banner 728x250

Geger! AS Cabut dari JETP, Dana Transisi Energi RI Malah Meroket Rp356 Triliun? Ini Kata Airlangga!

geger as cabut dari jetp dana transisi energi ri malah meroket rp356 triliun ini kata airlangga portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari dunia transisi energi Indonesia. Di tengah gema komitmen global untuk masa depan hijau, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuat pernyataan yang menarik perhatian banyak pihak. Ia mengklaim, keluarnya Amerika Serikat dari Just Energy Transition Partnership (JETP) ternyata tak sedikit pun menggoyahkan, bahkan justru melambungkan dana yang dialokasikan untuk Indonesia. Sebuah ironi yang patut dicermati.

"AS enggak, sudah enggak (anggota JETP). Bukan donor utama, ini kan semua gotong royong. Tidak ada dampaknya (AS cabut dari JETP)," tegas Airlangga usai Konferensi Pers JETP di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (5/12/2025). Pernyataan ini sontak menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin sebuah kemitraan besar tetap kokoh bahkan bertumbuh setelah salah satu anggotanya yang berpengaruh mundur?

banner 325x300

Apa Itu JETP dan Mengapa Penting untuk Indonesia?

JETP, atau Just Energy Transition Partnership, adalah sebuah inisiatif ambisius yang digagas oleh negara-negara maju yang tergabung dalam G7. Tujuannya jelas: membantu negara berkembang seperti Indonesia untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan secara adil dan berkelanjutan. Ini bukan sekadar soal dana, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk menghadapi krisis iklim global.

Bagi Indonesia, JETP adalah jembatan menuju masa depan energi yang lebih bersih, sekaligus peluang emas untuk mempercepat pembangunan ekonomi hijau. Kemitraan ini dirancang untuk mendukung transisi energi yang tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga memastikan keadilan sosial bagi pekerja di sektor energi fosil dan masyarakat yang terdampak. Ini adalah langkah strategis untuk memenuhi target iklim nasional dan global.

AS Mundur, Dana Malah Naik Drastis? Fakta di Balik Klaim Airlangga

Yang lebih mencengangkan, menurut Airlangga, dana JETP untuk Indonesia justru mengalami peningkatan signifikan. Dari semula US$20 miliar, kini melonjak menjadi US$25 miliar. Angka fantastis ini setara dengan sekitar Rp356 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.656 per dolar AS. Sebuah kenaikan yang patut diacungi jempol di tengah dinamika geopolitik energi.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa komitmen global terhadap transisi energi Indonesia tetap kuat, bahkan setelah AS memutuskan untuk menarik diri. Hal ini juga menegaskan sifat multilateral dari JETP, di mana dukungan tidak hanya bergantung pada satu negara donor saja. Gotong royong antarnegara maju lainnya terbukti mampu menopang dan bahkan memperkuat kemitraan ini.

Rincian dana yang akan digelontorkan pun sudah terang benderang. Sebanyak US$11,4 miliar atau sekitar Rp189 triliun berasal dari International Partners Group (IPG), sebuah konsorsium negara-negara donor. Sementara itu, US$10 miliar atau sekitar Rp166 triliun sisanya disumbangkan oleh Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), sebuah aliansi keuangan global yang berfokus pada nol emisi bersih.

Tidak hanya itu, Airlangga juga mengungkapkan bahwa sebagian dana sudah mulai dimobilisasi. Sekitar US$3,1 miliar (Rp51 triliun) telah siap digunakan untuk proyek-proyek awal. Selain itu, US$5,5 miliar (Rp91 triliun) lainnya sedang dalam tahap negosiasi untuk proyek-proyek konkret yang akan segera berjalan. Ini menunjukkan bahwa kemajuan implementasi JETP bukan hanya wacana, tetapi sudah ada di jalur yang tepat.

Transisi Energi: Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Ala Prabowo?

Peningkatan dana JETP ini bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi pemerintah Indonesia, transisi energi adalah bagian integral dari strategi pembangunan jangka panjang. Langkah ini diklaim sebagai salah satu pilar utama untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 mendatang, sebuah visi ambisius yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ekonomi hijau bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah keharusan. Dengan dukungan JETP, Indonesia bertekad untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan, mendorong inovasi teknologi hijau, dan memastikan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan dividen ekonomi dan ekologi.

Transisi energi juga akan meningkatkan ketahanan energi nasional. Dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif, Indonesia dapat mencapai stabilitas energi yang lebih baik. Hal ini akan berdampak positif pada biaya produksi industri dan daya beli masyarakat, secara tidak langsung mendukung target pertumbuhan ekonomi yang ambisius tersebut.

Proyek Prioritas: Dari Sulawesi Hingga Dedieselisasi

Pemerintah Indonesia telah menyoroti dua proyek prioritas yang diharapkan memiliki progres dan dampak signifikan. Salah satunya adalah Green Energy Corridor Sulawesi (GECS). Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur energi terbarukan di Sulawesi, memanfaatkan potensi besar seperti hidro, surya, dan angin.

Dengan GECS, Sulawesi diharapkan menjadi hub energi hijau yang memasok listrik bersih ke seluruh wilayah, mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga fosil yang mahal dan berpolusi. Ini akan membuka peluang investasi baru, menciptakan lapangan kerja lokal, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses energi yang lebih bersih dan stabil.

Prioritas kedua adalah program dedieselisasi. Ini merupakan upaya masif untuk mengganti pembangkit listrik tenaga diesel yang boros dan berpolusi dengan sumber energi yang lebih bersih dan efisien. Bayangkan, ribuan desa terpencil yang selama ini bergantung pada genset diesel, kini bisa menikmati listrik dari panel surya atau mikrohidro.

Program dedieselisasi tidak hanya efisien secara biaya operasional, tetapi juga signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kualitas udara. Ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan keadilan energi, memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, termasuk di daerah terpencil, memiliki akses terhadap listrik yang terjangkau dan berkelanjutan. Kedua proyek ini menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan transisi energi. Dana JETP akan menjadi katalisator penting untuk mempercepat realisasi visi ini, mengubah tantangan menjadi peluang nyata.

Jerman dan Jepang Ambil Alih Kemudi JETP Delivery Unit

Dengan dinamika yang ada, program JETP selanjutnya akan dipimpin oleh Pemerintah Jerman dan Pemerintah Jepang melalui JETP Delivery Unit (JDU). Ini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program. Kedua negara ini dikenal memiliki komitmen kuat terhadap energi terbarukan dan pengalaman dalam implementasi proyek-proyek besar.

JDU ini bertugas untuk memastikan koordinasi yang efektif, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap tahapan implementasi proyek. Laporan kemajuan yang disiapkan oleh unit ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat pelaksanaan program transisi energi di Indonesia. Ini juga akan menjadi jembatan komunikasi utama antara Indonesia dan para mitra internasional.

Kolaborasi antara Indonesia dengan Jerman dan Jepang ini diharapkan mampu membawa JETP ke level implementasi yang lebih konkret dan berdampak. Keterlibatan perbankan juga sudah disiapkan, menunjukkan keseriusan dalam pendanaan dan eksekusi proyek. Ini adalah sinyal positif bahwa kemitraan JETP semakin matang dan siap menghadapi tantangan ke depan.

Masa Depan Energi Indonesia: Optimisme di Tengah Tantangan

Pernyataan Airlangga Hartarto ini memancarkan optimisme besar terhadap masa depan energi Indonesia. Meskipun ada dinamika global seperti mundurnya AS, komitmen untuk transisi energi justru semakin kuat. Ini menunjukkan ketahanan Indonesia dalam menghadapi perubahan dan kemampuannya untuk menarik dukungan internasional yang berkelanjutan.

Tentu, jalan menuju energi bersih tidak akan selalu mulus. Ada tantangan besar dalam hal teknologi, pendanaan, dan perubahan perilaku masyarakat. Namun, dengan dukungan dana JETP yang meningkat, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menghadapinya. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bumi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sebuah langkah berani menuju kemandirian energi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat dan komitmen yang kuat, Indonesia siap menjadi pemimpin dalam transisi energi di kawasan, membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan.

banner 325x300