banner 728x250

Drama SEA Games 2025: Manajer Kickboxing Indonesia Diperlakukan Bak Penjahat, Nyaris Dideportasi!

drama sea games 2025 manajer kickboxing indonesia diperlakukan bak penjahat nyaris dideportasi portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari ajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara, SEA Games 2025 di Thailand. Manajer tim kickboxing Indonesia, Rosi Nurasjati, mengungkapkan pengalaman pahit yang ia alami. Ia mengaku diperlakukan layaknya seorang kriminal dan nyaris diusir paksa dari Negeri Gajah Putih.

Insiden ini sontak menjadi sorotan, mengingat Rosi sedang mendampingi para atlet kebanggaan Tanah Air yang tengah berjuang. Perlakuan tidak menyenangkan ini diduga berasal dari Konfederasi Kickboxing Asia (WAKO), yang menuduhnya melanggar aturan.

banner 325x300

Diusir dari Thailand, Diperlakukan Bak Kriminal

Rosi Nurasjati tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dalam keterangan resminya pada Senin (15/12), ia menceritakan bagaimana dirinya diperlakukan secara tidak manusiawi. "Saya diperlakukan seperti penjahat," ujarnya dengan nada miris.

Bukan hanya itu, Rosi bahkan menghadapi situasi mencekam yang tak pernah ia bayangkan. Belasan polisi bersenjata lengkap, ditemani anjing pelacak dan mobil patroli, disebut-sebut hendak menyergap dan membawanya ke kantor polisi setempat. Sebuah pemandangan yang tentu saja membuat siapa pun merasa terancam.

Pihak WAKO menuduh Rosi melanggar aturan karena berada di sekitar lokasi pertandingan kickboxing. Venue tersebut bertempat di Hotel Lasantel Suvarnabhumi, Thailand. Atas tuduhan ini, WAKO secara tegas meminta Rosi untuk segera meninggalkan Thailand.

Dikutip dari Antara, aparat kepolisian setempat bahkan berencana menangkap Rosi dan menyita paspornya. Ancaman serius ini didasari rekaman CCTV yang memperlihatkan Rosi kerap berada di area sekitar venue kickboxing.

Kronologi Kejadian: Dari Antar Vitamin Hingga Ancaman Diskualifikasi

Bagaimana sebenarnya insiden ini bermula? Rosi Nurasjati menjelaskan kronologi kejadian versi dirinya, yang jauh berbeda dari tuduhan yang dilayangkan.

Misi Antar Kebutuhan Atlet Berujung Petaka

Peristiwa menegangkan itu bermula pada Sabtu (13/12) sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Kala itu, Rosi mendatangi area Hotel Lasantel Suvarnabhumi dengan niat mulia. Ia hanya ingin mengantarkan kebutuhan penting bagi para atlet kickboxing Indonesia, berupa vitamin dan buah-buahan.

Sebagai manajer, memastikan kebutuhan dan kesejahteraan atlet adalah prioritas utamanya. Ia tak menyangka, niat baiknya justru berujung pada drama yang mengancam partisipasi Indonesia di SEA Games.

Detik-detik Penyadangan dan Ancaman Serius

Namun, setibanya di lokasi, Rosi mengaku langsung diadang dan disergap oleh belasan aparat kepolisian Thailand. Suasana tegang pun tak terhindarkan, membuat Rosi merasa terpojok dan terancam. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Situasi baru sedikit mereda setelah Presiden dan Sekretaris Jenderal WAKO tiba di tempat kejadian. Dalam pertemuan tersebut, Rosi diminta menandatangani surat pernyataan tertulis. Surat itu mewajibkannya meninggalkan Kota Bangkok paling lambat Minggu (14/12).

Ancaman yang dilayangkan WAKO tidak main-main. Jika Rosi menolak meninggalkan Thailand, WAKO disebut akan mendiskualifikasi seluruh atlet kickboxing Indonesia. Padahal, saat itu, para atlet sudah memasuki fase perempat final, tinggal selangkah lagi menuju medali.

Tekanan Berlanjut: ID Card Pelatih Ikut Jadi Sandera

Imbas dari persoalan ini tidak hanya dirasakan oleh Rosi Nurasjati. Pelatih kickboxing Indonesia, Sadarmawati Icen Simbolon, turut menjadi korban tekanan. ID card serta paspor Icen sempat diancam ditarik oleh pihak WAKO.

Ancaman ini jelas merupakan bagian dari upaya menekan Rosi agar menuruti permintaan mereka. Nasib dokumen penting Icen menjadi alat tawar-menawar yang membuat Rosi semakin terpojok.

Rosi menyebut, identitas Icen baru akan dikembalikan apabila dirinya bersedia menandatangani surat pernyataan dan mengikuti proses deportasi dari Bangkok. Sebuah pilihan sulit yang harus ia hadapi demi keselamatan tim.

"Iya akan dikembalikan jika saya mengikuti deportasinya dari Presiden WAKO Konfederasi Asia. Saya tersandera," ujar Rosi dengan nada berat. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil. "Kalau enggak balik ke Jakarta maka Icen tidak bisa lagi mendampingi atlet."

Mengapa Insiden Ini Terjadi? Dugaan Pelanggaran Aturan WAKO

Inti dari permasalahan ini adalah tuduhan WAKO bahwa Rosi melanggar aturan. Mereka mengklaim Rosi terlihat di rekaman CCTV berada di area sekitar venue kickboxing. Namun, Rosi bersikeras bahwa kehadirannya di sana murni untuk mendukung atlet.

Dalam ajang olahraga internasional, memang ada aturan ketat mengenai akses ke area kompetisi. Namun, perlakuan terhadap seorang manajer tim nasional dengan ancaman polisi bersenjata dan diskualifikasi atlet menimbulkan pertanyaan besar. Apakah prosedur yang dilakukan sudah sesuai dan proporsional?

Masa Depan Kickboxing Indonesia di Ujung Tanduk?

Insiden ini tentu saja berdampak besar pada moral dan fokus tim kickboxing Indonesia. Para atlet yang sedang berjuang di perempat final kini harus menghadapi tekanan tambahan. Mereka tidak hanya bertarung di arena, tetapi juga berhadapan dengan drama di luar lapangan yang mengancam partisipasi mereka.

Situasi ini menyoroti pentingnya kejelasan aturan dan perlakuan yang adil dalam setiap kompetisi internasional. Tim Indonesia berharap ada penyelesaian yang bijaksana dan tidak merugikan atlet yang telah berlatih keras.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa semangat sportivitas dan fair play harus selalu dijunjung tinggi, baik di dalam maupun di luar arena pertandingan. Semoga drama ini segera berakhir dengan solusi terbaik bagi kontingen Indonesia di SEA Games 2025.

banner 325x300