Kolaborasi Strategis Wujudkan Mimpi Besar Asta Cita
Jakarta – Kabar gembira datang dari dua raksasa negeri, PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Keduanya resmi menjalin kerja sama strategis yang digadang-gadang bakal jadi game-changer untuk mempercepat realisasi kemandirian pangan dan energi. Ini bukan sembarang kerja sama, melainkan langkah konkret untuk mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Sinergi penting ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung pada 16 Oktober 2025. Momennya pun sangat pas, bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia, seolah menegaskan komitmen kuat terhadap masa depan pangan Indonesia. Melalui MoU ini, kedua pihak sepakat merumuskan kebijakan dan program lanjutan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, demi masa depan yang lebih baik.
Strategi Jitu dari Pusat hingga Pelosok Desa
Kolaborasi ini mencakup berbagai inisiatif ambisius yang dirancang untuk memberikan dampak nyata. Kemenko Pangan fokus pada langkah-langkah makro yang strategis, sementara Pertamina membawa solusi inovatif langsung ke akar rumput. Ini adalah perpaduan kekuatan yang diharapkan mampu menciptakan perubahan signifikan.
Peran Kemenko Pangan: Melindungi Lahan, Membangun Kawasan
Di lingkup Kemenko Pangan, langkah yang ditempuh mencakup implementasi Program Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD). Program ini krusial untuk menjaga ketersediaan lahan pertanian produktif di tengah derasnya pembangunan. Selain itu, Kemenko Pangan juga akan mengembangkan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN), sebuah konsep terintegrasi untuk menciptakan wilayah yang mandiri dalam tiga aspek vital tersebut.
Pertamina dengan Desa Energi Berdikari: Kekuatan Baru dari Akar Rumput
Sementara itu, Pertamina hadir dengan program unggulannya, Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini bukan sekadar inisiatif sosial biasa, melainkan kontribusi konkret terhadap penguatan ketahanan pangan langsung dari level desa. DEB dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola sumber daya energi terbarukan mereka sendiri.
Program DEB sendiri telah dirintis sejak 2019 dan menunjukkan perkembangan pesat, terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, masyarakat desa sangat membutuhkan dukungan untuk menjaga ketahanan ekonomi dan energi mereka. DEB menjadi solusi nyata di tengah krisis, membuktikan relevansinya dalam situasi genting sekalipun.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa sejak awal, program ini dirancang untuk memastikan masyarakat memiliki akses pada energi terbarukan. Energi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan secara produktif, menciptakan nilai tambah bagi desa. "Prinsip awal program ini adalah masyarakat harus punya energi – bukan energi fosil, tetapi energi baru terbarukan seperti biogas, air, dan surya. Energi itu kemudian kita dorong agar menjadi pengungkit ketahanan pangan," ujar Arya dalam Podcast Transition Buzz CNN Indonesia.
Dampak Nyata Desa Energi Berdikari: Pangan Tumbuh, Ekonomi Bergeliat
Angka-angka berbicara banyak tentang keberhasilan DEB. Pertamina mencatat sudah mengembangkan 252 Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia. Yang menarik, 156 di antaranya secara spesifik bergerak di sektor pertanian, menunjukkan fokus yang kuat pada penguatan ketahanan pangan.
Pemanfaatan energi surya dan biogas terbukti memberikan dampak signifikan, terutama untuk pengairan dan pengeringan hasil panen. Bayangkan, ketika musim kemarau panjang melanda dan pengairan menjadi tantangan besar, mesin berbasis solar panel tetap bekerja optimal. Ini memastikan pasokan air untuk lahan pertanian tidak terhenti.
Hasilnya pun luar biasa, dengan tambahan produksi hingga 15.000 ton per panen secara kumulatif. "Ketika energi hadir, pangan ikut tumbuh," tegas Arya. Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi energi terbarukan bisa menjadi kunci untuk mengatasi masalah pangan di tingkat desa.
Bukan Sekadar CSR, Ini Misi Nasional!
Arya Dwi Paramita juga menekankan bahwa langkah Pertamina mendukung ketahanan pangan bukan semata program sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) biasa. Ini adalah bagian dari tanggung jawab strategis sebagai BUMN energi dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Pertamina melihat ini sebagai investasi jangka panjang untuk kemandirian bangsa.
"Bapak Presiden sudah menetapkan pangan dan energi sebagai dua prioritas pertama dalam Asta Cita. Ketika energi menjadi fondasi, Pertamina hadir untuk memastikan desa-desa kita bisa mandiri, berdaya, dan tumbuh," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen Pertamina untuk menjadi pilar utama dalam mewujudkan visi besar negara.
Sinergi yang Menginspirasi: Visi Kemenko Pangan dan Pengalaman Pertamina
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam mempercepat pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air. Widiastuti sangat percaya pada prinsip dasar yang diusung: "Energi menjadi fondasi. Di mana ada energi, di situ hadir Pertamina. Dan di mana energi hadir, di situ ketahanan pangan bisa dibangun."
Ia menambahkan bahwa pengalaman Pertamina dalam membina desa melalui program DEB sangat relevan dengan kebutuhan pemerintah saat ini. Model pemberdayaan yang telah terbukti efektif ini menjadi aset berharga. Kolaborasi ini sendiri bermula dari diskusi pada peringatan Hari Susu Nasional, yang kemudian berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus memperkuat ekonomi desa.
Local Hero: Motor Penggerak Perubahan di Desa
Salah satu pilar penting kesuksesan DEB adalah keberadaan "local hero" atau tokoh desa yang menjadi motor penggerak. Mereka adalah individu-individu inspiratif yang memimpin implementasi energi terbarukan dan pengembangan usaha masyarakat. Dari 176 desa binaan intensif Pertamina, masing-masing memiliki figur penggerak yang mampu memimpin transformasi energi dan ekonomi.
"DEB membantu desa tumbuh lebih cepat. Energi terbarukan mendorong ketahanan pangan, UMKM, hingga peningkatan pendapatan masyarakat. Ini sangat sesuai dengan arah kebijakan Asta Cita," kata Widiastuti. Kehadiran para pahlawan lokal ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari inisiatif kecil di tingkat komunitas.
Menjawab Tantangan Masa Depan: Iklim, Teknologi, dan Kemandirian
Pemerintah saat ini terus memperluas upaya meningkatkan produksi pertanian nasional. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah mudah. Perubahan iklim, kebutuhan energi untuk irigasi yang semakin mendesak, hingga kesenjangan akses teknologi di wilayah terpencil, semuanya menuntut solusi inovatif.
Integrasi kebijakan pangan dan energi menjadi semakin mendesak untuk menjawab tantangan-tantangan ini. Model yang diterapkan Pertamina melalui Desa Energi Berdikari dinilai mampu menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan triple bottom line. Ini mencakup energi bersih yang mendukung lingkungan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penguatan ekonomi desa melalui peningkatan produktivitas pertanian.
Fondasi Kuat untuk Ketahanan Pangan Nasional Jangka Panjang
Sinergi antara Pertamina dan Kemenko Pangan ini diharapkan menjadi model pembangunan baru yang komprehensif. Model ini tidak hanya menjawab kebutuhan energi dan pangan saat ini, tetapi juga menyiapkan fondasi ketahanan pangan nasional yang kokoh dalam jangka panjang. Dengan kolaborasi ini, mimpi kemandirian pangan dan energi Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo, selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan.


















