Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Harga Telur Meroket Tajam, Mentan Panggil Perusahaan Raksasa: Ada Apa Sebenarnya?

harga telur meroket tajam mentan panggil perusahaan raksasa ada apa sebenarnya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kenaikan harga telur ayam ras yang signifikan di berbagai daerah kini menjadi sorotan utama. Situasi ini tidak hanya membebani rumah tangga, tetapi juga memicu respons cepat dari pemerintah. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahkan berencana memanggil perusahaan-perusahaan besar untuk dimintai keterangan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk pengawasan ketat, memastikan harga di tingkat konsumen tetap terkendali. Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat gejolak harga pangan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat. "Nanti kami panggil, kami panggil perusahaan-perusahaan besarnya," ujar Bos Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (11/11).

banner 325x300

Mentan Amran Turun Tangan, Siap Panggil Perusahaan Besar

Pemanggilan perusahaan besar ini bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memahami secara menyeluruh mata rantai distribusi dan produksi telur, mencari tahu di mana letak masalah yang menyebabkan harga melambung. Transparansi dari pihak produsen dan distributor sangat krusial dalam upaya stabilisasi harga.

Amran menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya keras mendorong peningkatan produksi. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak pasokan bibit ayam (day old chick/DOC) dan menambah stok indukan (grand parent stock). Harapannya, pasokan yang melimpah bisa menekan harga di pasaran.

Upaya ini juga diharapkan dapat memberikan angin segar bagi para peternak lokal. Banyak peternak sebelumnya merugi akibat harga yang tidak stabil, bahkan terlalu rendah. Kini, dengan adanya dorongan produksi dan harga yang cenderung naik, ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk kembali bangkit dan menyejahterakan diri.

Mentan Amran bahkan menilai kenaikan harga telur saat ini tidak sepenuhnya berdampak negatif. Ia melihatnya sebagai pemicu pergerakan ekonomi di sektor peternakan. "Ini kesempatan peternak untuk bangkit. Kan banyak peternak merugi sebelumnya, kan. Nah, ini kesempatan. Inilah dampak positif daripada MBG (Makan Bergizi Gratis)," katanya.

Menurutnya, harga telur tiga bulan lalu masih berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram (kg), jauh lebih rendah dari kondisi saat ini. Kenaikan harga ini, di satu sisi, memberikan keuntungan bagi peternak yang selama ini tertekan. Namun, tentu saja, pemerintah tetap harus memastikan harga tidak mencekik konsumen.

Strategi Jangka Pendek: Genjot Produksi Jelang Nataru

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), permintaan akan bahan pangan, termasuk telur, biasanya melonjak drastis. Untuk mengantisipasi lonjakan ini, pemerintah telah menyiapkan strategi jangka pendek. Fokus utamanya adalah meningkatkan produksi nasional secara signifikan.

"Kita tingkatkan produksi, DOC-nya kita tambah, grand parent stock-nya kita tambah, semua kita tambah," imbuh Amran. Penambahan stok bibit dan indukan ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan telur di pasaran tetap aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan atau kenaikan harga yang tak terkendali saat momen penting tersebut.

Pemerintah juga akan memantau ketat distribusi telur dari sentra produksi ke berbagai daerah. Memastikan kelancaran distribusi adalah kunci agar pasokan merata dan tidak ada penimbunan yang bisa memicu kenaikan harga. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sangat dibutuhkan dalam implementasi strategi ini.

Solusi Permanen: Bangun Ekosistem Terintegrasi dengan Investasi Triliunan

Selain langkah-langkah jangka pendek, pemerintah juga telah menyiapkan solusi permanen untuk mengatasi masalah fluktuasi harga telur dan ayam. Amran mengungkapkan bahwa pemerintah akan membangun ekosistem produksi telur dan ayam secara terintegrasi. Tujuannya adalah menciptakan rantai pasok yang lebih efisien, stabil, dan berkelanjutan.

"Solusi permanennya adalah kita akan bangun ekosistem untuk telur dan ayam. Kita membangun secara terintegrasi ekosistemnya untuk memenuhi MBG," tuturnya. Ekosistem terintegrasi ini akan mencakup seluruh tahapan, mulai dari produksi pakan, pembibitan, peternakan, hingga distribusi ke konsumen.

Untuk mewujudkan visi ini, pemerintah tidak main-main. Sebuah investasi besar senilai Rp20 triliun telah disiapkan untuk membangun peternakan ayam pedaging dan petelur di seluruh Indonesia. Proyek ambisius ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat pasokan bahan pangan nasional.

Investasi triliunan ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan pasokan telur dan ayam yang stabil dan terjangkau, program MBG dapat berjalan lancar, memastikan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi. Pembangunan peternakan ini merupakan hasil kesepakatan dalam rapat finalisasi hilirisasi sektor pertanian, pangan, perkebunan, hortikultura, dan peternakan.

Fakta di Lapangan: Harga Telur Melonjak di Berbagai Daerah

Data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan bahwa hingga pekan pertama November 2025, harga telur ayam ras memang mengalami kenaikan di 43,33 persen wilayah Indonesia. Ini bukan sekadar isu lokal, melainkan fenomena yang tersebar luas di berbagai provinsi.

Badan Pusat Statistik (BPS) turut mencatat bahwa kenaikan harga ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan. Berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, hingga kebutuhan pasokan untuk program MBG, semuanya berkontribusi pada peningkatan konsumsi telur.

Beberapa daerah bahkan mencatat harga yang jauh di atas harga acuan penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Di Kabupaten Kampar, misalnya, harga telur mencapai Rp48.333 per kg, atau 61,11 persen di atas HAP. Sementara itu, di Kabupaten Melawi, harga berada di level Rp42 ribu per kg, dan di Kabupaten Alor mencapai Rp39.667.

Harga tertinggi secara nasional sungguh mencengangkan. Di Kabupaten Mamberamo Tengah, harga telur mencapai Rp100 ribu per kg. Disusul Kabupaten Puncak Jaya dan Intan Jaya yang masing-masing mencapai Rp90 ribu per kg. Angka-angka ini menunjukkan betapa disparitas harga telur sangat tinggi di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil dengan akses distribusi yang sulit.

Di sisi lain, beberapa daerah sentra produksi masih mencatat harga terendah di kisaran Rp23.300 per kg. Perbedaan harga yang ekstrem ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam rantai pasok dan distribusi yang perlu segera diatasi.

Mengapa Harga Telur Bisa Melambung Tinggi?

Kenaikan harga telur tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa masalah kompleks. Salah satu faktor utama adalah masalah distribusi. Kondisi geografis Indonesia yang kepulauan seringkali menjadi tantangan besar dalam menyalurkan barang dari sentra produksi ke daerah-daerah terpencil. Biaya transportasi yang tinggi dan infrastruktur yang kurang memadai turut memperparah kondisi ini.

Selain itu, pasokan pakan yang tidak stabil juga menjadi biang kerok. Harga pakan yang fluktuatif, seringkali naik, membebani peternak. Ketika biaya produksi meningkat, peternak mau tidak mau harus menaikkan harga jual telur mereka agar tetap bisa bertahan. Ketergantungan pada bahan baku pakan impor juga membuat industri peternakan rentan terhadap gejolak harga global.

Kenaikan harga di tingkat produsen dan pemasok juga menjadi faktor penting. Ketika biaya operasional peternak naik, mereka akan menaikkan harga jual ke distributor. Distributor kemudian akan menambah margin keuntungan mereka sebelum menjual ke pengecer, dan pada akhirnya, konsumenlah yang menanggung beban harga tertinggi.

Pemerintah melalui Mentan Amran Sulaiman kini berupaya keras untuk memutus mata rantai masalah ini. Dengan memanggil perusahaan besar, mendorong produksi, dan membangun ekosistem terintegrasi, diharapkan harga telur bisa kembali stabil. Ini demi menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha para peternak di seluruh Indonesia.

banner 325x300