya terbatas di Inggris. Pada April 2025, grup ini juga membuat pernyataan pro-Palestina yang kuat saat tampil di festival Coachella, Amerika Serikat. Penampilan tersebut langsung menuai kecaman dari kritikus seperti Sharon Osbourne, yang mengecam Kneecap karena dianggap "mempromosikan organisasi teroris atau menyebarkan kebencian."

Puncak dari serangkaian penolakan ini terjadi pada pekan lalu, tepatnya Senin (15/9), ketika Kneecap resmi dilarang masuk Kanada. Larangan ini diumumkan oleh Vince Gasparro, Sekretaris Parlemen untuk Pemberantasan Kejahatan, melalui sebuah video di X/Twitter. Gasparro menyatakan bahwa Kneecap telah "memperkuat kekerasan politik dan secara terbuka menunjukkan dukungan untuk organisasi teroris seperti Hizbullah dan Hamas."

Tuduhan ini tentu saja ditanggapi dengan keras oleh Kneecap. Mereka tidak tinggal diam dan memilih jalur hukum untuk membela diri. Grup ini mengajukan gugatan terhadap Gasparro atas pernyataan yang mereka anggap tidak berdasar dan merugikan. Kneecap menegaskan bahwa mereka akan gigih membela diri terhadap tuduhan tak berdasar yang bertujuan membungkam penentangan mereka terhadap genosida yang dilakukan oleh Israel.

Dalam pernyataan mereka, Kneecap juga menunjukkan komitmen kemanusiaan yang mendalam. Mereka berjanji, "Ketika kami mengalahkan kalian di pengadilan, yang pasti akan kami lakukan, kami akan menyumbangkan setiap sen untuk membantu ribuan anak di Gaza." Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan keberanian mereka dalam menghadapi tekanan politik, tetapi juga dedikasi mereka terhadap tujuan yang lebih besar.

Dampak dan Implikasi di Industri Hiburan

Keputusan Dua Lipa untuk memecat manajernya ini mengirimkan gelombang kejut ke seluruh industri hiburan. Ini bukan sekadar berita gosip selebriti, melainkan cerminan dari meningkatnya kesadaran dan tuntutan bagi para artis untuk mengambil sikap dalam isu-isu sosial dan politik. Di era digital, di mana informasi menyebar dengan cepat, netralitas menjadi semakin sulit dipertahankan.

Kasus ini menyoroti betapa krusialnya keselarasan nilai antara seorang artis dan tim manajemennya. Manajer tidak hanya bertanggung jawab atas aspek bisnis dan karier, tetapi juga menjadi representasi dari citra dan nilai-nilai yang dipegang oleh artis. Ketika terjadi perbedaan pandangan yang fundamental, terutama dalam isu-isu sensitif seperti konflik Palestina, perpisahan menjadi pilihan yang tak terhindarkan.

Peristiwa ini juga menunjukkan risiko yang dihadapi oleh para profesional di balik layar. David Levy, yang mungkin hanya menjalankan apa yang ia yakini benar, kini harus menghadapi konsekuensi profesional yang besar. Di sisi lain, Dua Lipa menunjukkan bahwa ia siap mengambil langkah drastis untuk menjaga integritas dan konsistensi dengan keyakinannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan hubungan kerja yang sudah terjalin lama.

Pada akhirnya, insiden ini menegaskan bahwa musik dan politik tidak dapat dipisahkan sepenuhnya. Artis memiliki platform yang kuat untuk menyuarakan pandangan mereka, dan keputusan mereka dapat memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada karier mereka sendiri tetapi juga pada diskusi publik tentang isu-isu penting. Kisah Dua Lipa, David Levy, dan Kneecap adalah pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada prinsip-prinsip yang diperjuangkan.

banner 325x300