Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Amerika Serikat Ternyata Peminjam Terbesar China, Padahal Sering Kritik ‘Jebakan Utang’

geger amerika serikat ternyata peminjam terbesar china padahal sering kritik jebakan utang portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kamu mungkin terkejut mendengar kabar ini. Amerika Serikat (AS), negara adidaya yang sering lantang mengkritik praktik "diplomasi jebakan utang" China, justru menjadi negara yang paling banyak meminjam atau menarik utang dari Negeri Tirai Bambu. Sebuah riset terbaru dari AidData, laboratorium riset ternama dari Universitas William & Mary AS, mengungkap fakta mengejutkan ini yang mengubah narasi ekonomi global.

Bukan Sekadar Angka: AS Peminjam Terbesar China

banner 325x300

Riset AidData secara gamblang menunjukkan bahwa AS telah menarik utang sebesar US$202 miliar dari China selama periode 2000 hingga 2023. Angka fantastis ini setara dengan sekitar Rp3.367 triliun, jika dihitung dengan asumsi kurs Rp16.671 per dolar AS. Jumlah tersebut jauh melampaui negara-negara lain di dunia, menempatkan AS di posisi teratas daftar peminjam terbesar China.

Temuan ini tentu saja memicu banyak pertanyaan. Bagaimana bisa negara dengan ekonomi terbesar di dunia, yang dikenal sebagai rival geopolitik utama China, justru menjadi pelanggan utang terbesarnya? Ini bukan sekadar transaksi finansial biasa, melainkan cerminan kompleksitas hubungan ekonomi dan politik antar dua kekuatan global.

Pergeseran Prioritas China: Dari Negara Berkembang ke Negara Maju

AidData juga menyoroti adanya pergeseran signifikan dalam prioritas China dalam memberikan pinjaman. Jika sebelumnya China fokus menyalurkan utang ke negara-negara berkembang, kini mereka mulai meningkatkan pemberian utang ke negara-negara maju. Ini menunjukkan strategi baru China untuk memperluas pengaruh ekonominya ke berbagai lapisan negara, tidak hanya di "Global South".

"Di antara sejumlah temuan, AS telah menerima lebih dari US$200 miliar untuk hampir 2.500 proyek dan aktivitas yang bisa ditemukan secara virtual di setiap negara bagian," tulis AidData di situs resmi mereka pada Selasa (18/11). Pergeseran ini menandakan bahwa China tidak lagi hanya mencari peluang di pasar negara berkembang, tetapi juga melihat potensi investasi dan pengaruh di ekonomi-ekonomi mapan.

Ironi ‘Jebakan Utang’: AS Mengkritik, Tapi Ikut Meminjam

Salah satu aspek paling ironis dari temuan ini adalah posisi AS yang selama ini gencar memperingatkan negara-negara lain tentang bahaya akumulasi utang signifikan dari China. AS sering menuding China mempraktikkan "diplomasi jebakan utang," di mana negara-negara miskin terjerat utang yang tidak mampu mereka bayar, sehingga terpaksa menyerahkan aset strategis kepada China.

Direktur Eksekutif AidData, Brad Parks, menyoroti ironi ini dengan tajam. "Ini temuan yang luar biasa, mengingat AS telah memperingatkan negara-negara lain tentang bahaya akumulasi utang yang signifikan dari China dalam dekade terakhir, dan menuding China mempraktikkan ‘diplomasi jebakan utang’," kata Parks. Pernyataannya ini menggarisbawahi kontradiksi yang mencolok dalam kebijakan luar negeri AS.

Lalu, siapa sebenarnya yang meminjam utang ini di AS? Riset AidData menjelaskan bahwa utang China yang diberikan ke AS diterima oleh sejumlah perusahaan besar yang masuk kategori Fortune 500. Sebut saja raksasa teknologi seperti Amazon, AT&T, Verizon, dan Tesla. Tidak ketinggalan pula perusahaan otomotif besar seperti General Motors dan Ford, serta produsen pesawat Boeing, hingga perusahaan hiburan Disney.

Ini bukan utang langsung dari pemerintah AS ke pemerintah China, melainkan pinjaman atau investasi dari entitas China (baik BUMN maupun swasta) kepada perusahaan-perusahaan swasta di AS. Meskipun demikian, skala dan jumlahnya yang masif tetap menunjukkan tingkat interdependensi ekonomi yang tinggi antara kedua negara, bahkan di tengah ketegangan politik.

Indonesia di Peringkat ke-9: Berapa Utang Kita ke China?

Tentu saja, pertanyaan yang muncul di benak kita adalah, bagaimana posisi Indonesia dalam daftar peminjam utang ke China ini? AidData mencatat bahwa Indonesia juga memiliki utang yang signifikan kepada China, mencapai US$61 miliar atau sekitar Rp1.016 triliun. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-9 dalam daftar negara dengan utang terbanyak ke China.

Meskipun jumlahnya jauh di bawah AS, Rusia, atau Australia, utang Indonesia sebesar US$61 miliar ini tetap merupakan angka yang besar dan menunjukkan eratnya hubungan ekonomi antara Jakarta dan Beijing. Banyak proyek infrastruktur di Indonesia, seperti kereta cepat Jakarta-Bandung, diketahui melibatkan pembiayaan dan teknologi dari China.

Posisi Indonesia sebagai salah satu peminjam terbesar China menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara melampaui sekadar perdagangan. Investasi dan pinjaman dari China telah menjadi bagian integral dari pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, membawa peluang sekaligus tantangan tersendiri.

Dampak Global dan Implikasi Jangka Panjang

Temuan AidData ini memiliki implikasi yang luas bagi dinamika ekonomi dan geopolitik global. Pertama, ini menantang narasi konvensional tentang siapa yang memegang kendali dalam hubungan utang-piutang global. China, yang sering digambarkan sebagai kreditur yang agresif terhadap negara-negara berkembang, ternyata juga menjadi sumber pembiayaan penting bagi ekonomi-ekonomi maju.

Kedua, ini memperlihatkan betapa saling terkaitnya ekonomi AS dan China, meskipun ada upaya de-coupling atau pemisahan ekonomi. Perusahaan-perusahaan raksasa AS masih bergantung pada modal dan investasi dari China untuk proyek-proyek besar mereka. Ini menciptakan lapisan kompleksitas baru dalam persaingan strategis antara kedua negara.

Ketiga, bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, temuan ini bisa menjadi pelajaran penting. Meskipun ada kekhawatiran tentang "jebakan utang," realitasnya adalah modal dari China tetap menjadi sumber pembiayaan yang menarik dan seringkali lebih mudah diakses dibandingkan sumber tradisional lainnya. Memahami lanskap utang global yang sebenarnya, termasuk peran AS sebagai peminjam, dapat membantu negara-negara lain membuat keputusan yang lebih informasi.

Mengapa Penting untuk Diketahui?

Memahami siapa yang meminjam dari siapa, dan dalam jumlah berapa, adalah kunci untuk memahami arah ekonomi dunia. Fakta bahwa AS adalah peminjam terbesar China bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan dari interdependensi ekonomi global yang mendalam dan seringkali tersembunyi. Ini juga menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kekuatan politik atau retorika.

Informasi ini mengajak kita untuk melihat lebih jernih di balik narasi politik dan memahami bahwa hubungan antarnegara, terutama antara kekuatan besar, jauh lebih nuansa dan kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Dengan demikian, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi isu-isu global dan dampaknya terhadap negara kita sendiri.

banner 325x300