Akhir-akhir ini, jagat maya dan obrolan warung kopi dihebohkan dengan isu panas seputar salah satu produk bahan bakar Pertamina. Banyak masyarakat menduga jika Pertalite, bahan bakar subsidi yang paling banyak digunakan, telah dicampur dengan kandungan etanol. Isu ini sontak memicu kekhawatiran, terutama setelah bermunculan banyak kasus motor bermasalah di wilayah Jawa Timur.
Gelombang keluhan datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Para pengendara sepeda motor melaporkan gejala aneh pada kendaraan mereka, mulai dari ‘brebet’ hingga performa yang menurun drastis. Kondisi ini tentu saja membuat banyak pemilik kendaraan harus membawa motornya ke bengkel untuk diperiksa dan diperbaiki.
Sontak, jari telunjuk publik mengarah pada satu tersangka utama: Pertalite. Muncul dugaan kuat bahwa bahan bakar dengan RON 90 ini telah dicampur dengan etanol, bahkan air, yang disinyalir menjadi biang keladi masalah mesin. Keresahan ini menyebar cepat, menciptakan pertanyaan besar di benak jutaan konsumen Pertalite.
Pertamina Buka Suara: Pertalite Murni, Bebas Etanol dan Air!
Menanggapi keresahan yang meluas ini, operator pelat merah, Pertamina, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan kesalahpahaman. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, tampil ke publik untuk memberikan klarifikasi tegas. Ia memastikan bahwa Pertalite sama sekali tidak memiliki kandungan etanol di dalamnya.
"Apakah Pertalite saat ini mengandung etanol? Tidak mengandung etanol," kata Ega, mengutip informasi pada Jumat (7/11). Pernyataan ini diharapkan dapat menenangkan kekhawatiran masyarakat yang selama ini terlanjur menduga adanya campuran zat asing dalam Pertalite.
Isu mengenai campuran air pada Pertalite pun turut dibantah keras oleh pihak Pertamina. Ega menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu yang beredar, sembari menekankan bila bahan bakar dengan RON 90 tersebut nihil campuran etanol maupun air.
Pihak Pertamina pun telah melakukan serangkaian pengujian terkait kandungan air dan kontaminan lainnya. Hasilnya, tidak ditemukan sama sekali indikasi adanya campuran air dalam Pertalite. "Kami juga melakukan pengecekan dengan standar visual clarity dan kejernihan warna daripada BBM untuk mengindikasi apakah ada kontaminan di dalam produk tersebut. Sejauh ini kami tidak menemukan indikasi hal tersebut," ucap Ega.
Lalu, Apa Itu Pertamax Green? Si ‘Hijau’ dengan Campuran Etanol Asli
Menariknya, di balik bantahan tegas mengenai Pertalite, Pertamina justru memiliki produk bahan bakar yang memang sengaja dicampur etanol. Bahan bakar dengan campuran etanol ini bukanlah hal baru bagi Pertamina, melainkan sebuah inovasi yang telah diperkenalkan sejak beberapa waktu lalu.
Sejak tahun 2023, Pertamina telah merilis bensin baru bernama Pertamax Green. BBM ‘hijau’ ini merupakan inovasi Pertamina yang menggabungkan Pertamax dengan 5 persen etanol. Etanol yang digunakan berasal dari molase tebu, menjadikannya bahan bakar nabati dengan bauran energi terbarukan.
Kombinasi cerdas ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berhasil meningkatkan kadar RON Pertamax Green menjadi 95. Angka ini lebih tinggi dari Pertamax biasa yang memiliki RON 92, menawarkan performa pembakaran yang lebih optimal untuk mesin kendaraan.
Pertamax Green sangat direkomendasikan untuk kendaraan dengan mesin berstandar Euro 4. Hal ini berkat kadar RON 95 dan kadar sulfur maksimalnya yang sangat rendah, yakni hanya 50 ppm, sesuai dengan standar emisi yang lebih ketat. Saat ini, harga Pertamax Green dibanderol Rp13.500 per liter, menawarkan pilihan BBM berkualitas tinggi bagi konsumen yang peduli lingkungan dan performa.
Perbedaan Mendasar: Pertalite vs. Pertamax Green
Jadi, jelas sudah perbedaan fundamental antara Pertalite dan Pertamax Green. Pertalite adalah BBM murni tanpa campuran etanol, yang kini telah dikonfirmasi langsung oleh Pertamina. Ini adalah bahan bakar subsidi yang dirancang untuk kebutuhan dasar mobilitas masyarakat.
Di sisi lain, Pertamax Green memang dirancang khusus dengan campuran etanol 5 persen, menjadikannya bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan dan memiliki oktan lebih tinggi. Produk ini ditujukan untuk segmen pasar yang mencari performa dan efisiensi lebih, serta mendukung energi terbarukan.
Masyarakat perlu memahami bahwa kedua produk ini memiliki peruntukan dan spesifikasi yang berbeda. Jangan sampai salah kaprah dan menyamakan keduanya, apalagi mengaitkan masalah mesin dengan kandungan etanol pada Pertalite yang sebenarnya tidak ada. Pemahaman yang benar akan membantu konsumen membuat pilihan yang tepat.
Pentingnya Memilih BBM yang Tepat untuk Kendaraanmu
Kasus motor brebet di Jawa Timur menjadi pengingat penting bagi kita semua akan satu hal: memilih jenis bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan adalah kunci utama untuk menjaga performa mesin dan menghindari kerusakan. Setiap kendaraan memiliki rekomendasi oktan (RON) yang berbeda, dan mengabaikannya bisa berakibat fatal.
Selalu perhatikan rekomendasi pabrikan kendaraan Anda terkait oktan atau RON yang dibutuhkan. Penggunaan BBM yang tidak sesuai bisa berdampak jangka panjang pada komponen mesin, mulai dari penumpukan karbon, knocking, hingga penurunan efisiensi bahan bakar. Ini tentu akan berujung pada biaya perawatan yang lebih tinggi.
Dengan klarifikasi dari Pertamina ini, diharapkan keresahan masyarakat terkait Pertalite dapat mereda. Penting untuk selalu mencari informasi dari sumber resmi dan tidak mudah termakan isu yang belum terverifikasi, terutama yang berkaitan dengan produk vital seperti bahan bakar.
Pertamina menegaskan komitmennya untuk menyediakan bahan bakar berkualitas dan sesuai standar. Jadi, mari bijak dalam memilih dan menggunakan BBM untuk kendaraan kesayangan kita, demi menjaga performanya tetap prima dan awet!


















