Kamu pasti sudah tak asing lagi dengan istilah ‘tot tot wuk wuk’, kan? Fenomena pengawalan ilegal yang kerap bikin geram pengguna jalan ini kembali jadi sorotan. Kali ini, sebuah video viral di TikTok memperlihatkan aksi nekat Range Rover mewah yang dikawal diduga patwal polisi, nekat melawan arah di jalur Puncak yang padat merayap.
Video yang diunggah akun TikTok @terserahelll ini langsung menyebar luas dan memicu kemarahan publik. Bagaimana tidak, di tengah perjuangan banyak orang menghadapi kemacetan Puncak, ada saja oknum yang merasa punya privilese untuk menerobos aturan. Kejadian ini seolah mengulang luka lama tentang ketidakadilan di jalan raya.
Detik-detik Aksi ‘Tot Tot Wuk Wuk’ yang Bikin Geram
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat jelas sebuah SUV Range Rover Sport berwarna hitam dengan pelat nomor B 1 WON melaju melawan arus. Di depannya, ada moge BMW bertuliskan "Denwal" dengan grafis yang sangat mirip armada kepolisian, bertindak sebagai pengawal. Lokasi kejadian disebut-sebut berada di kawasan Puncak, Jawa Barat, yang memang terkenal dengan kemacetannya, terutama di akhir pekan.
Perekam video, yang diduga adalah sopir mobil lain, memilih untuk tidak memberikan akses bagi rombongan ‘tot tot wuk wuk’ tersebut. Alhasil, sang pengawal moge BMW sempat berhasil kembali ke jalur yang benar, namun Range Rover mewah itu justru terjebak. Situasi ini sontak membuat kemacetan semakin parah di kedua jalur, menambah frustrasi para pengendara lain yang sudah antre panjang.
"Minggu pagi ketemu tot tot wuk wuk mau ke Puncak," tulis akun @terserahelll dalam postingannya, yang kemudian dikutip pada Rabu (10/12). "Kasian yang lain macet-macetan, dia nerobos," tambahnya, menggambarkan kekesalan yang dirasakan banyak orang. Unggahan ini dengan cepat menjadi viral, memicu ribuan komentar dan dibagikan ulang oleh berbagai akun media sosial.
Alasan Klasik: ‘Minta Pertolongan Masyarakat’
Saat Range Rover tersebut tak bisa bergerak dan terjebak di antara kendaraan lain, sang pengawal yang diduga petugas kepolisian itu menghampiri perekam video. Pria tersebut, yang mengenakan jaket mirip seragam polisi namun tanpa atribut nama lengkap di bagian dada, mencoba memberikan klarifikasi.
"Tolong pakai sabuk ya. Ini ngawal masyarakat yang minta pertolongan ya," kata pengawal tersebut kepada perekam. Pernyataan ini sontak memicu pertanyaan dari perekam, "Pertolongan apa?" Namun, sang pengawal hanya mengulang jawabannya dengan sedikit penekanan.
"Ya, minta pengawalan ya. Kami ini pelayanan masyarakat. Kiri kanan pakai sabuk ya, tolong pakai sabuk," ujarnya lagi, sambil kemudian memberikan gestur ‘oke’ dengan jempolnya. Setelah itu, ia terlihat membukakan jalur agar Range Rover bisa kembali masuk ke lajur kiri. Alasan ‘minta pertolongan’ ini tentu saja terdengar janggal dan memicu perdebatan luas di kalangan warganet.
Kontroversi ‘Tot Tot Wuk Wuk’ dan Aturan Polri
Istilah ‘tot tot wuk wuk’ sendiri merujuk pada penggunaan strobo dan sirine, yang kerap disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak berwenang atau untuk kepentingan pribadi. Sebenarnya, penggunaan strobo dan sirine ini sudah lama menjadi kontroversi dan bahkan sempat dibekukan oleh Polri setelah banyak menuai protes dari masyarakat.
Aturan mengenai penggunaan strobo dan sirine sudah jelas tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Hanya kendaraan tertentu seperti ambulans, pemadam kebakaran, kendaraan jenazah, kendaraan dinas kepolisian, TNI, dan beberapa instansi khusus lainnya yang diperbolehkan menggunakannya. Pengawalan pribadi, apalagi yang sampai melawan arus dan mengganggu ketertiban umum, jelas melanggar aturan dan etika berlalu lintas.
Aksi ini kembali mempertanyakan komitmen penegak hukum dalam menertibkan penyalahgunaan wewenang dan privilese di jalan raya. Publik berharap ada tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian tidak semakin terkikis.
Siapa Pemilik Range Rover B 1 WON?
Rasa penasaran publik tentang siapa sosok di balik Range Rover mewah yang berani melawan arus ini akhirnya terjawab. Melansir informasi dari detikOto, setelah ditelusuri melalui laman Informasi Data Kendaraan dan Pajak Kendaraan Bermotor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pelat nomor B 1 WON terdaftar atas nama sebuah perusahaan.
Identitas pemilik kendaraan tersebut adalah PT Gaharu D D Property. Mobil yang digunakan adalah Range Rover Sport 3.0 SE lansiran tahun 2023, yang merupakan kendaraan pertama yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Informasi ini memberikan gambaran bahwa kendaraan mewah ini bukan milik perorangan, melainkan entitas bisnis.
Detail kendaraan ini juga menunjukkan bahwa status pajaknya masih aktif. Namun, yang tak kalah mencengangkan adalah besaran pajak tahunan yang harus dibayarkan untuk SUV Inggris ini, yaitu mencapai Rp68.792.000. Angka fantastis ini tentu saja semakin menyoroti perbedaan kelas dan privilese yang kerap terlihat di jalanan.
Sorotan pada PT Gaharu D D Property
Terungkapnya nama PT Gaharu D D Property sebagai pemilik Range Rover ini tentu memicu pertanyaan lebih lanjut. Apa sebenarnya bisnis perusahaan ini? Mengapa kendaraan operasionalnya memerlukan pengawalan khusus hingga harus melawan arus di jalan umum? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab demi menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Meskipun informasi awal hanya menyebutkan bahwa ini adalah perusahaan properti, insiden ini bisa menjadi bumerang bagi citra perusahaan. Publik kini akan lebih cermat mengamati aktivitas perusahaan yang kendaraannya terlibat dalam pelanggaran lalu lintas yang merugikan banyak orang. Tentu saja, ini menjadi pelajaran penting bagi setiap entitas, baik pribadi maupun korporasi, bahwa setiap tindakan di ruang publik memiliki konsekuensi.
Dampak pada Kepercayaan Publik dan Harapan ke Depan
Insiden ‘tot tot wuk wuk’ di Puncak ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas biasa. Ini adalah cerminan dari masalah yang lebih besar, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dan privilese yang masih marak terjadi. Ketika penegak hukum yang seharusnya menjaga ketertiban justru terlibat dalam pengawalan ilegal, kepercayaan publik terhadap institusi tersebut akan menurun drastis.
Masyarakat menuntut adanya tindakan tegas dan transparan dari pihak berwenang. Investigasi menyeluruh perlu dilakukan untuk mengungkap siapa sebenarnya yang meminta pengawalan, siapa petugas yang terlibat, dan mengapa pengawalan ilegal semacam ini bisa terjadi. Tanpa adanya sanksi yang jelas, insiden serupa akan terus berulang, dan ketidakadilan di jalan raya akan menjadi pemandangan yang lumrah.
Semoga saja, viralnya video ini bisa menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih patuh pada aturan dan menjunjung tinggi etika berlalu lintas. Jalan raya adalah milik bersama, dan setiap pengguna jalan memiliki hak yang sama untuk merasa aman dan nyaman tanpa harus terganggu oleh aksi-aksi ‘tot tot wuk wuk’ yang merugikan.


















