banner 728x250

Insentif Mobil Listrik Impor Berakhir? Chery Ungkap Dampak ke Harga dan Pasar EV!

insentif mobil listrik impor berakhir chery ungkap dampak ke harga dan pasar ev portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Wacana penghentian insentif mobil listrik impor di Indonesia mulai memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah Chery Indonesia, yang menyuarakan kekhawatiran atas potensi dampak kebijakan ini terhadap pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Tanah Air.

Insentif yang selama ini dinikmati oleh mobil listrik impor berstatus Completely Built Up (CBU) memang dijadwalkan akan berakhir pada 31 Desember 2025. Namun, diskusi mengenai kelanjutannya yang tidak akan diperpanjang lagi, bahkan untuk penerbitan izin baru yang akan disetop tahun ini, menimbulkan pertanyaan besar.

banner 325x300

Insentif Mobil Listrik Impor: Apa yang Terjadi?

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa program insentif untuk mobil listrik impor CBU tidak akan dilanjutkan setelah batas waktu yang ditentukan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang pada September 2024 lalu menegaskan bahwa izin CBU dalam konteks skema investasi dengan manfaat tidak akan dikeluarkan lagi tahun ini.

Ini berarti, para Agen Pemegang Merek (APM) dan masyarakat hanya memiliki waktu terbatas untuk menikmati keuntungan dari program yang telah berjalan sejak Februari 2024 tersebut. Program ini dirancang sebagai "tes pasar" untuk mendorong adopsi mobil listrik di Indonesia.

Lalu, apa sebenarnya insentif yang dimaksud? Program ini memberikan keringanan berupa bea masuk (BM) nol persen, padahal seharusnya 50 persen. Selain itu, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) juga menjadi nol persen, dari yang seharusnya 15 persen.

Secara total, insentif ini membuat pajak yang disetor peserta program ke pemerintah pusat untuk mobil listrik impor hanya sekitar 12 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan total pajak normal yang mencapai 77 persen. Tentu saja, pengurangan pajak yang signifikan ini berimbas langsung pada harga jual mobil listrik yang lebih terjangkau bagi konsumen.

Chery Bersuara: Mengapa Insentif Masih Penting?

Melihat kondisi ini, Wang Peng, COO PT Chery Sales Indonesia (CSI), menyampaikan pandangannya. Menurutnya, insentif sejatinya masih sangat dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) yang saat ini sedang berkembang pesat di Indonesia.

Wang Peng menekankan bahwa kebijakan insentif bukan hanya menguntungkan bagi para pelaku usaha seperti Chery, melainkan juga memberikan dampak positif langsung kepada konsumen. Insentif tersebut berperan penting dalam menekan harga jual mobil listrik, sehingga membuatnya lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

"Tentunya, kalau ada insentif, itu menjadi keuntungan bagi pelanggan, bukan hanya untuk Chery. Karena insentif tersebut membantu menurunkan harga jual ke konsumen," kata Wang di dealer Jaecoo Mampang, Jakarta Selatan, pada Kamis (30/10). Oleh karena itu, ada harapan besar agar pemerintah tidak sepenuhnya mencabut kebijakan yang sangat krusial ini.

Meskipun demikian, Chery Indonesia menegaskan komitmennya untuk selalu mendukung dan mematuhi setiap keputusan yang akan diambil pemerintah di masa depan. Fokus utama perusahaan tetap pada penyediaan produk dan layanan terbaik bagi konsumen di Tanah Air, apa pun kebijakan yang berlaku.

Siapa Saja yang Terdampak? Daftar Merek Mobil Listrik Impor Penerima Insentif

Penghentian insentif ini tentu akan berdampak pada sejumlah produsen otomotif yang selama ini memanfaatkan program tersebut. Sejauh ini, ada enam produsen besar yang tercatat sebagai penerima manfaat dari insentif mobil listrik impor CBU.

Mereka adalah BYD Auto Indonesia (BYD), Vinfast Automobile Indonesia (Vinfast), Geely Motor Indonesia (Geely), dan Era Industri Otomotif (Xpeng). Selain itu, National Assemblers yang membawa merek Aion, Citroen, Maxus, dan VW, serta Inchape Indomobil Energi Baru yang memasarkan GWM Ora, juga turut menikmati insentif ini.

Bagi merek-merek ini, berakhirnya insentif bisa berarti penyesuaian harga jual yang signifikan. Tanpa potongan bea masuk dan PPnBM, harga mobil listrik impor mereka berpotensi melonjak drastis, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing di pasar dan minat beli konsumen.

Strategi Chery Hadapi Ketidakpastian: Tak Cuma Andalkan Baterai!

Menghadapi potensi perubahan kebijakan ini, Chery telah menyiapkan strategi adaptasi yang matang. Wang Peng menjelaskan bahwa grup Chery tidak hanya mengandalkan lini mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) semata.

Mereka juga mengembangkan kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Range Extended Electric Vehicle (REEV). Dengan portofolio kendaraan elektrifikasi yang lebih lengkap ini, Chery merasa lebih siap untuk menyesuaikan diri dengan berbagai skenario kebijakan pemerintah di masa mendatang.

"Jadi, kebijakan apa pun dari pemerintah, kami tetap siap dan akan menyesuaikan," tegas Wang. Diversifikasi produk ini menunjukkan kesiapan Chery untuk tetap kompetitif, bahkan jika ada perubahan drastis dalam regulasi insentif.

Selain itu, Chery juga memastikan kepatuhan terhadap kebijakan produksi lokal. Seluruh produk Chery yang dirakit di Indonesia telah memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen. Bahkan, perusahaan menargetkan peningkatan TKDN hingga 60 persen pada tahun depan.

Komitmen terhadap TKDN ini menjadi kunci penting. Dengan produksi lokal yang tinggi, Chery tidak akan terlalu bergantung pada impor dan akan lebih tahan terhadap perubahan kebijakan insentif impor. "Jadi dari sisi kepatuhan terhadap kebijakan lokal, kami sudah siap," ucap Wang.

Masa Depan Pasar Mobil Listrik Indonesia Tanpa Insentif Impor

Berakhirnya insentif mobil listrik impor CBU akan membawa dampak signifikan bagi lanskap pasar EV di Indonesia. Salah satu konsekuensi paling jelas adalah potensi kenaikan harga mobil listrik impor. Jika harga naik, daya beli konsumen bisa terpengaruh, dan adopsi kendaraan listrik mungkin melambat.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk mendorong investasi dan produksi mobil listrik di dalam negeri. Dengan tidak lagi memberikan insentif untuk produk impor, pemerintah secara tidak langsung memaksa produsen untuk berinvestasi dalam fasilitas perakitan dan manufaktur lokal.

Hal ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri EV yang lebih mandiri dan kuat di Indonesia, sekaligus membuka lapangan kerja dan transfer teknologi. Produsen yang serius menggarap pasar Indonesia akan didorong untuk memenuhi persyaratan TKDN dan berinvestasi dalam rantai pasok lokal.

Apa Kata Pemerintah? Target Jangka Panjang Industri Otomotif

Pemerintah Indonesia memiliki target ambisius untuk menjadikan negara ini sebagai salah satu pusat produksi kendaraan listrik global. Penghentian insentif impor CBU adalah salah satu langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong investasi jangka panjang dalam industri otomotif, khususnya di sektor kendaraan listrik. Fokusnya adalah menciptakan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk impor.

Pemerintah ingin memastikan bahwa pertumbuhan pasar EV di Indonesia tidak hanya dinikmati oleh produk-produk impor, tetapi juga oleh industri lokal yang mampu memproduksi komponen dan merakit kendaraan secara mandiri. Ini adalah langkah menuju kemandirian industri dan penguatan ekonomi nasional.

Menanti Babak Baru Pasar EV Indonesia

Dengan akan berakhirnya insentif mobil listrik impor, pasar EV di Indonesia akan memasuki babak baru yang penuh tantangan sekaligus peluang. Produsen akan dituntut untuk lebih inovatif dalam strategi harga dan produksi, sementara konsumen akan dihadapkan pada pilihan yang mungkin berbeda.

Peran pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk produksi lokal akan menjadi sangat krusial. Sementara itu, kesiapan produsen seperti Chery dengan strategi diversifikasi produk dan komitmen TKDN menunjukkan bahwa industri otomotif Tanah Air siap beradaptasi dan terus berkembang, demi masa depan mobilitas yang lebih hijau.

banner 325x300