banner 728x250

Singapura ‘Bukan untuk Orang Miskin’? Curhat Turis AS Ini Bikin Geger Harga Makanan!

Kolam renang mewah di Singapura dengan kursi santai dan pemandangan gedung-gedung.
Turis AS sebut Singapura "bukan untuk orang miskin" akibat harga makanan yang melambung tinggi.
banner 120x600
banner 468x60

Para turis asal Amerika Serikat dibuat terkejut bukan kepalang saat berlibur di Singapura. Mereka bahkan terang-terangan menyebut negara-kota ini "bukan untuk orang miskin" karena harga makanan yang melambung tinggi. Kisah ini viral setelah dibagikan oleh pembuat konten Terry Pernell dan pasangannya, Mag, seorang influencer perjalanan.

Keduanya baru saja menyelesaikan petualangan hampir dua bulan di Malaysia dan Bali sebelum memutuskan singgah ke Negeri Singa. Namun, pengalaman kuliner mereka di sana jauh dari kata memuaskan, setidaknya dari segi harga yang harus mereka bayar.

banner 325x300

Pengalaman Pahit di Newton Food Center

Pada 11 September lalu, Terry mengunggah sebuah video ke media sosial yang memperlihatkan tagihan makan mereka di Newton Food Center. Untuk 10 tusuk sate, daging sapi tumis, dan sepiring besar nasi goreng telur, mereka harus merogoh kocek sekitar S$45 atau setara Rp453 ribu.

Angka tersebut, menurut Terry, jauh lebih mahal dibandingkan dengan pengalaman serupa di Malaysia yang hanya setengah harga. Ia bahkan mengklaim harus membayar US$35 (sekitar Rp582 ribu) untuk makanan tersebut, menunjukkan perbedaan kurs yang mungkin ia alami.

Meski mengakui rasa satenya "enak" dan saus kacangnya patut diacungi jempol, ia tetap merasa terkejut dengan harga yang harus dibayar. "Makanan ini harusnya bikin saya terkejut," kata Pernell sambil mencicipi sate, meskipun pada akhirnya ia menyimpulkan, "Saya tidak bisa bilang makanannya jelek."

‘Singapura Bukan untuk Orang Miskin’: Kata Mereka

Mag, pasangannya, menambahkan bahwa Singapura memang "bukan untuk orang miskin" sambil menyoroti tingginya harga satu gelas bir. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan panas di kalangan warganet.

Terry berkelakar, bagi siapa pun yang berencana mengunjungi Singapura, "Bawa semua uangmu, jangan tinggalkan sepeser pun di rumah." Ini adalah saran humoris yang menggambarkan betapa mahalnya biaya hidup di sana.

Jika disuruh memilih antara makanan Malaysia atau Singapura, ia tanpa ragu akan memilih yang pertama. Menurutnya, Malaysia menawarkan nuansa yang sama dengan harga yang jauh lebih masuk akal.

Video Viral dan Reaksi Warganet

Video curhatan Terry langsung meledak di media sosial dan menjadi perbincangan hangat. Hingga 19 September, video tersebut telah ditonton lebih dari 262.200 kali, mendapat 8.000 reaksi, dan memicu lebih dari 700 komentar.

Beragam tanggapan membanjiri kolom komentar, mulai dari setuju hingga membela Singapura. Seorang warganet Singapura bahkan berkomentar, "Saya orang Singapura, juga tidak pernah makan di Newton," yang menunjukkan bahwa hawker center tersebut memang dikenal mahal karena menjadi tempat wisata.

Komentar lain menyoroti bahwa harga yang dibayar Terry tidak merepresentasikan seluruh Singapura. "Ada banyak tempat di mana Anda bisa mendapatkan makanan yang sama jauh lebih murah," tulis seorang pengguna, menyiratkan bahwa ada pilihan lain yang lebih ramah kantong.

Ada pula yang menekankan perbandingan yang kurang adil antara kedua negara. "Anda membandingkan negara maju dengan negara berkembang. Itu tidak adil," tulis warganet lainnya, mengingatkan akan perbedaan fundamental antara Singapura dan Malaysia.

Mengapa Singapura Terkesan Mahal?

Singapura memang dikenal sebagai salah satu kota termahal di dunia, dan biaya hidup yang tinggi sudah menjadi rahasia umum. Sebagai negara-kota maju dengan lahan terbatas dan sebagian besar bahan baku impor, biaya operasional dan produksi barang, termasuk makanan, tentu lebih tinggi.

Newton Food Center sendiri, meski ikonik dan sering muncul di layar kaca, memang dikenal sebagai salah satu hawker center yang harganya sedikit di atas rata-rata. Posisinya sebagai daya tarik turis membuat harga di sana cenderung lebih tinggi dibandingkan pusat jajanan lokal yang dikunjungi penduduk setempat.

Pemerintah Singapura memang berupaya menjaga kualitas hidup, infrastruktur yang mumpuni, dan lingkungan yang bersih serta aman. Namun, konsekuensinya adalah biaya hidup yang sebanding, termasuk untuk sektor kuliner dan hiburan. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk standar hidup yang tinggi.

Tips Berhemat Saat Liburan di Singapura

Bagi kamu yang berencana liburan ke Singapura namun khawatir dengan biaya, jangan langsung patah arang! Ada beberapa trik untuk tetap bisa menikmati kuliner dan pengalaman di sana tanpa bikin kantong bolong. Dengan sedikit riset dan perencanaan, kamu bisa menghemat banyak.

Pertama, prioritaskan makan di hawker center lokal yang tidak terlalu ramai turis. Tempat-tempat seperti Tiong Bahru Market, Maxwell Food Centre, atau Old Airport Road Food Centre seringkali menawarkan makanan lezat dengan harga yang jauh lebih bersahabat. Tanyakan pada penduduk setempat atau cari rekomendasi di forum online untuk menemukan permata tersembunyi.

Kedua, manfaatkan transportasi umum seperti MRT yang efisien, bersih, dan terjangkau. Hindari taksi atau layanan ride-hailing jika tidak mendesak. Selain itu, pertimbangkan untuk membeli bahan makanan di supermarket jika ingin menyiapkan sarapan atau camilan sendiri.

Ketiga, banyak atraksi gratis yang bisa dinikmati di Singapura. Kamu bisa mengunjungi Gardens by the Bay (area tertentu), Merlion Park, atau sekadar berjalan-jalan di sepanjang Singapore River dan menikmati pemandangan kota. Dengan perencanaan yang matang, liburan hemat di Singapura bukan mustahil, kok!

Bukan Kali Pertama: Curhat Turis Lain

Kisah Terry dan Mag bukanlah yang pertama kali mencuat mengenai mahalnya Singapura. Sebelumnya, seorang turis asal China juga pernah menyatakan enggan kembali ke Singapura karena harga yang tinggi dan kualitas makanan yang dinilai kurang.

Komentar tersebut juga sempat memicu perdebatan sengit di dunia maya, dengan banyak yang setuju dan tak sedikit pula yang membela Singapura. Ini menunjukkan bahwa isu harga makanan di Singapura memang menjadi perhatian banyak pelancong internasional.

Meskipun Singapura adalah satu-satunya kota di Asia Tenggara yang masuk dalam daftar Condé Nast Traveler sebagai 10 kota kuliner terbaik di dunia tahun lalu, beberapa turis memang menyuarakan kekhawatiran tentang kenaikan biaya makan di negara ini.

Perdebatan mengenai harga ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan popularitas Singapura sebagai destinasi wisata. Namun, satu hal yang pasti, setiap pelancong perlu menyiapkan anggaran yang lebih besar jika ingin menikmati segala kemewahan dan kenyamanan yang ditawarkan Negeri Singa.

banner 325x300