Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Whoosh Terlilit Utang Rp120 Triliun, Prabowo Ambil Alih! Intip Kereta Cepat Negara Lain, Ada yang Lebih Fantastis?

whoosh terlilit utang rp120 triliun prabowo ambil alih intip kereta cepat negara lain ada yang lebih fantastis portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh kembali jadi sorotan hangat di tengah gema pembangunan infrastruktur. Proyek ambisius ini kini terlilit utang fantastis mencapai US$7,2 miliar atau setara Rp120,2 triliun (asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS).

Angka ini sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,21 miliar, jauh di atas estimasi awal US$6,05 miliar. Mayoritas pembiayaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75 persen, tanpa sentuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

banner 325x300

Whoosh, yang mulai dibangun sejak 2015 dan beroperasi perdana pada 2 Oktober 2023, telah mengubah lanskap transportasi. Kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara ini mampu memangkas waktu Jakarta-Bandung hanya dalam 30 menit, melaju hingga 350 km/jam.

Prabowo Subianto Pasang Badan: "Saya Tanggung Jawab Nanti Whoosh Itu Semuanya!"

Presiden terpilih Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh atas penumpukan utang Whoosh. Ia menegaskan bahwa transportasi publik tidak seharusnya hanya dipandang dari untung-rugi semata, melainkan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat.

Dengan tegas, Prabowo menyampaikan, "Enggak usah khawatir apa itu ribut-ribut Whoosh, saya sudah pelajari masalahnya, tidak ada masalah, saya tanggung jawab nanti Whoosh itu semuanya. Indonesia bukan negara sembarangan, kita hitung enggak masalah itu." Pernyataan ini disampaikan di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta, pada Selasa (4/11).

Lebih Dari Sekadar Whoosh: Kereta Cepat Dunia yang Bikin Melongo

Namun, di balik polemik Whoosh, tahukah kamu bahwa banyak negara lain juga memiliki kereta cepat dengan kisah dan keunikannya masing-masing? Dari yang super canggih hingga yang paling mahal, yuk intip deretan negara dengan moda transportasi futuristik ini!

1. China: Sang Raja Kereta Cepat dengan Ambisi Tak Terbatas

China memang tak ada duanya dalam hal kereta cepat. Negara Tirai Bambu ini memiliki tiga jenis kereta cepat yang mendominasi, yaitu Shanghai Maglev, Harmoni CR, dan CR Fuxing. Shanghai Maglev, yang beroperasi sejak 2004, melayani rute Stasiun Jalan Longyang ke Bandara Internasional Pudong Shanghai dengan kecepatan rata-rata 251 km/jam dan maksimal 460 km/jam.

Harmoni CR dan CR Fuxing juga tak kalah impresif, keduanya mampu melaju hingga 350 km/jam dengan rekor kecepatan masing-masing 486 km/jam dan 420 km/jam. China berambisi memperpanjang jalur kereta cepatnya hingga 60.000 km pada 2030, meningkat drastis dari 48.000 km pada 2024. Biaya pembangunan proyek kereta cepat di China rata-rata berkisar US$17 juta-US$21 juta atau setara Rp283,8 miliar-Rp350,5 miliar per kilometer.

2. Jepang: Legenda Shinkansen yang Tak Lekang Waktu

Jepang adalah pionir sejati dalam dunia kereta cepat dengan Shinkansen-nya yang legendaris. Sejak pertama kali beroperasi pada 1964, Shinkansen telah menjadi ikon kecepatan dan ketepatan waktu. Kereta ini mampu melaju hingga 320 km/jam dengan rekor kecepatan tertinggi 443 km/jam.

Saat ini, Jepang memiliki jalur Shinkansen sepanjang 3.000 km yang menghubungkan berbagai kota besar. Pembangunan jalur awal sepanjang 515 km yang melewati Tokyo, Nagoya, Osaka, hingga Tokaido menelan biaya sekitar JP¥380 miliar atau setara Rp41,28 triliun (asumsi kurs Rp108,7 per yen Jepang).

3. Jerman: Presisi dan Kecepatan ala ICE 3

Jerman, dengan reputasi presisi tekniknya, punya kereta cepat bernama ICE 3 atau Intercity-Express 3. Kereta ini mulai beroperasi sejak 1991 dan mampu mencapai kecepatan maksimum 320 km/jam, dengan rekor tertinggi 368 km/jam.

Menurut sebuah jurnal, biaya pembangunan proyek kereta cepat ICE 3 pada 2005 berkisar 15 juta-28,8 juta euro atau setara Rp288,49 miliar-Rp553,91 miliar (asumsi kurs Rp19.230 per euro) per kilometer. Kereta cepat ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga kenyamanan dan efisiensi yang menjadi ciri khas transportasi Jerman.

4. Spanyol: AVE, Menghubungkan Kota dengan Gaya

Spanyol tak mau kalah dengan Alta Velocidad Española (AVE), kereta cepat yang mulai beroperasi sejak 1992. AVE mampu melaju hingga 310 km/jam dan pernah mencatat rekor kecepatan 403 km/jam. Jalur awalnya menghubungkan Madrid, Cordoba, hingga Seville.

Kini, AVE memiliki jalur sepanjang 621 km yang menjadi tulang punggung konektivitas dua kota utama di Spanyol, yakni Barcelona dan Madrid. Biaya pembangunan proyek AVE diperkirakan mencapai 17,7 juta euro atau setara Rp340,42 miliar per kilometer.

5. Arab Saudi: Haramain, Kemewahan di Gurun Pasir

Di tengah gurun pasir, Arab Saudi membangun Haramain High Speed Railway (HHR) yang menghubungkan dua kota suci, Makkah dan Madinah. Jalur sepanjang 449 km ini menelan biaya fantastis US$16 miliar atau setara Rp266,8 triliun, menjadikannya kereta api terbesar di Timur Tengah.

Tak berhenti di situ, Arab Saudi juga berencana membangun kereta cepat rute Jeddah-Dammam via Riyadh sepanjang 1.500 kilometer dengan biaya sebesar US$7 miliar atau setara Rp116,72 triliun. Ini menunjukkan ambisi besar Arab Saudi dalam modernisasi transportasinya.

6. Korea Selatan: KTX dan SRT, Efisiensi Negeri Ginseng

Tak ketinggalan, Korea Selatan juga memiliki jaringan kereta cepat yang efisien bernama KTX. Dibangun sejak 1992 dan mulai beroperasi pada April 2004, KTX mampu melaju lebih dari 300 km per jam. Rute pertamanya menghubungkan Seoul dengan Busan, sebelum menjangkau kota-kota lain seperti Daegu, Gyeongju, hingga Jinju.

Selain KTX yang dioperasikan Korail, perusahaan swasta SR Corporation juga mengoperasikan kereta cepat SRT yang menghubungkan Seoul dengan Busan dan Mokpo. Biaya proyek kereta cepat di Korea Selatan bervariasi, berkisar US$10 juta-US$20 juta per km atau sekitar Rp167 miliar-Rp334 miliar per km.

Melihat deretan kereta cepat di berbagai belahan dunia ini, satu hal yang jelas: investasi pada transportasi publik berkecepatan tinggi adalah tren global. Meskipun tantangan finansial seperti yang dialami Whoosh kerap muncul, manfaat jangka panjang bagi konektivitas, ekonomi, dan mobilitas masyarakat seringkali menjadi pertimbangan utama. Setiap negara punya cerita dan strateginya sendiri dalam membangun masa depan yang lebih cepat dan terhubung. Whoosh hanyalah bagian dari narasi besar itu.

banner 325x300