Lady Gaga, ikon pop dunia yang dikenal dengan karya-karya revolusioner dan penampilan panggung memukau, baru-baru ini membuka diri tentang fase tergelap dalam hidupnya. Ia mengakui sempat dirawat oleh psikiater di rumah sakit karena mengalami gangguan kesehatan jiwa yang parah, terutama setelah menyelesaikan syuting film "A Star Is Born". Pengakuan jujur ini memberikan gambaran tentang tekanan mental yang dialami para bintang di balik layar gemerlap Hollywood.
Tekanan di Balik Layar ‘A Star Is Born’
Selama proses syuting film musikal "A Star Is Born" yang menjadi debutnya sebagai bintang utama, Lady Gaga mengungkapkan bahwa dirinya menggunakan lithium. Obat ini berfungsi sebagai penstabil suasana hati, sebuah fakta yang ia sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan majalah Rolling Stone yang terbit pada Kamis (13/11). Penggunaan lithium menunjukkan betapa beratnya beban emosional yang ia pikul saat memerankan Ally Maine.
Lithium sendiri merupakan obat yang umum digunakan untuk mengobati mania, gejala utama dari gangguan bipolar, serta untuk mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan episode manik. Meski demikian, Gaga tidak pernah secara publik mengungkapkan diagnosis spesifik terkait kondisi kesehatan mentalnya. Hal ini menambah misteri sekaligus menunjukkan privasi yang ia jaga mengenai perjuangan pribadinya.
Film "A Star Is Born" yang dibintanginya bersama Bradley Cooper, digarap dari April hingga Juni 2017. Setelah syuting rampung, Gaga langsung memulai tur dunia bertajuk "Joanne World Tour" yang berlangsung dari Agustus 2017 hingga Februari 2018. Periode inilah yang menjadi titik balik, di mana ia mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi mentalnya.
Titik Terendah dan Perawatan Psikiatris
Kondisi Lady Gaga semakin memburuk hingga membuat orang terdekatnya khawatir. "Suatu kali adik saya bilang, ‘gue enggak kenal kakak gue lagi’," kenang perempuan bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta itu. Perkataan sang adik menjadi alarm keras yang membuatnya sadar bahwa ia membutuhkan bantuan serius.
Puncaknya, ia terpaksa membatalkan sisa jadwal tur yang sedang berjalan. "Suatu hari, saya pergi ke rumah sakit untuk perawatan psikiatris," ujarnya. Keputusan ini diambil karena ia merasa benar-benar hancur dan tidak mampu melakukan apa pun lagi.
"Saya perlu istirahat. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.. Saya benar-benar hancur. Rasanya sangat menakutkan. Ada saat di mana saya merasa tidak bisa sembuh," lanjut Gaga, menggambarkan keputusasaan yang ia rasakan. Momen tersebut menjadi salah satu titik terendah dalam hidupnya, di mana ia merasa kehilangan harapan dan arah.
Jalan Menuju Pemulihan dan Kemenangan Oscar
Namun, kegelapan itu tidak berlangsung selamanya. Setelah menjalani serangkaian bantuan profesional dari psikiater dan terapis, perlahan Lady Gaga mulai merasakan adanya perubahan positif. Proses pemulihan ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Kabar dirinya mendapatkan nominasi Oscar pada tahun 2019 untuk kategori Best Original Song melalui lagu "Shallow" dari film "A Star Is Born" juga menjadi pemicu semangat. Nominasi tersebut, dan kemudian kemenangannya, seolah menjadi validasi atas perjuangan dan bakatnya, memberinya kekuatan untuk terus melangkah maju.
"Saya merasa sangat beruntung masih hidup," kata Gaga, sebuah pengakuan yang mungkin terdengar dramatis, namun sangat jujur menggambarkan kedalaman penderitaan yang ia alami. Kemenangan Oscar tidak hanya menjadi pencapaian karier, tetapi juga simbol kemenangan atas perjuangan pribadinya.
Michael Polansky: Sang Penjaga Hati
Kini, Lady Gaga bersyukur bisa merasakan dirinya sudah menjadi "pribadi yang sehat dan utuh". Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada tunangannya, Michael Polansky, yang ikut membantunya mencapai fase kehidupan yang lebih baik ini. Peran Polansky dalam proses pemulihan Gaga sangatlah signifikan.
"Jatuh cinta dengan seseorang yang peduli dengan diriku yang sebenarnya membuat perbedaan yang sangat besar," ungkap Gaga dengan haru. Ia menjelaskan bahwa Polansky melihat dirinya bukan sebagai bintang pop dunia, melainkan sebagai Stefani, seorang individu yang sedang berjuang.
"Yang ia lihat adalah, ini adalah seseorang yang merasa sangat jauh dari apa yang seharusnya mereka lakukan," lanjut Gaga. "Ia ingin menjagaku. Dan aku belum pernah dicintai seperti itu." Polansky memberikan cinta yang tulus dan tanpa syarat, sesuatu yang sangat dibutuhkan Gaga di masa sulitnya.
"Hidupku serius baginya. Itu bukan pesta. Ia membantuku menyadari bahwa hidupku berharga," tegas Gaga. Cinta dan dukungan dari Polansky menjadi fondasi kuat yang membantunya membangun kembali dirinya, menemukan kembali nilai diri, dan merasa aman serta dicintai.
Kisah Cinta yang Mengubah Hidup
Hubungan Lady Gaga dengan Michael Polansky memang telah mengubah hidupnya secara drastis. Pada Oktober 2024, ia pernah menyatakan bahwa pertemuan dengan Polansky telah mengubah segalanya. Ia tidak hanya melihat Polansky sebagai tunangan atau pasangan, tetapi juga sebagai seorang sahabat sejati yang selalu ada di sisinya.
Kabar pertunangan Lady Gaga dengan Michael Polansky pertama kali dikonfirmasi saat ajang Olimpiade 2024. Kala itu, ia secara terbuka mengenalkan Polansky sebagai tunangannya saat berbincang dengan Perdana Menteri (PM) Prancis Gabriel Attal, sebuah momen yang menarik perhatian publik global.
Lady Gaga pertama kali diberitakan menjalin hubungan asmara dengan Michael Polansky pada tahun 2019. Polansky dikenal sebagai seorang pengusaha teknologi sukses yang merupakan lulusan Universitas Harvard. Latar belakangnya yang cerdas dan berprestasi seolah melengkapi sosok Lady Gaga.
Keduanya baru memutuskan untuk terbuka kepada publik pada tahun 2020. Pada 3 Februari tahun itu, Lady Gaga memamerkan kemesraannya dengan kekasih baru lewat sebuah unggahan di Instagram, menandai awal dari kisah cinta mereka yang kini menjadi inspirasi banyak orang. Kisah Lady Gaga membuktikan bahwa di balik gemerlap panggung, perjuangan mental adalah nyata, dan cinta sejati bisa menjadi obat paling mujarab.


















