banner 728x250

Filipina Bergejolak! Demo Anti-Korupsi Guncang Manila, Marcos Malah Sebut Pengunjuk Rasa ‘Sekutu’?

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., tersenyum di depan lambang negara.
Marcos Jr. menganggap pengunjuk rasa sebagai sekutu dalam memberantas korupsi.
banner 120x600
banner 468x60

Manila, Filipina – Gelombang protes anti-korupsi kembali mengguncang Filipina akhir pekan ini, dengan ribuan warga turun ke jalan menyuarakan kemarahan mereka. Namun, di tengah riuhnya seruan mundur dan isu destabilisasi, Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. justru menunjukkan sikap yang tak terduga. Istana Malacañang menegaskan bahwa Presiden Marcos sama sekali tidak gentar, bahkan melihat para pengunjuk rasa sebagai "sekutu" dalam perjuangan melawan korupsi.

Gelombang Protes Melanda, Marcos Tetap Santai

banner 325x300

Minggu, 21 September 2025, menjadi saksi bisu kemarahan publik di berbagai wilayah Filipina. Aksi demonstrasi besar-besaran, yang didorong oleh isu korupsi sistemik, khususnya terkait proyek pengendalian banjir bermasalah, menciptakan atmosfer politik yang memanas. Namun, Presiden Marcos tetap pada pendiriannya, yakin akan menyelesaikan masa jabatannya selama enam tahun penuh.

Pernyataan ini datang langsung dari Istana Malacañang, yang berusaha menenangkan situasi dan menjelaskan perspektif pemerintah. Mereka menekankan bahwa Presiden Marcos tidak melihat protes ini sebagai ancaman terhadap kepemimpinannya, melainkan sebagai manifestasi dari aspirasi rakyat yang sejalan dengan agendanya.

Bukan Musuh, Tapi Sekutu: Strategi Unik Marcos Hadapi Demonstran

Yang menarik, Malacañang justru mengklaim bahwa mayoritas warga yang turun ke jalan adalah sekutu dalam kampanye besar melawan korupsi. Pejabat pers Malacañang, Claire Castro, dalam wawancara dengan dzMM, Minggu (21/9), menjelaskan pandangan Presiden Marcos yang tidak biasa ini. Menurutnya, Presiden justru mendorong masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka.

"Presiden tidak takut aksi protes ini akan berkembang menjadi upaya untuk menjatuhkannya, karena justru beliau sendiri yang mendorong masyarakat menyuarakan aspirasi mereka di jalanan," kata Castro. Ia menambahkan bahwa Presiden meminta rakyat Filipina untuk mengekspresikan kemarahan kepada semua pihak yang terlibat dalam korupsi sistemik di pemerintahan. Ini adalah sebuah pendekatan yang cukup berani dan berbeda dari pemimpin pada umumnya.

Kemarahan Publik Bukan Ditujukan pada Presiden, Tapi pada Koruptor

Castro lebih lanjut menegaskan bahwa kemarahan publik yang memuncak saat ini bukanlah ditujukan kepada Presiden maupun pemerintahannya. Sebaliknya, fokus utama kemarahan rakyat adalah kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proyek pengendalian banjir yang bermasalah. Ini menjadi poin krusial dalam narasi yang dibangun oleh Istana.

"Rakyat tidak marah kepada Presiden atau pemerintahannya, tetapi kepada semua orang yang terlibat dalam proyek pengendalian banjir yang bermasalah," ujarnya. Pernyataan ini secara efektif memisahkan Presiden dari isu korupsi yang memicu demonstrasi, menempatkannya sebagai pihak yang juga ingin memberantas masalah tersebut.

Pengakuan dari Pengunjuk Rasa: "Bukan Anti-Marcos"

Yang lebih mengejutkan, Castro juga menyebut bahwa para pengunjuk rasa sendiri mengakui bahwa aksi mereka bukanlah demonstrasi anti-Marcos. Ini memperkuat argumen Istana bahwa ada keselarasan tujuan antara pemerintah dan rakyat dalam isu pemberantasan korupsi.

"Itu berarti mereka bukan musuh Presiden. Mereka tahu Presiden adalah sekutu dalam memberantas korupsi di pemerintahan," tambahnya. Narasi ini mencoba mengubah persepsi publik dari konflik menjadi kolaborasi, meskipun dalam bentuk protes.

Gebrakan Melawan Korupsi: Komisi Independen Infrastruktur (ICI) Siap Bertindak

Untuk membuktikan komitmennya, Presiden Marcos telah membentuk Komisi Independen Infrastruktur (ICI). Lembaga ini ditugaskan khusus untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus-kasus korupsi, termasuk proyek pengendalian banjir yang menjadi sorotan. Castro memastikan bahwa ICI akan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti bersalah.

"Tidak ada yang akan lolos, siapa pun yang harus bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensinya. Itu janji Presiden," tegas Castro. Ia juga menekankan bahwa ketiga anggota ICI harus mendengar janji ini dan melaksanakannya dengan penuh integritas. Ini adalah langkah konkret yang diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik.

Prioritas Domestik di Tengah Jadwal Internasional Padat

Meski dihadapkan pada gelombang protes di dalam negeri, Presiden Marcos juga memiliki agenda internasional yang padat. Ia dijadwalkan terbang ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB pada 21-27 September. Namun, di tengah kesibukan tersebut, Presiden Marcos ingin tetap fokus pada isu-isu dalam negeri.

"Presiden ingin fokus pada isu lokal dan secara langsung mendengar apa yang rakyat suarakan dalam protes," ungkap Castro. Keputusan untuk memprioritaskan masalah domestik ini menunjukkan keseriusan Presiden dalam menanggapi kekhawatiran rakyatnya, bahkan jika itu berarti harus membagi perhatiannya dengan agenda global.

Pesan untuk Rakyat: Sampaikan Aspirasi, Tapi Tetap Tertib

Di akhir pernyataannya, Castro menyampaikan pesan Presiden Marcos kepada para pengunjuk rasa. Presiden menghormati hak rakyat untuk menyampaikan aspirasi dan kekecewaan mereka. Namun, ada satu permintaan penting yang harus dipatuhi oleh semua pihak yang berunjuk rasa.

"Presiden mengatakan beliau menghormati hak rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Yang beliau minta hanyalah jangan melanggar hukum," tutup Castro. Ini adalah seruan untuk menjaga ketertiban dan memastikan bahwa protes tetap berjalan damai, tanpa menimbulkan kerusuhan atau kerusakan. Dengan demikian, suara rakyat dapat didengar tanpa mengorbankan stabilitas.

Sikap Presiden Marcos yang melihat pengunjuk rasa sebagai "sekutu" dalam perang melawan korupsi ini menjadi sorotan tajam. Ini adalah strategi berani yang mencoba mengubah narasi konflik menjadi narasi kolaborasi, dengan harapan dapat meredakan ketegangan dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintahannya. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah pendekatan unik ini akan berhasil meredakan gejolak di Filipina.

banner 325x300