Di tengah keindahan bahari dan kekayaan rempah yang melegenda, Pulau Banda menyimpan kisah kelam yang tak boleh dilupakan. Pada Mei 2025 lalu, seluruh elemen masyarakat dan Civitas Akademika Universitas Banda Naira (UBN) bersatu, menggelar upacara peringatan 404 tahun tragedi Genosida Banda. Peristiwa memilukan yang terjadi pada tahun 1621 itu dipusatkan di Monumen Parigi Rante, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, sebuah pengingat akan luka sejarah yang masih terasa hingga kini.
Mengapa Peringatan Ini Penting? Menolak Lupa Tragedi 1621
Peringatan ini bukan sekadar seremoni biasa. Dihadiri oleh tokoh masyarakat, pemuka agama, budayawan, akademisi, pelaku pariwisata, hingga mahasiswa dan pelajar, upacara ini adalah wujud komitmen kolektif. Tujuannya jelas: menghidupkan kembali kesadaran sejarah, menolak lupa, dan memastikan bahwa tragedi pemusnahan massal yang menimpa leluhur orang Banda tidak akan terulang.
Kasman Renyaan, Ketua Panitia Pelaksana, dengan tegas mengingatkan pentingnya generasi muda memahami akar sejarah mereka. Ia menegaskan, peristiwa Mei 1621 bukan sekadar kekerasan, melainkan upaya sistematis untuk menghapus identitas dan peradaban masyarakat Banda. Empat abad silam, kemanusiaan diinjak-injak dan sejarah dihancurkan demi ambisi kolonial yang tak berdasar.
Ribuan orang Banda tewas, para pemimpin adat dipenggal, dan tanah leluhur mereka direbut paksa untuk dijadikan kebun pala di bawah sistem perkenierschap yang kejam. Ini adalah babak kelam yang harus terus diceritakan, agar kita semua bisa belajar dari masa lalu.
Banda, Surga Rempah yang Jadi Rebutan Dunia
Sebelum tragedi itu, Pulau Banda adalah permata di timur Indonesia, dikenal sebagai satu-satunya penghasil pala dan fuli di dunia. Rempah-rempah ini, terutama pala, adalah komoditas super mahal yang setara emas di pasar Eropa, digunakan sebagai obat, pengawet, hingga simbol status. Kekayaan alam ini menjadikan Banda magnet bagi para pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Tiongkok, Arab, dan Eropa.
Bahkan, menurut catatan Universitas Cambridge yang menerbitkan buku "Genocide in the Indigenous, Early Modern and Imperial Worlds, from c.1535 to World War One," ada sekitar 15.000 pedagang rempah yang berinteraksi di Banda pada masa itu. Pulau ini adalah pusat perdagangan global yang ramai, tempat berbagai budaya bertemu dan bertukar komoditas berharga.
Inilah yang menarik perhatian Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda yang ambisius. Mereka melihat Banda bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi sebagai kunci menuju monopoli kekayaan rempah global. Bagi VOC, menguasai Banda berarti menguasai pasar pala dunia, sebuah keuntungan yang tak ternilai harganya.
Ambisi Kejam VOC dan Jan Pieterszoon Coen
Di balik ambisi VOC, ada sosok Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal yang dikenal kejam dan tak kenal kompromi. Ia datang dengan satu misi: menguasai penuh perdagangan pala, bahkan jika itu berarti harus menghancurkan peradaban yang sudah ada. Coen tidak hanya ingin berdagang; ia ingin memonopoli, tanpa berbagi sedikit pun.
Untuk mencapai tujuannya, ia melancarkan kebijakan perkenierschap, sebuah sistem di mana tanah-tanah produktif Banda akan dibagi-bagi dan dikelola oleh ‘perkeniers’ (pemilik perkebunan) Belanda, dengan tenaga kerja budak. Tentu saja, ini berarti menyingkirkan penduduk asli Banda dari tanah mereka sendiri.
Untuk melancarkan rencana kejamnya, VOC mengerahkan kekuatan militer yang luar biasa. Bayangkan saja: 13 kapal besar, tiga kapal kecil, enam perahu layar, 1.665 serdadu Eropa terlatih, 100 samurai bayaran dari Jepang, dan ratusan tawanan dari Jawa yang dipaksa ikut dalam ekspedisi brutal ini. Ini adalah kekuatan militer masif yang ditujukan untuk sebuah pulau kecil.
Coen dengan tegas menyatakan bahwa Kompeni Belanda datang tidak hanya untuk menguasai, tetapi untuk menghapuskan peradaban Banda. Ini bukan sekadar penaklukan militer, tetapi upaya untuk memusnahkan identitas, budaya, dan tentu saja, hak kepemilikan masyarakat Banda atas tanah leluhur mereka.
Detik-detik Genosida: Pembantaian Massal yang Mengerikan
Pada Mei 1621, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Pasukan VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen melancarkan serangan brutal yang tak terbayangkan. Mereka menyerbu desa-desa, membakar rumah-rumah, dan memburu penduduk tanpa ampun, tanpa memandang usia atau jenis kelamin.
Angka korban jiwa sangat mengerikan. Beberapa sumber menyebutkan setidaknya 6.000 penduduk Banda tewas dalam pembantaian ini, sementara sumber lain dari Universitas Cambridge bahkan mencatat sekitar 14.000 dari 15.000 penduduk dibantai, hanya menyisakan ratusan saja. Sebuah kehancuran demografi yang hampir total.
Para pemimpin adat dipenggal di depan umum, sebagai bentuk teror dan penghancuran moral. Ribuan lainnya dipaksa menjadi budak, diperjualbelikan, atau melarikan diri ke hutan dan pulau-pulau terpencil, hanya untuk menemui ajal di sana karena kelaparan dan penyakit. Pulau Banda yang semula ramai dan berbudaya tinggi, mendadak senyap, berlumuran darah, dan kehilangan sebagian besar penduduk aslinya.
Ini adalah genosida, sebuah upaya sistematis untuk memusnahkan suatu kelompok etnis demi keuntungan ekonomi. Sebuah noda hitam dalam sejarah kolonialisme yang seringkali terlupakan dalam narasi besar.
Dampak Jangka Panjang: Monopoli dan Hilangnya Sebuah Peradaban
Setelah genosida brutal itu, VOC berhasil mencapai tujuannya. Pulau Banda sepenuhnya jatuh ke tangan mereka, dan perdagangan pala dunia dimonopoli. Kekayaan rempah yang sebelumnya dinikmati oleh masyarakat Banda, kini menjadi milik mutlak Kompeni Belanda, membawa keuntungan besar bagi Eropa.
Namun, harga yang dibayar jauh lebih mahal dari sekadar keuntungan finansial. Genosida ini menghancurkan struktur sosial, budaya, dan peradaban Banda yang telah terbangun selama berabad-abad. Pengetahuan lokal, tradisi, dan sistem sosial yang kompleks lenyap bersama dengan penduduk aslinya.
Penduduk asli yang tersisa digantikan oleh budak-budak dari berbagai wilayah dan pendatang baru yang bekerja di perkebunan pala. Demografi Banda berubah drastis, meninggalkan jejak luka yang mendalam dan mengubah wajah pulau itu selamanya. Seperti yang ditulis situs Cambridge, "penguasaan Pulau Banda kemudian menjadi bentuk monopoli perdagangan pala oleh VOC di dunia."
Belajar dari Sejarah: Suara dari Civitas Akademika UBN
Peringatan yang digagas oleh UBN dan masyarakat Banda ini adalah seruan keras untuk tidak melupakan. Ini adalah pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang tanggal dan nama, tetapi tentang pelajaran berharga tentang kemanusiaan, kekuasaan, dan keadilan. Tragedi Banda adalah cerminan betapa rapuhnya kemanusiaan di hadapan ambisi yang buta.
Penting bagi generasi muda untuk tidak hanya tahu, tetapi juga memahami konteks dan dampak dari peristiwa ini. Sejarah lokal adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa, dan memahami tragedi seperti ini membantu kita menghargai nilai-nilai perdamaian dan hak asasi manusia. Melalui peringatan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga perdamaian, menghargai keberagaman, dan menolak segala bentuk kekerasan dapat terus tumbuh.
Ini adalah cara kita menghormati para leluhur dan memastikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. Kisah Genosida Banda adalah pengingat pahit tentang sisi gelap kolonialisme dan harga yang harus dibayar demi kekuasaan. Lebih dari empat abad telah berlalu, namun luka itu tetap ada, menjadi saksi bisu akan kekejaman yang pernah terjadi.
Mari kita jadikan peringatan ini sebagai momentum untuk merenung, belajar, dan berkomitmen untuk membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi, di mana setiap nyawa dihargai dan setiap peradaban dihormati.


















