Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger Ahli Gizi Program Makan Gratis: Sempat Ditolak DPR, Kini Jadi Prioritas? BGN Buka Suara!

geger ahli gizi program makan gratis sempat ditolak dpr kini jadi prioritas bgn buka suara portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi sorotan publik belakangan ini. Bukan soal menu atau anggarannya, melainkan perdebatan sengit mengenai peran dan kualifikasi ahli gizi di dalamnya. Kontroversi ini mencuat setelah pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal, yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak.

Awal Mula Kontroversi: Pernyataan Wakil Ketua DPR yang Bikin Heboh

banner 325x300

Semua bermula ketika Cucun Ahmad Syamsurizal melontarkan pernyataan mengejutkan dalam Forum Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ia secara terang-terangan menyebut bahwa program MBG tidak memerlukan ahli gizi. Menurutnya, yang dibutuhkan hanyalah "pengawas gizi" yang bahkan bisa diisi oleh lulusan SMA dengan pelatihan singkat selama tiga bulan.

Pernyataan ini sontak memicu kegaduhan, terutama di kalangan profesional gizi. Cucun bahkan sempat memotong penjelasan seorang peserta forum yang mencoba mengusulkan agar tidak menggunakan embel-embel ahli gizi jika memang merekrut non-gizi. Dengan nada yang dianggap arogan, Cucun menegaskan, "Saya enggak suka anak muda arogan kayak gini. Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya, tenaga yang menangani gizi. Tidak perlu ahli gizi. Cocok enggak? Nanti saya selesaikan di DPR."

BGN Beri Klarifikasi: Kualifikasi Ahli Gizi di Program MBG

Menanggapi polemik yang memanas, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa profesi yang menjadi tonggak utama di setiap SPPG atau dapur MBG minimal harus bergelar sarjana. Ini menunjukkan komitmen BGN terhadap standar kualitas gizi yang tinggi dalam program tersebut.

Dadan menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang tepat memerlukan pemahaman mendalam tentang nutrisi, komposisi makanan, dan kebutuhan gizi spesifik. Oleh karena itu, kehadiran tenaga ahli dengan latar belakang pendidikan yang relevan sangat krusial untuk memastikan makanan yang disajikan benar-benar bergizi dan aman dikonsumsi. Pernyataan BGN ini seolah menjadi penyeimbang di tengah gelombang kritik terhadap usulan Cucun.

Tantangan di Lapangan: Keterbatasan Sarjana Gizi

Meskipun BGN memprioritaskan sarjana gizi, Dadan tidak menampik adanya tantangan besar dalam implementasi. Ia mengakui bahwa jumlah sarjana gizi di Indonesia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan masif program MBG yang skalanya nasional dan terus berjalan. Keterbatasan ini menjadi dilema tersendiri bagi BGN dalam memastikan setiap dapur MBG memiliki tenaga yang kompeten.

"Prioritas pertama di tahap awal adalah sarjana gizi, tetapi kita tahu bahwa produksi sarjana gizi itu terbatas, sementara program ini terus berjalan," kata Dadan pada Senin (17/11), dikutip dari Antara. Untuk mengatasi kelangkaan ini, BGN harus mencari solusi pragmatis. Mereka mulai mempertimbangkan lulusan dari bidang yang memiliki korelasi kuat dengan pengetahuan gizi.

Misalnya, lulusan sarjana kesehatan masyarakat atau teknologi pangan. Bidang-bidang ini, menurut Dadan, pasti memiliki pelajaran dan pengetahuan gizi yang memadai. Pendekatan ini diharapkan dapat mengisi kekosongan tenaga ahli gizi tanpa mengorbankan kualitas program secara keseluruhan.

Reaksi Publik dan Permintaan Maaf Cucun Ahmad Syamsurizal

Pernyataan kontroversial Cucun dengan cepat menyebar dan viral di media sosial. Banyak warganet dan praktisi gizi yang mengecam keras usulannya. Mereka khawatir bahwa meremehkan peran ahli gizi akan berdampak pada kualitas dan keamanan makanan yang diberikan kepada masyarakat, terutama anak-anak. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) juga turut menyuarakan keprihatinan mereka.

Melihat gelombang kritik yang tak terbendung, Cucun Ahmad Syamsurizal akhirnya meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Melalui akun Instagram Cucun Center pada Senin (17/11), ia menjelaskan bahwa usulan untuk mengubah diksi ‘ahli gizi’ di SPPG menjadi ‘quality control’ atau ‘Pengawas Makanan Bergizi’ masih sebatas wacana. Ia menegaskan bahwa hal tersebut belum tentu diberlakukan.

Permintaan maaf ini sedikit meredakan ketegangan, namun tetap menyisakan pertanyaan tentang urgensi dan dasar pemikiran di balik usulan awal. Publik menanti langkah konkret dari DPR dan pemerintah untuk memastikan program MBG berjalan sesuai standar terbaik.

Titik Temu: DPR, BGN, dan Persagi Sepakat Optimalkan Ahli Gizi

Sebagai tindak lanjut dari polemik ini, Cucun Ahmad Syamsurizal segera menggelar pertemuan penting. Ia bertemu dengan perwakilan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Badan Gizi Nasional (BGN) di kompleks parlemen pada Senin (17/11). Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk mencari titik temu dan solusi terbaik bagi program MBG.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah dan DPR mencapai kesepakatan penting: mengoptimalkan profesi ahli gizi untuk program MBG. Cucun menyatakan, "Tapi tadi saya sampaikan aspirasi disini dengan BGN, maksimalkan yang ada profesinya adalah ahli Gizi." Ini menunjukkan adanya perubahan sikap dari pihak DPR yang sebelumnya terkesan meremehkan.

Cucun juga mengakui bahwa usulan awal untuk mengganti nomenklatur ahli gizi di SPPG memang mengemuka dalam rapat Komisi IX DPR. Usulan itu muncul sebagai upaya mencari solusi atas kekurangan ahli gizi. Namun, ia menyadari bahwa langkah tersebut berisiko. Mengganti istilah bisa membuat program MBG diberikan kepada pihak yang tidak memiliki kompetensi memadai, sehingga justru mengeliminasi profesi ahli gizi itu sendiri.

Masa Depan Program MBG dan Peran Ahli Gizi

Kesepakatan antara DPR, BGN, dan Persagi ini memberikan angin segar bagi masa depan program Makan Bergizi Gratis. Dengan dioptimalkannya peran ahli gizi, diharapkan kualitas dan standar gizi makanan yang disalurkan dapat terjamin. Ini juga menjadi pengakuan atas pentingnya keahlian profesional dalam program-program kesehatan masyarakat.

Meskipun tantangan keterbatasan sarjana gizi masih ada, upaya BGN untuk mencari lulusan dari bidang terkait menunjukkan fleksibilitas tanpa mengorbankan esensi pengetahuan gizi. Ke depannya, kolaborasi antara lembaga pemerintah, organisasi profesi, dan institusi pendidikan akan sangat penting. Tujuannya adalah untuk memastikan pasokan tenaga ahli gizi yang memadai dan berkualitas, demi suksesnya program MBG yang sangat vital bagi kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa.

banner 325x300