Islam Makhachev kembali mengukir sejarah di dunia UFC. Petarung asal Dagestan ini sukses merebut gelar juara dunia kelas welter dari tangan Jack Della Maddalena di UFC 322 yang berlangsung di New York, Minggu (16/11/2025). Namun, bukan hanya kemenangannya yang jadi sorotan, melainkan juga ‘tantangan’ tak terduga yang ia layangkan langsung kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di tengah oktagon.
Makhachev Dominasi Oktagon, Raih Gelar Kedua
Pertarungan melawan Jack Della Maddalena di kelas welter menjadi bukti nyata dominasi dan adaptasi Makhachev. Sejak ronde pertama, petarung yang dikenal dengan gaya gulatnya yang mematikan ini tampil sangat percaya diri. Ia berhasil mengontrol jalannya pertandingan, menunjukkan kemampuan striking dan grappling yang seimbang.
Meskipun gagal mengakhiri pertarungan dengan KO, Makhachev berhasil meraih kemenangan mutlak melalui keputusan juri. Ini adalah pencapaian luar biasa, mengingat ia harus naik satu divisi dari kelas ringan, di mana ia juga merupakan juara bertahan. Dua sabuk juara kini melingkar di pundaknya, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di UFC.
Teriakan Lantang untuk Donald Trump
Setelah dinyatakan sebagai pemenang, euforia Makhachev memuncak. Dalam wawancara pasca-pertarungan di oktagon, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengirim pesan khusus. Bukan kepada rival berikutnya atau keluarganya, melainkan langsung kepada orang nomor satu di Amerika Serikat.
"Donald Trump, ayo buka Gedung Putih. Saya akan datang!" teriak Makhachev dengan lantang, dikutip dari MMA Fighting. Pernyataan ini sontak membuat publik heboh. Apa sebenarnya maksud di balik ajakan mendadak ini? Dan mengapa harus Donald Trump?
Proyek Ambisius UFC di Gedung Putih
Ternyata, ajakan Makhachev ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya, Donald Trump memang pernah mengungkapkan rencana ambisius bersama CEO UFC, Dana White. Mereka berencana untuk menggelar sebuah ajang pertarungan UFC di halaman Gedung Putih.
Acara bersejarah ini direncanakan akan berlangsung pada Juni 2026. Ide ini tentu saja memicu antusiasme besar di kalangan petarung. Bayangkan, bertarung di salah satu ikon paling penting di Amerika Serikat, disaksikan langsung oleh Presiden!
Para Bintang UFC Berebut Tempat
Wajar jika banyak petarung papan atas langsung menyatakan minatnya untuk tampil di ajang spesial tersebut. Nama-nama besar seperti mantan juara kelas berat Jon Jones dan juara dua divisi UFC, Ilia Topuria, sudah terang-terangan ingin masuk dalam daftar petarung. Mereka melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mengukir sejarah dan mendapatkan eksposur yang luar biasa.
Makhachev, dengan dua sabuk juara di tangannya, jelas tidak mau ketinggalan. Ia berambisi untuk mempertahankan gelar kelas welter yang baru saja direbutnya di panggung paling bergengsi itu. Keinginan ini menunjukkan betapa besar ambisinya untuk tidak hanya menjadi juara, tetapi juga bagian dari sejarah UFC.
Perjalanan Islam Makhachev: Dari Dagestan ke Puncak Dunia
Kemenangan ini bukan sekadar tambahan sabuk, melainkan juga puncak dari kerja keras dan dedikasi Islam Makhachev. Dibesarkan di bawah bimbingan legenda seperti Khabib Nurmagomedov, Makhachev telah lama dipersiapkan untuk menjadi penerus takhta. Gaya bertarungnya yang dominan, terutama dalam gulat, membuatnya menjadi ancaman serius di setiap divisi.
Sebelumnya, ia telah mengukuhkan diri sebagai raja di kelas ringan. Kini, dengan sabuk kelas welter, ia membuktikan bahwa ia adalah petarung sejati yang mampu beradaptasi dan menaklukkan tantangan di kelas yang lebih tinggi. Ini adalah warisan yang ia bangun, selangkah demi selangkah, dengan keringat dan tekad baja.
Khabib Nurmagomedov: Mentor dan Saksi Sejarah
Di momen bersejarah ini, sosok Khabib Nurmagomedov tak bisa dilepaskan. Sang mentor dan sahabat karib ini terlihat mendampingi Makhachev di setiap langkah. Khabib-lah yang mengalungkan kedua sabuk juara di pundak Makhachev, sebuah simbol dari kerja keras dan impian yang terwujud.
Hubungan mereka lebih dari sekadar pelatih dan murid; mereka adalah saudara seperjuangan. Kehadiran Khabib selalu menjadi motivasi tambahan bagi Makhachev, mengingatkannya pada standar keunggulan yang telah ditetapkan oleh para pendahulunya dari Dagestan.
Emosi Campur Aduk Sang Juara
Usai pertarungan, Makhachev tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Ini adalah mimpi," katanya, matanya berbinar. Ia mengakui semua kerja keras yang telah ia lakukan untuk meraih kedua sabuk tersebut.
"Saya sangat bahagia. Sabuk ini sangat berat dan saya menyukainya. Saya bekerja keras untuk momen ini. Hidup saya telah berubah," ujar Makhachev menambahkan. Kata-kata ini menggambarkan betapa besar arti kemenangan ini baginya, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi. Ini adalah validasi atas semua pengorbanan yang telah ia lakukan.
Masa Depan Cerah dan Tantangan Baru
Dengan dua gelar juara di tangan, masa depan Islam Makhachev di UFC terlihat sangat cerah. Ia kini berada di puncak rantai makanan, menjadi salah satu petarung paling dominan dan disegani. Tantangan berikutnya mungkin adalah mempertahankan kedua gelarnya, atau bahkan menghadapi super fight yang akan semakin mengukuhkan status legendanya.
Apakah Donald Trump akan menanggapi ajakan Makhachev? Akankah kita benar-benar melihat pertarungan UFC di Gedung Putih pada Juni 2026 dengan Makhachev sebagai salah satu bintangnya? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, Islam Makhachev telah menulis babak baru dalam sejarah UFC, dan dunia kini menanti langkahnya selanjutnya.


















