Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Pertamina Gemparkan COP30! Gandeng Mitra Global, Ini Strategi Rahasia Lawan Perubahan Iklim dan Kejar Net Zero Lebih Cepat

pertamina gemparkan cop30 gandeng mitra global ini strategi rahasia lawan perubahan iklim dan kejar net zero lebih cepat portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Indonesia – PT Pertamina (Persero) kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional. Perusahaan energi nasional ini sukses memperkuat kolaborasi strategis dengan berbagai mitra global dalam upaya serius menghadapi tantangan perubahan iklim. Langkah konkret ini ditegaskan dalam Konferensi Internasional Perubahan Iklim Persatuan Bangsa-bangsa atau COP30 di Belem, Brasil.

Berbagai inisiatif dan langkah nyata tengah disiapkan Pertamina untuk mengurangi emisi, menjadi bukti komitmennya. Semua ini terungkap dalam sebuah Sesi Diskusi bertema "Financing Climate Action through Methane Management: Unlocking Global Partnerships for a Net-Zero Future" yang digelar di Paviliun Indonesia pada COP30, Jumat (14/11) lalu.

banner 325x300

Pertamina Siap Tancap Gas Menuju Net Zero Emission

Wenny Ipmawan, Senior Vice President HSEE PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa sebagai tulang punggung energi nasional, Pertamina memegang teguh komitmen untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Bahkan, dengan dukungan kuat dari mitra strategis, target ambisius ini diharapkan bisa dicapai lebih cepat dari jadwal.

Komitmen ini bukan sekadar janji di atas kertas. Pertamina secara aktif mendukung Global Methane Pledge, sebuah inisiatif penting yang diluncurkan pada COP26, di mana Indonesia menjadi salah satu dari 159 negara yang bergabung. Ini adalah langkah krusial dalam mengurangi emisi metana secara global.

Tak berhenti di situ, Pertamina juga telah menandatangani Oil and Gas Decarbonization Charter (OGDC). Melalui charter ini, Pertamina menargetkan emisi hulu mendekati nol dan intensitas metana 1-2 persen pada tahun 2030. Sebuah target yang sangat ambisius namun realistis dengan kolaborasi yang tepat.

"Komitmen global ini menjadi fondasi utama bagi kami," ujar Wenny dalam diskusi tersebut. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan semua komitmen ini menjadi aksi nyata di lapangan.

Pertamina, menurut Wenny, memiliki peran sentral dalam mengimplementasikan komitmen nasional ke dalam praktik operasional sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berpartisipasi dalam diskusi, tetapi juga menjadi pelopor dalam eksekusi.

Strategi Jitu Pertamina: Fokus pada Pengurangan Emisi Metana

Siapa sangka, Pertamina sudah menjalankan berbagai aksi nyata melalui 10 fokus kebijakan keberlanjutannya. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah upaya masif dalam pengurangan emisi metana.

Metana sendiri adalah gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pengurangan emisi metana menjadi salah satu strategi paling efektif untuk memperlambat laju perubahan iklim.

"Pertamina akan terus menjalankan kolaborasi erat dengan mitra global untuk mengakselerasi pengurangan emisi karbon dan transisi energi di Indonesia," tegas Wenny. Ini menandakan bahwa Pertamina tidak berjalan sendiri, melainkan merangkul kekuatan kolektif untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Kolaborasi ini bukan hanya tentang transfer teknologi, tetapi juga pertukaran pengetahuan dan pengalaman terbaik dari berbagai belahan dunia. Dengan begitu, Pertamina bisa mengadopsi praktik-praktik paling mutakhir dalam upaya dekarbonisasi.

Dukungan Penuh dari Raksasa Dunia: World Bank dan JOGMEC Turun Tangan

Dalam sesi diskusi yang sama, dukungan penuh datang dari institusi keuangan dan energi global. Demetrios Papathanasiou, Direktur Global untuk Departemen Energi dan Ekstraktif Global Bank Dunia (World Bank), serta Masataka Yanita, Director for LNG and Methane Management Division JOGMEC, secara terang-terangan menyatakan apresiasi dan dukungan mereka terhadap upaya dekarbonisasi yang dilakukan Indonesia dan Pertamina.

Demetrios dari World Bank menyoroti peran penting Asia dalam penggunaan energi global. Ia optimistis bahwa minyak dan gas akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari bauran energi dalam waktu dekat. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus berupaya menurunkan emisi karbon dari sektor ini.

World Bank melihat bahwa investasi dalam teknologi rendah karbon dan praktik berkelanjutan di sektor migas adalah kunci. Mereka siap mendukung negara-negara seperti Indonesia dalam transisi energi yang adil dan berkelanjutan, memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

Sementara itu, Masataka Yanita dari JOGMEC (Japan Organization for Metals and Energy) mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kesepakatan studi bersama dengan Pertamina dan badan operasi lainnya. Studi ini bertujuan untuk melakukan pengukuran langsung emisi metana di fasilitas hulu di Indonesia.

Ini bukan kali pertama JOGMEC bekerja sama dengan Pertamina. Proyek ini sudah memasuki tahun kedua dan telah menunjukkan hasil yang signifikan. Pengukuran langsung ini krusial untuk mendapatkan data akurat yang menjadi dasar pengambilan keputusan strategis.

"Tahun lalu, kami melakukan pengukuran di area Matindok dan Donggi. Tahun ini, kami sedang melakukan pengukuran di tiga area tambahan," jelas Masataka. Lebih lanjut, JOGMEC juga berupaya menyelesaikan studi zero-flaring untuk lapangan-lapangan tersebut, sebuah praktik yang bertujuan menghilangkan pembakaran gas berlebih yang menghasilkan emisi.

Tak hanya itu, JOGMEC juga berkomitmen mendukung upaya Pertamina dalam mencapai standar OGMP (Oil and Gas Methane Partnership) Level 4/5. Ini adalah standar tertinggi dalam pelaporan dan manajemen emisi metana, menunjukkan keseriusan Pertamina dalam transparansi dan akuntabilitas.

Metana: Musuh Utama yang Harus Ditaklukkan

Nani Hendiarti, Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dijalankan Pertamina bersama World Bank dan JOGMEC. Menurutnya, sinergi ini sangat vital untuk membangun masa depan yang berkelanjutan dan tangguh bagi Indonesia.

Nani menekankan bahwa salah satu upaya pengurangan emisi karbon paling strategis adalah melalui pengurangan metana. Metana, meskipun merupakan polutan iklim berumur pendek, memiliki dampak yang sangat besar terhadap pemanasan global. Efeknya bisa puluhan kali lipat lebih kuat dari CO2 dalam periode 20 tahun pertama setelah dilepaskan.

Indonesia, lanjut Nani, terus berupaya memperluas akses terhadap pendanaan, pasar karbon, dan mekanisme berbasis risiko. Ini semua dilakukan untuk mengurangi risiko proyek-proyek terkait metana dan meningkatkan kelayakan pembiayaannya.

Pada saat yang sama, Nani juga memuji peran kepemimpinan pelaku korporasi seperti Pertamina dalam penerapan Oil and Gas Methane Partnership (OGMP 2.0). Ini menunjukkan bahwa sektor swasta memiliki peran krusial dalam mendorong perubahan dan inovasi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.

Dengan langkah-langkah konkret ini, Pertamina tidak hanya memenuhi komitmen global, tetapi juga membuktikan diri sebagai pelopor dalam transisi energi di Indonesia. Kolaborasi dengan mitra global, fokus pada pengurangan metana, dan dukungan dari institusi internasional menjadi kunci utama Pertamina dalam mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia serius dalam menghadapi krisis iklim.

banner 325x300