Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Mobil Listrik Makin Ngetren, Tapi Siapa Sih Pembelinya? Riset Ini Bongkar Faktanya!

mobil listrik makin ngetren tapi siapa sih pembelinya riset ini bongkar faktanya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Fenomena mobil listrik di Indonesia semakin tak terbendung. Jalanan mulai dihiasi kendaraan ramah lingkungan ini, seolah menjadi simbol kemajuan dan gaya hidup modern. Namun, di balik angka penjualan yang terus meroket, pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang paling banyak membeli mobil listrik ini? Sebuah riset terbaru akhirnya membongkar fakta menarik di baliknya.

Bukan Sekadar Tren, Tapi Pergeseran Perilaku Konsumen

banner 325x300

Menurut riset dari ID COMM, sebuah firma PR yang fokus pada isu SDGs, penjualan mobil listrik di Tanah Air memang masif. Namun, mayoritas pembelinya ternyata masih didominasi oleh kelompok early adopter (pengadopsi awal) dan sebagian kecil dari early majority (pengikut dini). Ini menunjukkan bahwa transisi menuju era kendaraan listrik lebih merupakan pergeseran perilaku konsumen, bukan semata-mata perluasan pasar baru.

Asti Putri, Co-Founder dan Director ID COMM yang memimpin riset ini, menjelaskan bahwa informasi ini sangat krusial bagi seluruh pihak di sektor otomotif. Pemahaman mendalam tentang profil pembeli akan membantu industri merancang strategi yang lebih tepat sasaran untuk mendorong adopsi yang lebih luas. Jadi, ini bukan hanya tentang mobilnya, tapi juga tentang siapa yang mengendarainya.

Profil Pembeli: Kalangan Menengah Atas dan Para Trendsetter

Riset ID COMM mengungkap bahwa rata-rata pembeli mobil listrik di Indonesia bukanlah pembeli mobil pertama. Mereka umumnya berasal dari kalangan menengah atas yang sudah memiliki mobil konvensional sebelumnya. Ini berarti mobil listrik seringkali menjadi kendaraan kedua atau bahkan ketiga di rumah mereka.

Para pembeli ini juga memiliki motivasi psikologis yang kuat. Mereka merasa bangga menjadi bagian dari early adopter, menikmati peran sebagai trendsetter, dan ingin diasosiasikan dengan gaya hidup modern. Aspek lingkungan, meskipun penting, seringkali menjadi alasan tambahan atau pelengkap, bukan pendorong utama keputusan pembelian.

Bagaimana Mereka Memutuskan untuk Beli?

Proses pengambilan keputusan untuk membeli mobil listrik ternyata tidak jauh berbeda dengan mobil berbahan bakar fosil. Pengaruh dari orang-orang terdekat atau lingkaran sosial masih memegang peranan penting. Rekomendasi dari teman atau keluarga seringkali menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, media sosial dan para influencer otomotif juga menjadi rujukan awal yang krusial. Mereka mencari informasi mulai dari ulasan produk yang mendalam hingga perbandingan merek dan fitur. Ini menunjukkan betapa pentingnya strategi pemasaran digital dan influencer marketing dalam menjangkau segmen pembeli ini.

Bukan Mobil Pertama, Harga Jadi Penentu Kelas

Temuan menarik lainnya adalah bahwa seluruh pemilik mobil listrik yang menjadi responden riset ini sudah memiliki mobil konvensional terlebih dahulu. Ini semakin memperkuat indikasi bahwa mobil listrik belum menjadi pilihan utama bagi mereka yang baru pertama kali membeli kendaraan. Kisaran harga mobil listrik yang mereka beli pun bervariasi, antara Rp189 juta hingga Rp1,58 miliar.

Rentang harga yang luas ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa segmen pengguna mobil listrik memang didominasi oleh kelompok menengah atas. Mereka memiliki daya beli yang cukup untuk berinvestasi pada teknologi baru ini, yang seringkali datang dengan harga premium.

Tiga Kelompok Usia Pembeli Mobil Listrik

Dari sisi usia, riset ini mengidentifikasi tiga kelompok utama pembeli mobil listrik di Indonesia:

  1. Usia 25-35 Tahun: Kelompok ini sedang aktif membangun karier. Mereka cenderung tertarik pada teknologi baru, inovasi, dan ingin tampil modern. Mobil listrik bisa menjadi simbol kesuksesan dan gaya hidup progresif bagi mereka.
  2. Usia 36-50 Tahun: Kelompok ini sudah mapan secara keluarga dan pekerjaan. Mereka mungkin mencari efisiensi, kenyamanan, dan juga status sosial yang melekat pada kepemilikan mobil listrik. Keputusan mereka seringkali lebih rasional, mempertimbangkan biaya operasional jangka panjang.
  3. Usia 50 Tahun ke Atas: Kelompok ini mencari kenyamanan bermobilitas tanpa harus pusing memikirkan biaya operasional yang tinggi. Mereka menghargai efisiensi dan kemudahan perawatan yang ditawarkan mobil listrik, serta insentif pajak yang menguntungkan.

Faktor Ekonomi yang Bikin Ngiler: Hemat dan Pajak Murah!

Selain faktor psikologis dan sosial, aspek ekonomi juga menjadi daya tarik kuat bagi para pembeli mobil listrik. Biaya operasional yang jauh lebih hemat, terutama bagi konsumen dengan mobilitas tinggi, menjadi alasan utama. Bayangkan saja, tidak perlu lagi sering-sering mampir ke SPBU!

Insentif pajak juga turut memperkuat minat. Pajak tahunan mobil listrik yang jauh lebih rendah, sekitar Rp150 ribu, tentu sangat menggiurkan. Angka ini jauh di bawah pajak mobil konvensional dengan harga sejenis, memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi pemiliknya.

Penjualan Mobil Listrik Terus Meroket: Data Gaikindo Bicara

Pasar mobil listrik memang semakin gemuk dari tahun ke tahun. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren positif yang signifikan. Hingga Oktober 2025, penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) tembus 69.146 unit. Angka ini melonjak drastis dibandingkan periode satu tahun penuh 2024 yang hanya mencapai 43.188 unit.

Lonjakan penjualan yang paling mencolok terjadi pada Oktober 2025, di mana penjualan mobil listrik mencapai 13.867 unit. Angka ini naik signifikan dari bulan sebelumnya, September, yang hanya 4.097 unit. Ini menunjukkan adanya percepatan adopsi yang luar biasa dalam beberapa bulan terakhir.

Bagaimana dengan PHEV dan Hybrid?

Tren positif juga dialami segmen mobil plug-in hybrid (PHEV). Penjualan PHEV hingga Oktober 2025 naik berkali-kali lipat dari tahun sebelumnya. Selama tahun 2024, penjualan mobil PHEV di Tanah Air hanya 136 unit, sementara Januari-Oktober 2025 sudah mencapai 3.798 unit. Ini menunjukkan bahwa konsumen mulai melirik opsi hybrid yang bisa diisi ulang.

Namun, berbeda dari BEV dan PHEV, penjualan mobil hybrid hingga Oktober 2025 terekam belum mampu melampaui perolehan pasar selama tahun 2024. Pada 2024, penjualan mobil hybrid berjumlah 59.903 unit, sementara Januari hingga Oktober 2025 mencapai 51.566 unit. Meskipun demikian, angka ini kemungkinan besar masih akan terus bertumbuh hingga akhir tahun 2025.

Tantangan Menuju Adopsi Massal: Apa yang Perlu Dibenahi?

Claudius Surya, Research Associate ID COMM, menekankan bahwa untuk menuju fase early majority yang lebih luas, dibutuhkan sinkronisasi lintas sektor. Ini berarti konsistensi kebijakan pemerintah, arah bisnis industri yang jelas, dan edukasi publik yang menekankan manfaat praktis mobil listrik harus berjalan seiring.

Kepercayaan konsumen juga menjadi kunci. Kualitas infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang memadai, layanan purna jual yang responsif, dan ketersediaan suku cadang yang terjamin adalah faktor-faktor penting yang akan menentukan seberapa cepat masyarakat umum akan beralih ke mobil listrik. Tanpa ekosistem yang kuat, adopsi massal akan sulit tercapai.

Masa Depan Mobil Listrik di Indonesia

Dari riset ini, jelas terlihat bahwa pasar mobil listrik di Indonesia masih berada di tahap awal, didorong oleh segmen premium dan para trendsetter. Untuk benar-benar menjadikan mobil listrik pilihan utama bagi semua kalangan, diperlukan upaya kolektif dari pemerintah, industri, dan masyarakat. Edukasi yang tepat, infrastruktur yang mumpuni, dan kebijakan yang konsisten akan menjadi kunci utama untuk membuka potensi penuh pasar mobil listrik di Indonesia.

banner 325x300