Perjalanan Tim beregu putra Indonesia di ajang Badminton Asia Team Championship (BATC) 2026 harus terhenti di babak semifinal. Bertanding di Qingdao, China, pada Sabtu (7/2) malam, skuad Garuda tak mampu membendung kekuatan Jepang dan harus mengakui keunggulan lawan dengan skor akhir 1-3. Kekalahan ini sekaligus memupuskan harapan Indonesia untuk melaju ke partai puncak dan membawa pulang gelar juara.
Pertandingan yang berlangsung sengit ini menyisakan banyak pelajaran berharga bagi tim Merah Putih. Meskipun telah berjuang keras, beberapa faktor menjadi penentu hasil akhir yang kurang memuaskan ini. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana jalannya laga krusial yang penuh drama tersebut.
Pembuka Manis dari Zaki Ubaidillah
Indonesia sebenarnya mengawali laga dengan sangat menjanjikan. Tunggal putra pertama, Moh Zaki Ubaidillah, tampil memukau saat menghadapi Kenta Nishimoto. Ubed, sapaan akrabnya, berhasil merebut angka perdana untuk Indonesia setelah menundukkan Nishimoto dalam pertandingan dua gim langsung yang menegangkan.
Pada gim pertama, Ubed sempat memimpin jauh 8-1, menunjukkan dominasinya di awal laga. Namun, Kenta Nishimoto tidak menyerah begitu saja dan berhasil merapatkan jarak, bahkan menyamakan kedudukan. Dengan mental baja, Ubed kembali menemukan ritme permainannya di momen-momen krusial dan berhasil mengamankan gim pertama dengan skor tipis 22-20.
Gim kedua berjalan lebih ketat dan intens. Kedua pemain saling berkejaran poin, menciptakan duel yang memacu adrenalin. Ubed yang beberapa kali unggul tipis, selalu berhasil disamakan oleh Nishimoto. Namun, setelah skor 13-13, Ubed menunjukkan kematangannya dan berhasil mencatatkan poin-poin penting yang membawanya meraih kemenangan 21-16, sekaligus membuat Indonesia unggul 1-0.
Ganda Putra Dadakan Tak Mampu Berbuat Banyak
Sayangnya, keunggulan Indonesia tidak bertahan lama. Pada partai kedua, ganda putra dadakan Leo Rolly Carnando yang dipasangkan dengan Muhammad Rian Ardianto, gagal melanjutkan tren positif. Pasangan ini harus mengakui keunggulan ganda Jepang, Kakeru Kumagai/Hiroki Nishi.
Leo/Rian yang tampil sebagai pasangan improvisasi, terlihat kesulitan menemukan chemistry dan ritme permainan terbaik mereka. Mereka nyaris selalu tertinggal dalam pengumpulan poin sepanjang pertandingan. Alhasil, pasangan Merah Putih ini takluk dalam dua gim langsung dengan skor 16-21 dan 17-21, membuat kedudukan imbang 1-1.
Keputusan untuk memasangkan Leo dan Rian, meskipun memiliki potensi besar secara individu, tampaknya belum membuahkan hasil maksimal di turnamen beregu ini. Kurangnya waktu persiapan sebagai pasangan mungkin menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi performa mereka di lapangan.
Prahdiska Bagas Shujiwo Tak Berdaya
Harapan Indonesia untuk kembali unggul pupus di partai ketiga. Tunggal putra kedua, Prahdiska Bagas Shujiwo, menghadapi tantangan berat dari Yushi Tanaka. Bagas tidak mampu membendung permainan agresif dari wakil Jepang tersebut dan harus menelan kekalahan telak.
Bagas kalah dalam dua gim langsung dengan skor 11-21 dan 15-21. Kekalahan ini membuat Indonesia berbalik tertinggal 1-2 dari Jepang, menempatkan tim Merah Putih di ujung tanduk. Tekanan semakin besar bagi partai-partai selanjutnya untuk bisa membalikkan keadaan.
Penampilan Bagas yang kurang maksimal ini mungkin dipengaruhi oleh tekanan besar yang ia rasakan sebagai tunggal kedua. Yushi Tanaka sendiri tampil sangat solid, tidak memberikan banyak kesempatan bagi Bagas untuk mengembangkan permainannya.
Momen Pahit Ganda Putra Kedua
Dengan posisi tertinggal 1-2, nasib tim putra Indonesia berada di tangan ganda putra kedua, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Mereka menghadapi pasangan Jepang yang tangguh, Takumi Nomura/Yuichi Shimogami. Sayangnya, harapan untuk menyamakan kedudukan dan memperpanjang napas Indonesia harus kandas.
Raymond/Joaquin, yang digadang-gadang sebagai salah satu andalan baru Indonesia di sektor ganda putra, gagal menampilkan performa terbaik mereka. Permainan cepat dan agresif dari Takumi/Yuichi membuat Raymond/Joaquin kesulitan mengembangkan strategi mereka. Gim pertama pun harus lepas dari genggaman dengan skor 17-21.
Pada gim kedua, Raymond/Joaquin mencoba bangkit dan berupaya lebih maksimal. Mereka menunjukkan semangat juang yang tinggi, mencoba mencari celah untuk membalikkan keadaan. Namun, usaha keras mereka tidak membuahkan hasil manis. Takumi/Yuichi terlalu solid dan berhasil mengamankan gim kedua dengan skor 15-21, sekaligus memastikan kemenangan Jepang 3-1 atas Indonesia.
Evaluasi dan Tatapan ke Depan
Kekalahan 1-3 ini secara resmi menghentikan langkah tim putra Indonesia di semifinal BATC 2026. Hasil ini tentu menjadi pukulan telak, mengingat ambisi besar untuk meraih gelar juara. Namun, ini juga menjadi momen penting untuk evaluasi menyeluruh. Pembentukan pasangan dadakan dan performa beberapa pemain muda menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Di sisi lain, kekalahan ini juga menjadi cerminan dari ketatnya persaingan di level Asia. Jepang menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman skuad yang merata dan siap bersaing di level tertinggi. Tim putra Indonesia perlu belajar dari pengalaman ini, mengidentifikasi kelemahan, dan terus berbenah untuk turnamen-turnamen berikutnya.
Sebelumnya, tim putri Indonesia juga mengalami nasib serupa. Mereka menelan kekalahan 1-3 dari Korea Selatan di babak semifinal yang berlangsung pada Sabtu (7/2) pagi hingga siang. Dengan demikian, kedua tim beregu Indonesia harus puas dengan raihan medali perunggu di BATC 2026 ini. Meski belum berhasil mencapai final, perjuangan para atlet patut diapresiasi dan menjadi modal berharga untuk masa depan bulutangkis Indonesia.


















