Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, baru-baru ini angkat bicara menanggapi gelombang keluhan dari anggota DPR RI. Keluhan ini berpusat pada kasus kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menghebohkan di Jawa Timur, memicu keresahan di kalangan masyarakat. Simon menegaskan komitmen Pertamina untuk terus berbenah demi pelayanan terbaik.
DPR Menggugat, Pertamina Merespons
Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat menjadi arena di mana suara rakyat disalurkan. Para wakil rakyat menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kualitas BBM, khususnya di Jawa Timur, yang dinilai merugikan konsumen. Pertamina, sebagai entitas kebanggaan bangsa, dituntut untuk memberikan solusi konkret.
Simon Aloysius Mantiri mengakui bahwa Pertamina adalah aset strategis yang harus dijaga dan terus ditingkatkan pelayanannya. Ia memahami betul bahwa ekspektasi masyarakat terhadap perusahaan pelat merah ini sangat tinggi. Oleh karena itu, setiap masukan dan kritik menjadi cambuk untuk perbaikan berkelanjutan.
Filosofi ‘Wong Cilik Iso Gemuyu’ dari Bos Pertamina
Dalam kesempatan tersebut, Simon mengutip dua tokoh inspiratif yang juga menjadi panutan Presiden Prabowo Subianto. Salah satunya adalah mantan Gubernur Jawa Timur, Raden Panji Mohammad Noer, atau akrab disapa Cak Noer. Pesan Cak Noer yang mendalam adalah bahwa pemimpin sejati berhasil ketika kebijakan-kebijakannya mampu membuat "wong cilik iso gemuyu" atau rakyat kecil bisa tersenyum.
Filosofi ini menjadi landasan bagi Simon dalam memimpin Pertamina. Ia berjanji bahwa setiap keputusan dan langkah yang diambil akan selalu berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas. Ini bukan sekadar janji kosong, melainkan komitmen untuk memastikan setiap tetes BBM yang disalurkan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi rakyat.
"Untuk itu, atas semua masukan, termasuk persoalan di Jawa Timur, Pertamina akan memberikan keputusan serta mendorong langkah yang terbaik agar masyarakat yang mendapat manfaat sebesar-besarnya," tegas Simon. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Pertamina dalam menanggapi isu krusial ini.
Keluhan Konsumen yang Mengkhawatirkan
Salah satu anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, secara spesifik menyoroti aduan dari 290 konsumen Pertamina di Jawa Timur. Mereka melaporkan pengalaman tidak menyenangkan, di mana sepeda motor mereka mengalami "brebet" atau tersendat setelah mengisi Pertalite. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan potensi kerugian finansial akibat kerusakan mesin.
Mufti Anam mendesak Pertamina untuk melakukan evaluasi total dari hulu ke hilir terhadap permasalahan ini. Ia menyarankan audit kualitas BBM Pertamina yang melibatkan Kementerian ESDM, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta auditor independen. Langkah ini diharapkan mampu mengungkap akar masalah secara transparan dan akuntabel.
SPBU Ikut Jadi Korban, Bukan Kambing Hitam
Yang menarik, Mufti Anam juga mengungkapkan bahwa bukan hanya konsumen yang dirugikan, tetapi juga para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Mereka merasa terpojok dan di-bully oleh masyarakat yang membeli BBM di sana. Padahal, para pengusaha SPBU ini bersikeras bahwa mereka tidak mungkin mengubah kualitas BBM yang mereka terima dari Pertamina.
"Pengusaha SPBU itu sedih karena mereka mendapatkan kualitas yang tidak baik, mereka di-bully oleh masyarakat yang beli BBM di sana, kemudian Pertamina juga menyalahkan mereka karena katanya itu dicampur di dalam tangki," jelas Mufti. Situasi ini menciptakan ketidakadilan dan merusak reputasi para pengusaha lokal.
Mufti Anam menekankan pentingnya untuk tidak lagi mencari "kambing hitam" dalam persoalan ini. Fokus utama haruslah pada penyelesaian masalah secara cepat dan efektif. Rakyat hanya butuh kepastian bahwa BBM yang mereka beli, selain terjangkau, juga memiliki kualitas yang baik dan aman untuk kendaraan mereka.
Komitmen Pertamina untuk Perbaikan Berkelanjutan
Menanggapi berbagai masukan dan keluhan, Bos Pertamina itu menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk stagnasi dalam perseroan. Pertamina tidak akan berhenti untuk terus melakukan perbaikan di segala lini. Ini mencakup peningkatan sistem pengawasan, jaminan kualitas produk, hingga pelayanan di tingkat konsumen.
Langkah-langkah konkret yang diharapkan meliputi investigasi menyeluruh terhadap rantai pasok BBM di Jawa Timur. Mulai dari proses produksi, distribusi, hingga sampai ke tangan konsumen. Transparansi dalam setiap tahapan ini menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Pada akhirnya, isu kualitas BBM ini bukan hanya tentang mesin kendaraan, tetapi juga tentang kepercayaan publik terhadap salah satu pilar ekonomi bangsa. Pertamina memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa "wong cilik" benar-benar bisa "gemuyu" dengan pelayanan dan produk yang prima. Audit independen dan evaluasi menyeluruh akan menjadi bukti nyata komitmen Pertamina dalam mewujudkan janji tersebut.


















