banner 728x250

Gila! Google Bangun Pusat Data di Luar Angkasa, Masa Depan AI Ada di Orbit?

gila google bangun pusat data di luar angkasa masa depan ai ada di orbit portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Google, raksasa teknologi yang kita kenal, kini punya rencana yang terdengar seperti fiksi ilmiah: membangun pusat data raksasa di luar angkasa. Proyek ambisius ini diberi nama Project Suncatcher, dan tujuannya sangat jelas: memenuhi kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) yang terus meroket. Bayangkan, data center yang selama ini kita kenal di darat, kini akan mengorbit di atas kepala kita!

Raksasa perusahaan teknologi asal California, Amerika Serikat ini, berharap dapat memanfaatkan tenaga surya secara maksimal dan secara signifikan mengurangi biaya peluncuran roket dalam jangka panjang. Mereka bahkan berencana meluncurkan peralatan uji coba pertama ke orbit dalam waktu dekat, sebagai langkah awal mewujudkan mimpi ini.

banner 325x300

Project Suncatcher: Apa Itu dan Mengapa Penting?

Project Suncatcher membayangkan sebuah konstelasi satelit bertenaga surya yang kompak, dilengkapi dengan prosesor bertenaga tinggi dari Google TPUs. Para ilmuwan dan insinyur Google berpendapat bahwa sekitar 80 satelit semacam ini dapat diatur di orbit sekitar 400 mil (sekitar 640 km) di atas permukaan Bumi.

Langkah ini diambil Google bukan tanpa alasan. Dengan semakin meluasnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan, permintaan akan daya komputasi yang besar dan efisien terus meningkat. Pusat data tradisional di Bumi membutuhkan sumber daya yang masif, mulai dari lahan hingga air untuk pendinginan, yang semuanya memiliki dampak lingkungan.

Keunggulan Pusat Data di Luar Angkasa: Efisiensi Maksimal?

Salah satu daya tarik utama dari pusat data di luar angkasa adalah pemanfaatan energi surya. Setelah berada di orbit, panel surya dapat menghasilkan energi delapan kali lipat lebih efisien dibandingkan panel surya di Bumi. Ini karena di luar angkasa, tidak ada atmosfer yang menghalangi sinar matahari, dan paparan cahaya bisa berlangsung hampir terus-menerus.

Selain itu, penggunaan satelit untuk pusat data dapat meminimalkan penggunaan sumber daya darat dan air yang krusial di Bumi. Pendinginan di luar angkasa juga bisa lebih efisien karena suhu ekstrem dan vakum ruang angkasa dapat dimanfaatkan, mengurangi kebutuhan sistem pendingin kompleks seperti di darat.

Google merilis penelitian pada Selasa (4/11) yang memprediksi bahwa biaya peluncuran ke luar angkasa akan menurun drastis. Ini berarti, pada pertengahan tahun 2030-an, biaya operasional pusat data berbasis luar angkasa akan sebanding dengan yang ada di Bumi. Sebuah prospek yang sangat menarik bagi perusahaan teknologi.

Tantangan dan Kontroversi di Balik Ambisi Google

Namun, setiap inovasi besar pasti datang dengan tantangan dan kontroversi. Salah satu isu utama adalah emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari peluncuran roket. Meskipun pusat data di orbit menjanjikan efisiensi energi, peluncuran satu roket saja dapat menghasilkan emisi karbon hingga ratusan ton.

Para astronom juga mungkin menentang hal ini. Jumlah satelit yang semakin banyak di orbit rendah dapat mengganggu pengamatan mereka tentang alam semesta, menyebabkan apa yang dikenal sebagai "polusi cahaya" dan menghalangi pandangan bintang-bintang. Ini menjadi dilema antara kemajuan teknologi dan pelestarian ilmu pengetahuan dasar.

Dalam proyek Suncatcher, pusat data yang mengorbit akan mengirimkan hasilnya kembali ke Bumi melalui tautan optik. Teknologi ini biasanya menggunakan cahaya atau sinar laser untuk mengirimkan informasi, menjanjikan kecepatan dan efisiensi transfer data yang tinggi.

Bukan Hanya Google: Perlombaan Luar Angkasa untuk AI

Google bukan satu-satunya pemain yang melirik luar angkasa untuk masa depan AI. Elon Musk, yang memimpin penyedia internet satelit Starlink dan program roket SpaceX, pekan lalu mengatakan perusahaannya akan mulai memperluas operasinya untuk membangun pusat data di ruang angkasa. Ini menunjukkan tren yang jelas di antara para inovator teknologi.

Nvidia, perusahaan chip terkemuka, juga akan meluncurkan Chip AI ke luar angkasa pada akhir bulan, bekerja sama dengan startup Starcloud. Ini menandakan bahwa perlombaan untuk membawa komputasi AI ke orbit sudah dimulai, dengan berbagai pemain besar yang terlibat.

Philip Johnston, salah satu pendiri Starcloud, menjelaskan mengapa ruang angkasa begitu menarik. "Di ruang angkasa, Anda mendapatkan energi terbarukan yang hampir tak terbatas dan murah," katanya. Ia menambahkan, "Biaya lingkungan yang timbul hanya pada saat peluncuran, namun selama masa operasional pusat data, akan ada penghematan karbon dioksida hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan mengoperasikan pusat data di darat."

Kapan Kita Bisa Melihatnya? Roadmap Project Suncatcher

Google berencana meluncurkan dua satelit prototipe pada awal 2027. Ini akan menjadi "tonggak pertama menuju AI berbasis ruang angkasa yang dapat diskalakan," menurut riset mereka. Jika proyek ini berhasil, kita mungkin akan melihat masa depan di mana sebagian besar komputasi AI tidak lagi membebani Bumi.

Perusahaan teknologi besar yang mengejar kemajuan pesat AI diperkirakan akan terus membeli pusat data darat di mana-mana, mulai dari Lincolnshire hingga Brasil, dan India hingga Texas. Pengeluaran ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang dampak emisi karbon jika energi bersih tidak ditemukan untuk menggerakkan proyek-proyek tersebut.

"Di masa depan, ruang angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk mengembangkan komputer AI," kata Google dalam risetnya. "Dengan berangkat dari sana, proyek riset ambisius kami, Project Suncatcher, membayangkan konstelasi satelit bertenaga surya yang kompak, dilengkapi dengan Google TPUs dan terhubung melalui tautan optik ruang bebas. Pendekatan ini memiliki potensi besar untuk skalabilitas, sekaligus meminimalkan dampak pada sumber daya di Bumi."

Project Suncatcher adalah bukti nyata bahwa batas antara fiksi ilmiah dan kenyataan semakin tipis. Google tidak hanya bermimpi besar, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk mewujudkan masa depan di mana kecerdasan buatan tidak hanya cerdas, tetapi juga berkelanjutan, dengan "markas" barunya di luar angkasa.

banner 325x300