Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Makan Bergizi Gratis Pakai Ayam Rp20 Triliun: Mentan Pastikan Peternak Lokal Tetap Berjaya, Ini Skema Lengkapnya!

makan bergizi gratis pakai ayam rp20 triliun mentan pastikan peternak lokal tetap berjaya ini skema lengkapnya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman akhirnya buka suara soal rencana besar di balik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, pengembangan peternakan ayam untuk menyokong program ini tidak akan mengganggu usaha peternak lokal yang sudah ada. Justru, skema ini dirancang untuk menopang mereka.

Pemerintah, melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, tidak main-main. Mereka menyiapkan dana fantastis sebesar Rp20 triliun. Angka ini akan digunakan untuk membangun peternakan ayam pedaging dan petelur di berbagai daerah, demi memastikan pasokan pangan yang kuat untuk program MBG.

banner 325x300

Skema Rp20 Triliun: Bukan Hanya untuk Makan Gratis, Tapi Juga Peternak Kecil

Amran menjelaskan bahwa model pembiayaan ini dirancang khusus untuk membantu peternak kecil. Bagaimana caranya? Pemerintah akan menyuplai pakan, obat hewan, dan bibit ayam (DOC) dengan harga yang terkendali. Ini jadi angin segar bagi peternak yang selama ini sering menjerit karena harga bahan baku yang fluktuatif.

"Rencana kami, modelnya, ini Rp20 triliun pembibitan pakan. Ini adalah negara. Kemudian, nantinya, peternak operasi mensuplai peternak ini pakan, obat-obatan dengan harga pemerintah. Jadi ini menopang saudara-saudara kita peternak daripada berteriak tiap tahun," ujar Amran dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Senin (24/11). Pernyataan ini jelas menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah klasik peternak.

BUMN Fokus Hulu, Peternak Tetap Raja di Budidaya

Salah satu poin penting yang ditekankan Amran adalah pembagian peran yang jelas. BUMN pangan tidak akan masuk ke ranah budidaya. Mereka hanya akan fokus pada sektor hulu, yaitu pembibitan, produksi pakan, obat hewan, pengolahan hasil, serta logistik. Ini memastikan tidak ada persaingan langsung dengan peternak lokal.

Lalu, siapa yang akan melakukan budidaya? Tetap peternak, koperasi, dan UMKM! Mereka akan didukung penuh dengan pembiayaan bank, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga super ringan, hanya 3 persen. Ini adalah kesempatan emas bagi pelaku usaha kecil untuk mengembangkan bisnis mereka tanpa terbebani bunga tinggi.

Menjaga Stabilitas Harga dan Mencegah Praktik "Semenang-menang"

Konsep ini lahir dari pengalaman pahit yang sering dialami peternak kecil. Amran menyoroti kondisi di mana harga bibit ayam (DOC) bisa melonjak hingga 30 persen saat permintaan tinggi. Kondisi ini seringkali merugikan peternak kecil dan membuat mereka kesulitan bersaing.

"Kita terbatas di sini, intinya jangan kita ganggu pengusaha yang sudah tumbuh. Tetapi jangan semena-mena. Jadi kami pasang di sampingnya untuk menstabilkan harga di tempat itu," tegas Amran. Dengan adanya intervensi pemerintah dalam suplai dan harga, diharapkan stabilitas pasar bisa terjaga dan praktik-praktik yang merugikan peternak bisa dihindari. Pemerintah akan menjadi "penyeimbang" di pasar.

Pabrik Pakan dan Fasilitas DOC: Target Mulai Tahun Depan

Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik pakan dan fasilitas DOC (Day Old Chick) akan mulai berjalan tahun depan. Penempatan fasilitas pakan dan gudang, terutama di Pulau Jawa, juga memiliki tujuan strategis. Ini akan memungkinkan pemerintah menyerap produksi lebih besar dan menjaga harga tetap stabil di lapangan, tidak hanya di tingkat produsen tapi juga konsumen.

Dalam paparannya, Kementan menjelaskan bahwa Danantara akan membiayai BUMN pangan untuk semua kegiatan hulu tersebut. Sementara itu, bank penyalur KUR siap mengucurkan kredit hingga Rp50 triliun untuk koperasi, UMKM, dan peternak sebagai pelaku utama budidaya. Ini adalah dukungan finansial yang sangat besar dan komprehensif.

Dampak Luas: Jutaan Ton Produksi dan Lapangan Kerja Baru

Model ini tidak hanya sekadar program, tapi juga sebuah ekosistem yang terintegrasi. Ditopang oleh regulasi yang kuat, pengembangan SDM, infrastruktur yang memadai, serta riset dan inovasi dari Kementan melalui APBN, program ini diharapkan membawa dampak besar.

Targetnya bukan main-main: mampu menghasilkan 1 juta ton telur dan 1,5 juta ton daging ayam per tahun. Lebih dari itu, program ini diproyeksikan akan menciptakan lebih dari 1,46 juta lapangan kerja baru. Bayangkan dampaknya terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat!

Klaster Percontohan di Berbagai Wilayah Indonesia

Sebagai tahap awal, pengembangan klaster ayam petelur dan pedaging akan dibangun di beberapa provinsi strategis. Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan kebutuhan pasokan ayam dan telur di masing-masing daerah.

Provinsi-provinsi tersebut meliputi Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, dan Jawa Timur. Dalam pelaksanaannya, PTPN III (Holding) serta PT Berdikari akan terlibat dalam kegiatan hulu, sementara peternak tetap menjadi pelaku utama budidaya di lapangan. Ini adalah langkah konkret untuk pemerataan pembangunan dan ketahanan pangan di seluruh Indonesia.

banner 325x300